ラベル Sakura の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示
ラベル Sakura の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示

2018年4月2日月曜日

Merenungkan Paskah bersama Kahlil Gibran di Bawah Rindangnya Bunga Sakura


Masa Prapaskah dan puncaknya pada acara Paskah biasanya memang bertepatan dengan musim semi. Musim semi adalah satu dari 4 musim yang bisa dirasakan di negara-negara subtropis termasuk Jepang. Istimewanya, saat musim semi di Jepang, kita bisa menyaksikan bunga Sakura yang mekar di taman, di area perkantoran maupun di sudut2 jalan baik di kota maupun di desa.
Prapaskah dimulai dan ditandai dengan Rabu Abu, di mana manusia diajak untuk kembali merenungkan kembali bahwa dunia ini fana. Kita berasal dari abu dan kemudian akan kembali menjadi abu lagi. Rabu Abu mengajak umat untuk bertobat dan juga menjadi tanda bahwa keselamatan kekal datangnya hanya dari Allah.
Masa Prapaskah berlangsung selama 40 hari (sebenarnya 46 hari, namun tidak termasuk hari minggu), di mana umat dewasa (umur 18 tahun) sampai umur ke 60 wajib untuk berpuasa dan wajib pantang bagi umat yang berumur 14 tahun ke atas. Puasa dan pantang bagi umat Katolik hakikatnya bukanlah menahan lapar dan haus. Puasa dan pantang itu adalah tanda pertobatan, sekaligus sebagai penyangkalan dan perlawanan diri. 
Puasa dan pantang itu merupakan sedikit "pengorbanan" kita sebagai tanda untuk mempersatukan diri kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Puasa dan pantang haruslah dimaknai sebagai jalan dan sarana untuk menuju keselamatan. Umat juga diwajibkan untuk peduli kepada sesama melalui Aksi Puasa Pembangunan, di mana kita bisa menyisihkan uang yang biasa kita pakai membeli makanan atau kesenangan kita sendiri, untuk berbagi kepada mereka yang kekurangan.
Seminggu sebelum Paskah disebut masa Pekan Suci, yang dimulai dengan Minggu Palma, yaitu merayakan prosesi penyambutan Yesus yang memasuki Yerusalem. Minggu Palma dirayakan secara meriah, dimana umat membawa daun palma dan biasanya ada arak-arakan sebelum Pastor memasuki gereja.
Palma dan Sakura
Pekan Suci mencapai puncaknya pada Triduum/Tri hari suci yaitu hari Kamis Putih di mana Kristus merayakan Misa pertama, Jumat Agung di mana Yesus disalibkan, dan Sabtu Suci, hari terakhir dari Masa Prapaskah di mana Yesus terbaring di Makam sebelum kebangkitan-Nya pada hari Minggu Paskah. Menurut Paus Fransiskus, Triduum merupakan pusat "iman dan panggilan kita di dunia".
Yang menarik, pada hari Kamis Putih Pastor akan membasuh kaki umat seperti Yesus juga membasuh kaki ke 12 murid-Nya. Di Indonesia biasanya juga ada 12 orang wakil umat yang dipilih untuk dibasuh kakinya. Di Jepang, jumlahnya tidak selalu 12 orang. Minggu lalu, hanya ada 5 orang saja yang kakinya dibasuh. Acara pembasuhan kaki ini merupakan simbol ajaran bahwa kita juga harus melayani semua orang, tanpa memandang apapun status orang tersebut.
Jumat Agung merupakan peringatan untuk mengenang Yesus wafat di kayu salib di Bukit Golgota. Pada hari itu biasanya ada ibadat Jalan Salib. Yesus bersabda demikian ketika Dia disalibkan "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." [Luk 23:34]. Sabda Yesus ini mengandung arti pengampunan dan cinta kasih sejati kepada semua orang, bahkan kepada orang yang telah menyalibkannya. Cinta kasih sejati ini juga merupakan inti dari iman umat kristiani.
Kematian Yesus di kayu salib itu bukanlah akhir, tapi merupakan awal dari penyelamatan manusia. Seperti juga ditulis oleh Kahlil Gibran pada bukunya yang berjudul Yesus Anak Manusia, "Sekali lagi kukatakan bahwa dengan kematian Yesus mengalahkan kematian, dan suatu roh dan kekuatan bangkit dari kubur."
Hari Paskah merupakan puncak dari misteri-Paskah yaitu sengsara-Nya yang suci, wafat dan kebangkitan-Nya dari alam maut, dan kenaikan-Nya dalam kemuliaan. Paskah merupakan simbol kemenangan atas maut dan membangun kembali hidup kita dengan kebangkitan-Nya. Kita menjadi terlahir baru kembali.
Lahir kembali seperti juga musim semi dengan banyaknya tumbuhan yang lahir kembali dengan tumbuhnya tunas daun yang baru menggantikan daun yang rontok di musim gugur. Musim semi juga ditandai dengan bunga yang mulai tumbuh di taman dan sudut-sudut kota.
Paskah yang selalu bertepatan dengan musim semi dan mekarnya sakura ini seolah hendak mengingatkan kita bahwa hidup itu indah, seperti masyarakat yang terkesima akan keindahan pada kelopak bunga sakura yang berwarna putih dan pink yang sedang mekar. Namun disamping keindahannya, bunga sakura hanya bisa tahan dalam hitungan hari. Hal ini juga sekaligus bisa merefleksikan juga akan kehidupan manusia di dunia ini adalah fana belaka.
Telur Paskah dan Sakura
Oleh karena itu, dalam hidup sebaiknya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan tentunya bagi sesama. Di zaman serba terbuka dan informasi bisa dengan mudah didapat saat ini, tentunya kita harus menggunakan akal dan terutama mengendalikan nafsu dalam berinteraksi dengan sesama.
Seperti yang dikatakan oleh Kahlil Gibran dalam bukunya yang berjudul Sang Nabi: "Akalmu dan nafsumu adalah kemudi dan layar dari jiwamu yang gemar berlayar di laut. Jika layarmu atau kemudimu patah, kamu hanya bisa oleng dan terseret arus, atau kalau tidak, diam tak bergerak di tengah samudra. 
Akan halnya akal, karena mengatur sendirian, adalah suatu kekuatan penahan; dan nafsu, tak diawasi, adalah satu lidah api yang membakar ke arah kehancurannya sendiri. Karena itu biarkan jiwamu mengangkat akalmu sampai ke ketinggian nafsu,sehingga dia bisa bernyanyi. Dan biarkan dia mengarahkan nafsumu dengan akal, sehingga nafsumu dapat hidup melalui kebangkitannya setiap hari, dan seperti burung phoenix bangkit diatas abunya sendiri."
Semoga dengan momentum Paskah, kita bisa juga bangkit dan memulai hidup baru dengan berbagi cinta kasih kepada sesama, baik di lingkungan rumah, kantor, sekolah dan dimanapun kita berada. Karena dengan berbagi cinta kasih, sebenarnya Tuhan juga hadir disana. Seperti ketika Dia karena cinta kasih, rela mengorbankan dirinya wafat di kayu salib.
"Karena jika kamu ingin mengenal Tuhan, jangan berusaha memecah teka-teki. Alih-alih pandanglah seputarmu dan akan melihat Dia sedang bermain dengan anak-anakmu. Dan pandanglah ke angkasa; kamu akan melihat Dia tengah berjalan dalam awan, sambil merentangkan lengan-Nya dalam halilintar dan turun dalam hujan. Kau akan melihat-Nya tersenyum dalam bunga-bunga, lalu naik dan melambaikan tangan-Nya dalam pepohonan." ---Sang Nabi, Kahlil Gibran
Selamat Paskah.

2017年3月25日土曜日

5 spot alternatif di Tokyo untuk menikmati Sakura

Musim sakura memang bukan hanya ditunggu-tunggu oleh orang Jepang saja, melainkan juga oleh para pelancong dari perbagai penjuru dunia yang sedang berkunjung di Jepang. Di Tokyo, ada beberapa tempat yang terkenal(mainstream) akan spot sakuranya, misalnya di ueno park, chidorigafuchi, shinjuku gyoen dan yang lainnya. Tempat-tempat seperti ini sudah pasti akan dipadati oleh pengunjung,sehingga anda tidak leluasa untuk mengambil photo, bahkan untuk berjalan menikmatinya.


Saya mencoba memberikan beberapa alternatif spot sakura yang masih bisa dinikmati karena pengunjungnya relatif sedikit, atau karena luas daerah maupun karena kondisinya memungkinkan kita untuk menikmatinya.

1. Kuil Ryodaishi Kaisando

Jika anda ke Ueno Park, maka anda akan terkejut karena begitu banyaknya pengunjung disana. Anda mungkin bisa kewalahan untuk sekedar berjalan mengitari taman, karena banyaknya orang-orang yang bergerombol menggelar tikar untuk menikmati sakura. Namun jika anda berjalan dari spot ini kira-kira 600 meter ke arah utara, anda bisa mendapati kuil ini dan menikmati sakura karena disini tidak sepadat di spot utama. Kuil ini sebenarnya merupakan bagian dari kuil utama Kan-eiji di dekat danau shinobazu di Taman Ueno. Suasana di kuil ini dapat membawa anda ke masa-masa era Tokyo masih dipanggil dengan nama Edo. Contohnya, di pintu gerbang berwarna hitam di area ini, anda dapat menemui bekas peluru yang ditembakkan di masa Ueno Sensou ( perang Ueno ).
Jenis sakura yang ditanam ada bermacam-macam, dan anda bisa menemui juga jenis ShidareZakura yang menjulur indah.

Anda bisa mengakses nya dengan keluar dari Park Gate di Stasiun Ueno JR Yamanote Sen, kemudian berjalan ke arah kanan melewati National Museum of Nature Science. Tidak ada pungutan biaya disini, alias gratis.

2. Yanaka Reien



Yanaka reien atau Yanaka bocchi merupakan komplek pemakaman yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Di Jepang memang banyak pohon sakura yang ditanam di komplek pemakaman. Di Tokyo, selain Yanaka, komplek pemakaman sekaligus spot sakura bisa ditemui juga di Tama Reien maupun Aoyama Reien. Di komplek pemakaman Yanaka di bagian tengah, kita bisa menemukan Terowongan Sakura ( Sakura Tunnel ) karena pohon sakura yang di tanam di kanan kiri jalannya ranting bunganya yang lebat saling bertemu dan membentuk kuva sehingga menyerupai terowongan. Bagi anda yang suka kereta api ( baik melihat atau sekedar memfotonya ), anda bisa memotret kereta yang sedang berlalu-lalang di Jalur Yamanote Line, Keihin Tohoku line dari sisi belakang komplek makam yang menyerupai lembah. Bahkan dari jembatannya anda bahkan bisa melihat Tohoku maupun Jouetshu Shinkansen.

Didekat nya ada daerah Yanaka Ginza yang merupakan jalan yang sempit yang berisi banyak toko-toko yang menjual baik makanan, minuman maupun barang pernak-pernik yang bisa dibeli sebagai souvenir. Anda juga bisa menjumpai patung kucing yang merupakan simbol di atap toko-toko yang berjejeran di sini.

Daerah ini bisa diakses melalui Stasiun Nippori di jalur JR Yamanote Line.

3. Roppongi Hills dan Tokyo Midtown



Kalau anda ingin melihat perpaduan antara bunga sakura dan gedung-gedung tinggi, disinilah tempatnya. Anda bisa melihat suasana perkotaan dipadu dengan bunga sakura disini. Karena spot ini ada di pusat kota maka tidak ada orang yang menonton sakura duduk bergerombol dengan alas tikar seperti di tempat lainnya, sehingga anda bisa leluasa menikmati sakura sambil berjalan kaki. Di malam hari, anda bisa melihat perpaduan antara sakura dengan lampu-lampu hias ( light up ) yang indah. Di Roppongi anda juga bisa mengunjungi Taman Mori Teien, suatu taman yang merupakan peninggalan dari seorang daimyo yang bernama Morikai no Kami di Jaman Edo ( sebutan tokyo jaman dahulu ). Selain itu anda juga bisa mengunjungi observation deck Tokyo City View yang berlokasi di lantai teratas Roppongi Hills , maupun Mori Art Museum.

HTM untuk Tokyo City view adalah 1800 yen ( plus 500 yen bila anda ingin naik ke atap luar ), dan Mori Art Musemadalah sebesar 1800 yen.

Daerah ini bisa diakses dari Stasiun Roppongi di jalur Subway Hibiya Line atau Oedo Line.

4. Shiba Koen




Shiba Koen atau Taman Shiba berjarak hanya 100m dari Tokyo Tower. Taman ini merupakan salah satu taman tertua di Metropolitan Tokyo. Disini anda bisa menikmati Sakura dengan berlatar belakang Tokyo Tower. Di taman ini juga ada beberapa bangku yang tersedia, sehingga kita bisa duduk sambil menikmati sakura. Ada kurang lebih 200 pohon sakura yang ditanam tersebar di area taman ini. Anda juga bisa berkunjung ke Kuil Zojoji yaitu kuil tempat makam keluarga Shogun Tokugawa. Di lantai bawah kuil ini ada ruang pamer khusus dan anda bisa melihat miniatur komplek bangunan di kuburan ini sebelum hangus terbakar di masa PDII. Komplek bangunan itu dulunya merupakan prototype dari Nikko Toshogu di daerah Nikko, yang merupakan salah satu dari World Heritage. HTM masuk ke ruang pamer khusus adalah 700 yen. Bila anda juga ingin melihat komplek kuburan keluarga Shogun Tokugawa dari dalam, anda bisa membeli HTM terusan sebesar 1000 yen.

Taman ini bisa diakses dari Stasiun Shiba Koen di jalur Subway Oedo Line.

5. Megurogawa



Megurogawa atau Sungai Meguro adalah sungai yang terbentang sepanjang 4Km di daerah Meguro. Karena di tempat ini tidak dibolehkan orang menggelar alas/tikar disepanjang pinggiran sungai untuk menikmati sakura, maka anda bisa leluasa berjalan di sisi kanan atau kiri sungai. Disini ada sekitar 800 pohon sakura yang ditanam. Di tempat tertentu anda bisa menemukan jembatan,
sehinga kita bisa menikmati ataupun mengambil gambar sakura dari jembatan ini. Jika anda lapar atau haus, maka anda bisa mampir di beberapa kafe yang ada disekitar daerah ini. Di malam hari ada lampu penerangan yang dipasang untuk menambah kenikmatan anda menikmati sakura.

Akses ke daerah ini bisa melalui Stasiun Nakameguro di jalur Tokyu Toyoko Line atau melalui Stasiun Meguro di jalur JR Yamanote Line atau Subway Toei Mita Line.

2017年3月17日金曜日

Sakura : Melintasi Ruang dan Waktu menyambut musim semi


Kelopak Bunga Sakura
Bunga Sakura


Jepang memang memiliki magnet daya tarik tersendiri, selain dengan banyaknya kemajuan teknologi yang telah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Jepang juga masih menjaga dengan baik identitas budaya mereka yang sudah diturunkan selama lebih dari ratusan tahun yang lalu. Ditambah lagi Jepang adalah negara dengan 4 musim, maka mereka memiliki beragam kebudayaan yang berbeda-beda di setiap musim dan juga di setiap daerah yang sangat unik dan menarik, yang tentunya sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Di akhir bulan Maret (sekitar tanggal 20 atau 21 setiap tahunnya), ada hari libur nasional yang disebut shunbun (vernal equinox), dimana waktu siang dan malam hari adalah sama panjangnya (waktu cahaya matahari bersinar sama panjangnya dengan waktu setelah matahari tenggelam). Ini juga menjadi pertanda bahwa musim dingin telah berakhir dan musim semi segera tiba.




Pohon Sakura di pinggir kali
Pohon sakura banyak juga yang ditanam di pinggir kali
Awal musim semi juga ditandai dengan mekarnya bunga sakura. Sakura biasanya akan mulai mekar di akhir bulan Maret setiap tahun. Di Jepang, mekarnya bunga sakura berawal dari daerah Jepang selatan (Pulau Kyushu) lalu bergerak ke arah utara ke daerah Chubu, Kansai, Kanto, Tohoku kemudian akan berakhir di Pulau Hokkaido di utara. Pergerakan mekarnya bunga sakura dari selatan ke utara ini bisa dengan mudah kita ikuti infonya melalui media (biasa disebut sakurazensen). Dibutuhkan waktu kurang lebih satu bulan untuk pergerakan ini. Sehingga bila kita ingin melihat sakura yang sedang mekar dengan tepat, lebih baik bila kita check info tersebut sebelumnya,untuk mengurangi kekecewaan kita karena tidak pas dalam menentukan lokasi spot sakura.







Pohon Sakura dekat komplek perumahan
Pohon Sakura dekat komplek perumahan

Bunga sakura sendiri setelah puncak atau maksimal mekarnya, hanya bisa bertahan selama 2 atau 3 hari. Bila kita mengunjungi spot sakura dan timing kita tidak pas disaat puncak mekarnya sakura tersebut, kemungkinan besar sebagian bunga sudah rontok ataupun sebagian batang pohonnya sudah tumbuh daun-daun yang berwarna hijau muda (situasi ini biasa disebut hazakura).

Namun bagi orang Jepang sendiri, keindahan sakura itu tidak harus melulu dinikmati ketika bunganya sedang mekar. Mereka juga sangat menikmati suasana dikala bunga-bunga sakura sedang bergururan, terutama bila bergururannya bunga sakura karena angin bertiup (biasa disebut sakura fubuki). Suasana bunga sakura yang berguguran dan kembali ke ketanah ini juga banyak dengan indahnya ditulis di dalam prosa-prosa dan puisi lama jaman dahulu. Bunga sakura bagi masyarakat Jepang adalah kehidupan itu sendiri. Filosofinya, mekarnya bunga sakura melambangkan pertemuan atau kelahiran, dan gugurnya bunga sakura melambangkan perpisahan atau kematian. Didalam kehidupan, dimana ada pertemuan disitu selalu akan ada perpisahan dan akan berulang demikian terus menerus. Mereka meng-analogikan ini dengan reinkarnasi.

Bunga sakura juga menjadi perlambang sesuatu yang mistis dan sakral. Mereka beranggapan bahwa dimana ada bunga sakura yang bermekaran, maka disitu akan hadir ruang sakral di dunia kita yang fana ini. Ada satu cerita tentang spot sakura yang sangat terkenal di Jepang yaitu di Yoshinoyama (salah satu dari world heritage di Jepang), yang merupakan pegunungan yang dipenuhi dengan bunga sakura. Awalnya, sebelum ada sakura, ditempat ini ada kuil yang patung dewanya diukir dengan menggunakan pohon sakura. Semenjak itu sakura disakralkan sebagai wujud dari dewa tersebut, sehingga masyarakat berbondong-bondong untuk menanam sakura di sekitarnya. Seiring dengan berjalannya waktu, makin banyak orang yang menanam sakura di pegunungan tersebut untuk mendapat kekuatan dan berkah dari dewa tersebut. Sebagai akibatnya, sekarang jumlah pohon sakuranya bisa dilihat di seluruh area gunung .
Pohon Sakura di Megurogawa dihiasi lampu
Pohon Sakura di Megurogawa dimalam hari dihiasi lampu

Seperti pohon kelapa yang banyak ditemukan di daerah tropis dan kita tahu banyak manfaatnya karena hampir seluruh bagian dari pohon kelapa bisa dimanfaatkan, pohon sakura juga punya manfaat atau kegunaan yang tidak kalah dengan pohon kelapa. Bunganya, banyak dibuat untuk bahan minuman dan makanan misalnya teh sakura, sakuramochi, maupun bunga yang diawet kan dengan menggunakan garam yang biasa ditaruh diatas nasi putih hangat untuk dimakan maupun sebagai teman untuk meminum sake. Karena kekerasan strukturnya, pohon atau ranting sakuranya sendiri banyak digunakan untuk bahan bangunan, perabot rumah tangga maupun untuk pembuatan barang-barang souvenir. Dan terakhir, kulitnya bisa digunakan untuk ramuan obat-obatan.

Salah satu kegiatan yang tidak bisa dilepaskan saat orang Jepang menonton bunga sakura (ohanami) adalah makan dan minum serta bernyanyi (karaoke). Kita dapat dengan mudah menyaksikan atau menjumpai group dari orang-orang Jepang yang melakukan ini dibawah atau tempat sekitar spot bunga sakura. Kebiasaan inipun sebenarnya sudah dimulai sejak ratusan tahun yang lalu, terutama yang paling meriah dan terkenal adalah di era Daimyo Toyotomi Hideyoshi, yang mengadakan acara ini di Yoshinoyama, gunung yang telah saya sebut di alenia atas.

Kelopak Bunga Sakura yang jatuh setelah hujan
Kelopak Bunga Sakura yang jatuh setelah hujan
Kalau anda punya waktu dan ingin menikmati sakura di musim semi tahun ini, silahkan check info mengenai mekarnya bunga sakura di internet sebelum anda menginjakkan kaki di Jepang. Siapa tahu, dari ratusan jenis sakura yang dapat ditemui di seantero Jepang selama sebulan awal musim semi ini, anda bisa bertemu dengan sakura pilihan anda yang special, terlebih jika anda dapat merasakan ucapan salam pertemuan darinya di awal musim semi ini khusus untuk anda , yang bisa jadi kenangan sepanjang hidup anda nanti.