ラベル 寺社仏閣 の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示
ラベル 寺社仏閣 の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示

2018年7月12日木曜日

Napak Tilas Basho ke Yamadera, Perjalanan ke "Jagat Raya"

Sebagian dari Yamadera
Di Jepang, musim panas memang musim yang mengasyikkan karena kita bisa menikmati festival musim panas yang banyak diadakan di seantero Jepang. Tentu saya juga suka dan menikmati musim panas. Hanya saja, saya tidak begitu suka hawa panasnya karena kelembapan yang tinggi, sehingga keringat akan selalu mengucur deras serasa mandi uap walaupun kita berjalan di bawah teduhnya pepohonan.
Pada musim panas beberapa tahun yang lalu, saya melakukan perjalanan keliling daerah Tohoku, Jepang utara. Ada beberapa hal yang mendorong saya untuk melakukan perjalanan kesana.
Pertama, karena saya suka fotografi, memang saya sering berkeliling untuk sekedar mencari spot yang menarik untuk difoto. Tohoku sudah saya kenal sejak lama dari foto-foto yang bertebaran di internet, maupun yang saya lihat di majalah fotografi. Dari suasana yang terlihat dan rasakan dari foto-foto tersebut membuat saya kepingin mengunjunginya.
Kedua, dan yang membuat saya kemudian mempunyai keinginan yang amat sangat menggebu untuk pergi ke sana adalah, karena saya melihat foto-foto yang diambil oleh Michael Yamashita --seorang fotografer Amerika keturunan Jepang-- berkeliling di daerah Tohoku.
Suasana alam di sekitar Yamadera
Dia kemudian merilis foto yang diambil di perjalanannya dalam seri foto Basho's Trail. Saya langsung berkeinginan untuk "meniru"-nya, melakukan napak tilas perjalanan yang pernah dilakukan oleh Basho.
Basho, kependekan dari Matsuo Basho, merupakan penyair Haiku (Haikai) yang terkenal di era Edo awal. Basho bukan nama sebenarnya, melainkan nama yang dipakai dalam karya Haiku-nya. Nama aslinya adalah Munefusa (lengkapnya Matsuo Munefusa). Dia melakukan perjalanan di mana salah satu tempat yang disinggahi adalah daerah Tohoku, yang kemudian membukukan catatan perjalanannya dalam buku yang diberi judul Oku no Hosomichi
Di buku itu juga dia menuliskan banyak Haiku, yang kemudian menjadi dikenal dan populer di masyarakat sampai saat ini. Saya pernah mengambil satu semester mengikuti perkuliahan yang membahas karya Haiku dalam buku Oku no Hosomichi tersebut, walaupun sastra bukan bidang saya.
Salah satu bagian tangga menuju puncak (Dokumentasi Pribadi)
Salah satu bagian tangga menuju puncak
Karya Haiku dalam buku tersebut memang unik karena topik utamanya adalah tentang alam dan keindahannya, yang berlawanan 180 derajat dengan Haiku mainstream di masa itu yang kebanyakan mengusung tema gemerlap kemewahan. Deretan kata dalam karya Haiku dari Basho memang terlihat sederhana, namun mempunyai makna yang dalam.
Saya kemudian berpikir, dengan membacanya saja sudah bisa merasakan "keindahan" dan "makna" mendalam yang tersirat pada Haiku-nya. Apalagi kalau bisa mengunjungi langsung tempat-tempat dimana Basho menemukan inspirasi untuk menulis itu. Tentunya, "sensasi"-nya bisa bertambah. Dan ini merupakan alasan ketiga saya untuk mengunjungi Tohoku.
Di sini saya ingin bercerita tentang Yamadera, salah satu tempat di Tohoku yang pernah disinggahi Basho dan juga salah satu tempat dimana Basho mendapat inspirasi dan melahirkan satu Haiku yang terkenal yang berbunyi :
"shizukasaya,iwanisimiiru,seminokoe"
Yamadera kalau diterjemahkan secara bebas artinya adalah Kuil Gunung. Nama asli dari Yamadera adalah "Houjusan Rissyakuji." Tempat ini dibangun oleh Biksu yang bernama En-Nin atas perintah dari Kaisar Seiwa. Seluruh gunung adalah bagian dari kuil, dimana ada sekitar 30 kuil kecil yang terpisah satu sama lain di area sekitar 109 hektar. Ada sekitar 1000 lebih tangga batu dari pintu masuk (san-mon) sampai bagian kuil yang berada di puncak gunung yang disebut Oku-no-in. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk bisa mencapai puncak gunung.
Jalan bebatuan di area Yamadera
Letak Yamadera di prefektur Yamagata, yang berjarak kurang lebih 380 Km di utara Tokyo. Walaupun saat saya ke sana waktu musim panas, namun berbeda dengan Tokyo, di Yamagata tidak terasa panas dengan kelembapan tinggi. Mungkin karena saya berada di Yamadera yang memang merupakan sebuah gunung dengan banyak pepohonan yang tumbuh disitu sehingga banyak menghasilkan negative ion yang agak menyejukkan.
Tidak susah untuk mengunjungi Yamadera, karena untuk aksesnya kita bisa menggunakan kereta api. Stasiun terdekatnya bernama Yamadera juga, dan dari sini kita bisa berjalan kaki melewati sungai dan menikmati pemandangan alam, karena memang Yamadera letaknya jauh dari keramaian pusat kota. Kita bisa menemukan beberapa toko, dan juga warung yang menjual makanan sepanjang perjalanan dari stasiun. 
Sehingga kalau yang suka kuliner, bisa sambil mencicipi makanan khas daerah Yamagata seperti tama-konyaku (makanan dari tepung atau sari ubi yang kenyal) atau imoni (ubi yang direbus dengan daging dan sayuran).
Konponchuudou (Dokumentasi Pribadi)
Konponchuudou
Perjalanan di Yamadera dimulai dari pintu masuk gunung yang disebut touzanguchi. Di sini ada bangunan yang bernama Konponchuudo. Bangunannya mempunyai struktur atap yang disebut Irimoya-dzukuri, yang kerap kita jumpai pada bangunan kuil-kuil di Jepang. Yang membuat bangunan ini istimewa adalah, Konponchuudo di Yamadera merupakan bangunan tertua di Jepang yang dibuat dengan bahan kayu Buna (Fagus crenata). Karena itu bangunan ini ditetapkan sebagai salah satu dari National Treasure.
Di dalamnya, kita juga bisa melihat patung Yakushi Nyourai Zazou (Buddha duduk) yang dibuat oleh pendiri kuil dan Houto yang merupakan lentera yang (dibuat dan dijaga agar) tidak pernah padam sejak ratusan tahun yang lalu.
Kemudian berjalan beberapa meter dari Konponchuudo, ada toko kecil dan di situ tersedia beberapa bangku untuk tempat beristirahat. Karena banyak pohon yang besar, maka pengunjung tidak perlu takut kepanasan dan bisa makan camilan sambil beristirahat sebentar untuk mengisi tenaga sebelum naik ke puncak gunung. Saya juga beristirahat sebentar disini sambil membeli air mineral, untuk berjaga-jaga kalau nanti merasa haus dalam pendakian. 
Di dekatnya kita bisa menemukan patung Matsuo Basho dan prasasti batu dengan pahatan Haiku seperti yang saya tulis pada paragraf di atas.
Pemandangan ke bawah dengan Noukyoudou di kanan atas (Dokumentasi Pribadi)
Pemandangan ke bawah dengan Noukyoudou di kanan atas
Pendakian yang sebenarnya bermula dari gerbang Yamadera yang disebut san-mon. Di sini kita membayar biaya masuk sebesar 300 yen untuk naik ke atas gunung. Setelah melalui san-mon, tangga yang memanjang ke atas sudah menanti. Yamadera merupakan gunung cadas, dan dalam pendakian kita bisa menemukan banyak batu yang besar di sisi kiri dan kanan jalan yang kita lalui. 
Sebenarnya tidak semua jalan pendakian ke atas melalui tangga buatan, karena di beberapa tempat kita juga menemukan batu-batu yang memang sudah ada secara alami dan bisa kita gunakan untuk pijakan jalan. Karena ada lebih dari 30 buah kuil kecil yang terpisah, maka di beberapa tempat kita juga bisa berjalan menyamping menyusuri gunung untuk melihat beberapa dari kuil itu.
Kuil kecil di dalam lubang (Dokumentasi Pribadi)
Kuil kecil di dalam banyak gua
Tentu tidak semua kuil bisa kita kunjungi sekarang, karena ada beberapa yang lokasinya amat sangat sulit dicapai oleh orang "biasa." Beberapa dari kuil kecil ini ada dalam galian lubang di badan gunung, bahkan ada juga beberapa yang bertengger di tempat curam. Hal ini adalah biasa, karena memang Yamadera dahulunya digunakan sebagai tempat untuk penggemblengan orang-orang yang ingin menjadi obousan (biksu).
Sehingga mereka harus berjuang supaya lolos ujian dengan berjalan ke kuil-kuil yang letaknya amat susah dijangkau itu. Saat ini beberapa dari kuil ditutup untuk kunjungan, karena lokasinya berbahaya, terlebih beberapa juga sudah menelan korban karena jatuh di masa lalu.
Kira-kira di pertengahan jalan, kita bisa menemukan batu besar yang tingginya 4.6 meter yang disebut Midabora, yang bentuknya dikatakan mirip Amidanyourai (Buddha). Di sini banyak diukir nama orang yang telah meninggal, karena menurut kepercayaan setempat, arwah orang yang sudah meninggal akan kembali ke Yamadera.
Godaidou (Dokumentasi Pribadi)
Godaidou
Sebelum mencapai puncak gunung, ada tempat favorit yang saya suka di Yamadera yaitu bangunan yang bernama Godaidou. Dari sini kita bisa melihat pemandangan panorama keadaan sekeliling Yamadera.
Rasa penat karena naik ratusan tangga hilang dengan sekejap karena terbayar dengan pemandangan indah yang bisa kita saksikan. Bangunan Godaidou ini semua terbuat dari kayu (termasuk juga semua bangunan lainnya), dan letaknya menjorok ke depan. Walaupun dari kayu, hebatnya bangunan ini masih berdiri kokoh semenjak ratusan tahun yang lalu.
Di sebelahnya ada Kaisandou, yang di dalamnya ada patung kayu dari En-nin, Biksu yang membuka Yamadera. Di depan patungnya ditaruh dupa setiap pagi dan sore, dan masih dilakukan sampai sekarang.
Di halaman Kaisando ada Noukyoudou, yang merupakan bangunan tertua di Yamadera, yang digunakan untuk tempat menyimpan O-kyou (sutra). Warna merah Noukyoudou yang mencolok menjadikannya sebagai salah satu objek fotografi yang tidak bisa dilewatkan.
Akhirnya, pendakian berakhir di puncak gunung ketika kita sampai di bangunan yang bernama Oku-no-in. Kebetulan cuaca cerah ketika saya berkunjung ke sana. Suara serangga terdengar nyaring bersahutan karena memang di Jepang, serangga banyak yang mengeluarkan bunyi ketika musim panas.
Saya merenungkan kembali makna dari Haiku Basho di puncak gunung ini. Terjemahan bebas dari Haiku-nya adalah "di dalam keheningan, suara serangga masuk ke dalam batu". Kenapa Basho mengatakan hening, padahal Basho kesini saat musim panas juga. Jadi dia pasti sama keadaannya seperti saya saat itu, mendengar banyak suara serangga (bahkan waktu itu mungkin lebih berisik).
Oku-no-in (Dokumentasi Pribadi)
Oku-no-in
Kemudian saya melihat langit yang terasa begitu dekat di atas karena memang saya berada di puncak tertinggi gunung. Cuaca cerah ketika saya berkunjung dan langit yang biru membentang di atas kepala menambah rasa kedekatan itu.
Lalu saya berpikir, mungkin saat Basho sampai di puncak gunung seperti saya sekarang ini, dia (merasa) "terbang" dan kemudian merasakan keheningan yang mendalam dari "atas sana", walaupun "di bawah" banyak serangga yang berbunyi. Pastinya skala ukuran yang dia pakai ketika merasakan "keheningan" itu bukan lah dunia, melainkan sudah melampaui itu, bahkan sampai ke jagat raya.
Kita memang sering menjadi seperti serangga yang berbunyi riuh rendah dalam hidup sehari-hari di dunia. 
Namun mungkin ada saatnya kita harus menarik diri dari keriuh rendahan ini, untuk merasakan kesunyian, yang dimensinya jauh dan melampaui keriuh rendahan itu sendiri. Dan melalukan hal-hal yang tidak melulu duniawi, dengan cara yang bisa dipilih oleh masing-masing orang menurut kemampuannya.
Pemandangan panorama dari Godaidou (Dokumentasi Pribadi)
Pemandangan panorama dari Godaidou

2017年11月27日月曜日

Keindahan Momiji di Musim Gugur dan "Rasa" Orang Jepang

Musim Gugur di Kuil Kuhonbutsu Joushinji
Momiji adalah kata yang sering terucap di musim gugur. Kata ini adalah untuk menggambarkan daun-daun yang berwarna-warni terutama warna merah dan kuning. Kata momiji ini sebenarnya berasal dari kata momiizu (memeras,melumat), yang merupakan bagian dari salah satu proses untuk membuat warna dengan cara memeras bunga Benibana (Carthamus tinctorius). Benibana yang diperas/dilumat di air dingin dengan pH normal menghasilkan warna kuning, dan jika diperas di air dengan pH tinggi maka akan menghasilkan warna merah.
Kata momiizu ini, seiring dengan berjalannya waktu, berubah menjadi momiji. Seperti kita tahu, warna momiji memang sebagian besar adalah merah dan kuning. Lalu ada istilah momijigari, yang berarti pergi ke suatu tempat (misalnya ke gunung atau taman) untuk melihat dan menikmati momiji.
Kuil Shoutengu Saikouji di Mino, Oosaka
Negara dengan 4 musim
Jepang adalah negara yang mempunyai 4 musim. Masing-masing musim sangat unik dan punya ciri khas tersendiri.
Musim semi (haru) adalah musim dimulainya kehidupan baru setelah musim dingin yang panjang. Mulai tumbuhnya dedaunan yang berwarna hijau, dan bermekarannya bunga-bunga melambangkan dimulainya kehidupan itu sendiri. Kegembiraan adalah lambang dari musim semi, dimana masyarakat berbondong-bondong pergi untuk melihat keindahan bunga, bergembira dan bersuka-ria sambil makan dan minum. Kebiasaan ini disebut ohanami, yang umumnya digunakan sebagai istilah untuk melihat dan menikmati bunga Sakura, yang merupakan simbol musim semi.
Musim panas (natsu) dengan suhu udara yang tiggi dan lembab serta banyaknya aktivitas yang terjadi di masyarakat misalnya dengan banyaknya festival atau perayaan yang dilaksanakan di kuil ataupun di tempat umum, melambangkan kekuatan serta energi yang dimensinya agak lain dari musim semi.
Musim dingin (fuyu) dengan hamparan salju putihnya yang luas membentang sejauh mata memandang, melambangkan kesunyian dan kesendirian.
Lalu, bagaimana dengan musim gugur (aki) ?
Pohon Ichou di Joushinji Kouin
Musim gugur dan perasaan orang Jepang
Berbeda dengan musim yang lain, keindahan musim gugur mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan yang utama adalah ditandai dengan bermunculannya momiji, yang dimulai dari utara di Pulau Hokkaido, karena pergerakan suhu udara yang dingin dimulai dari daerah ini. Kemudian momiji sedikit demi sedikit bergeser ke arah selatan, dimulai dari Tohoku, lalu ke Kanto, Chubu dan seterusnya ke arah Kyushuu.
Disatu sisi, momiji sangat indah dan keindahannya bisa membuat kita berdecak kagum. Namun di lain sisi, sewaktu kita melihat momiji, kita sekaligus diingatkan bahwa musim dingin yang sepi dan panjang akan segera tiba.
Keindahan musim gugur memang sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata. Warna-warni momiji memang terlihat sangat memikat. Warna dari momiji bisa seperti itu karena semua faktor pendukungnya (misalnya kontras suhu udara di siang dan malam hari) terpenuhi.
Momiji berguguran di Kolam ikan di Tonogayato Park
Daun-daun pepohonan yang berwarna merah, kuning, dan warna lainnya bergetar diterpa tiupan angin. Daun yang berwarna-warni ini bak origami, dimana ada daun yang kuat bertahan di rantingnya, namun ada juga daun yang tidak kuat lalu jatuh perlahan ke pelukan bumi bersama angin. Dimusim ini, seperti kain nishiki tanmono yang indah, dunia seperti dilukis dengan alam sebagai kuas dan sekaligus kanvas nya.
Namun, bagi orang Jepang, bukan warna-warni itu yang penting. 
Ungkapan perasaan orang Jepang dengan kebiasaan dan budaya mereka untuk menikmati musim gugur dengan mata-lah yang terpenting. Kebiasaan melihat dan menikmati momiji mungkin menjadi salah satu sifat khas dari orang Jepang.
Orang Jepang memang dari jaman dahulu kala suka akan musim gugur, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Misalnya saja, suara angin yang menerpa dedaunan, atau sinar matahari yang bersinar dengan sudut yang lebih kecil/rendah (dibandingkan dengan musim panas) yang menyebabkan bayangan benda menjadi lebih panjang sekaligus sinar mataharinya terasa hangat namun tidak begitu menyengat kulit.
Masyarakat berbondong-bondong melihat momiji di Toufukuji, Kyoto 
Kesukaan orang Jepang akan musim gugur, salah satunya sebabnya adalah rasa tenang/aman yang dapat mereka rasakan karena musim panas yang "menyiksa" dengan suhu dan kelembapan tingginya sudah lewat. Namun, ada juga sedikit perasaan "nostalgia" yang mereka rasakan. Karena mereka juga tahu, musim dingin yang sepi dan panjang akan segera tiba. Perasaan itu sudah bisa dirasakan di dalam memori mereka setiap tahun.
Itulah sebabnya sebelum memasuki musim dingin, mereka menenangkan perasaanya dengan menikmati keindahan momiji, yang hanya bisa mereka lalukan di musim gugur.
Musim gugur di kuil Takahata Fudou
Musim gugur dan seni serta budaya
Musim gugur di Jepang disebut juga sebagai musim seni serta budaya.
Kita bisa dengan mudah menemukan pertunjukan berbagai macam kesenian, mulai dari yang tradisional seperti pertunjukan Noh, Kabuki, musik gagaku , maupun seni modern seperti konser musik, mulai dari musik klasik, pop dan berbagai genre yang lain.
Berbagai museum seni maupun galeri, baik yang besar maupun kecil, juga berlomba-lomba untuk membuka pameran dengan menampilkan berbagai macam karya seni dari berbagai medium, mulai dari lukisan, foto dan bentuk seni lain yang merupakan hasil karya dari seniman lokal maupun internasional.
Musim gugur di Kuil Eigenji
Kita juga bisa menemukan berbagai ungkapan dalam bahasa Jepang untuk menggambarkan musim gugur.
Misalnya ungkapan akakuchiba, yang melambangkan warna orange namun dengan nuansa merah tua yang pekat. Ungkapan ini sudah digunakan sejak jaman Heian (sekitar tahun 700 sampai 1000 masehi).
Lalu ada ungkapan ukon-iro, yang melambangkan warna kuning keemasan. Warna ini sangat disukai di jaman Edo (sekitar tahun 1600 sampai 1800). Warna ini juga melambangkan keberuntungan,sehingga banyak digunakan sebagai warna untuk dompet dan furoshiki (kain panjang untuk membungkus barang).
Daun berguguran di dekat rumah
Upacara minum teh di luar (disebut nodate) juga bisa ditemui di taman-taman dalam kota Tokyo seperti di Hamarikyuu atau di Koishikawa Kourakuen (juga di berbagai tempat di seluruh Jepang). Menikmati teh diluar menyatu dengan alam memang mempunyai sensasi tersendiri. Saya pernah ikut serta beberapa kali dalam acara ini. Kehangatan dan bau harum dari daun teh selain membuat tubuh terasa hangat, kita juga bisa merasa agak rileks. Hal ini sangat membantu karena suhu udara di musim gugur terasa dingin dibadan (khususnya untuk orang kelahiran daerah tropis seperti saya). Disamping itu, sambil menikmati teh, mata kita juga terhibur karena bisa menikmati keindahan dari momiji. 
Siapa saja bisa ikut serta acara ini dengan membayar sekitar 100 sampai 300 yen. Mungkin pembaca juga bisa mencobanya kalau kebetulan sedang berada di Jepang waktu musim gugur.
Musim gugur di Oume Keikoku
Musim gugur juga digunakan sebagai komponen dalam penyusunan kata-kata di waka(puisi klasik Jepang). Di dalam waka, mereka menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan musim gugur, beberapa diantaranya seperti kata momiji, tsuki(bulan), urokogumo(awan berbentuk sisik), shika (kijang, yang musim kawinnya adalah di musim gugur).
Pohon Ichou di Kuil Sanmiya
Musim gugur juga menjadi inspirasi bagi penyair seperti  Yosano Akiko, Masaoka Shiki, Higuchi Ichiyou, Ishikawa Takuboku dan lainnya.  Mereka menulis puisi yang isinya atau inspirasinya datang/berhubungan dengan musim gugur. Salah satu bait puisi yang saya suka dan berhubungan dengan musim gugur adalah puisi karangan Yosano Akiko, yang berbunyi "wakaki mi no koi suru yauni aki no kumo ugokimo tomazu honoka naredomo". Yang intinya melukiskan orang muda yang jatuh cinta, adalah seperti awan di musim gugur. 
Ada juga ungkapan bahasa Jepang  "onna gokoro to, aki no sora" yang mempunyai arti, hati wanita itu seperti langit musim gugur. Sebagai catatan, pemahaman orang Jepang adalah, langit musim gugur itu tidak bisa diduga karena gampang berubah. Bagaimana pembaca ? Benar apa tidak nih ?
Musim gugur di Kayano Kougen (Foto medium format /velvia)
Penutup
Di Jepang, ada lagu yang populer dengan judul "lagu 4 musim", yang isinya menceritakan bagaimana sifat-sifat orang yang suka masing-masing musim ditambah dengan perasaan atau relasi hubungannya dengan orang lain. 
Di musim semi dikatakan seperti teman, musim panas seperti ayah, musim dingin seperti ibu. 
Nah, uniknya, musim gugur dikatakan seperti "pacar !"
Berbeda dengan musim lain yang sebagian besar kita paham (teman, ayah, ibu), pacar, adalah sesuatu yang mungkin sulit untuk kita pahami (entah kalau pacarannya sudah lama..hehehe).
Di lagu itu dikatakan, orang yang suka akan musim gugur mempunyai perasaan yang dalam (suka memikirkan secara detail segala sesuatu). Dan orang yang suka musim gugur kata-katanya puitis, sarat dengan kata cinta seperti puisi karangan Heine (penyair kelahiran Jerman).
Bagaimana dengan pembaca ? Musim apa yang pembaca suka ?
Daun berguguran di taman dekat rumah