ラベル tokyo の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示
ラベル tokyo の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示

2018年12月25日火曜日

Natal Terakhir Era "Heisei"

Pohon Natal besar di Kompleks Sanrio Puroland, Tokyo
Tahun 2018 hanya tersisa beberapa hari lagi.
Karena Desember merupakan bulan terakhir dalam satu tahun, dibanding bulan-bulan lain, maka orang akan sedikit sibuk dengan dengan kegiatannya masing-masing. Mungkin ada yang sedang mengevaluasi semua kegiatan yang sudah dilakukannya selama tahun ini. Adapula yang mungkin sedang merencanakan kegiatan yang akan dilakukan tahun depan.
Shiwasu adalah sebutan lain untuk bulan Desember dalam Bahasa Jepang. Shiwasu ditulis dengan 2 huruf Kanji, yaitu Kanji yang berarti guru dan disebelahnya ditulis Kanji yang mempunyai arti berlari, sehingga artinya menjadi "guru berlari".
Guru adalah orang yang biasanya tenang dan berhati-hati dalam segala tindakannya, salah satu alasannya adalah karena dia berperan sebagai panutan. Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya orang pada bulan Desember jika guru yang biasanya tenang saja, sampai harus berlari.
Hari ini tanggal 25 Desember dan orang Kristen di seluruh dunia merayakan Natal yang merupakan hari kelahiran Sang Juru Selamat. Tidak terkecuali bagi orang Kristen di Jepang. 
Gereja Katolik St. Ignatius, Yotsuya, Tokyo 
Namun, ada yang istimewa bagi orang Jepang (dan orang yang merayakan Natal tahun ini di Jepang), karena Natal tahun ini adalah yang terakhir pada era "Heisei".
Jepang menggunakan penanggalan yang sudah kita kenal dan digunakan secara luas di seluruh dunia yaitu penangalan Masehi, untuk semua kegiatan, misalnya di kantor-kantor pemerintah maupun swasta. Akan tetapi, dalam penamaan tahunnya, penanggalan Jepang (wa-reki) masih digunakan. Wa-reki mempunyai nama khusus untuk masa tertentu yang dinamakan "gen-go".
Gen-go sudah digunakan sejak tahun 645 dan masih terus dipakai sampai sekarang. Nama gen-go baru, akan digunakan setelah kaisar baru naik takhta. Dan namanya pun tidak akan berubah sebelum kaisar meninggal atau turun takhta.
Tahun ini adalah era "Heisei", sehingga disamping nama "Tahun 2018", orang Jepang memakai juga nama tahun "Heisei 30 (dibaca:sanjuu)-nen" atau tahun Heisei ke-30. Penamaan dengan "Heisei" ini masih dipakai, misalnya untuk urusan pajak, tahun fiskal, laporan resmi dan sebagainya.
Tiap era dengan tahun gen-go nya, mempunyai makna dan kenangan tersendiri bagi orang Jepang. 
Contohnya pada era Meiji (1868-1912), kita mengenal Restorasi Meiji, dimana Jepang melakukan perubahan besar-besaran di segala bidang, dimulai dari pergantian kekuasaan dari pemerintahan shogunate (bakufu) ke pemerintahan yang berpusat pada kaisar (shin-seifu). Pada era Taisho (1912-1926) terjadi Perang Dunia I, dimana Jepang saat itu bersekutu dengan Inggris untuk melawan Jerman dan sekutunya. 
Era Showa (1926-1989) menjadi era kebangkitan Jepang di bidang ekonomi dan teknologi. Puncaknya adalah dilangsungkannya Olimpiade Tokyo, yang merupakan olimpiade pertama di Asia pada tahun 1964. Setelah itu Jepang memasuki zaman pertumbuhan ekonomi tinggi yang disebut keizai baburu atau economic bubble.
Gereja Katolik Seijo, Tokyo 
Dan era Heisei saat ini, tepatnya Heisei 30-nen, dimulai pada tahun 1989 saat Kaisar Akihito naik takhta.
Tahun ini Kaisar Akihito telah mengumumkan akan turun takhta. Putranya, Pangeran Naruhito, akan menggantikan posisinya tahun depan. Biasanya kaisar akan berganti jika dia meninggal, sehingga turun takhtanya kaisar (sewaktu masih hidup) yang terjadi saat ini merupakan peristiwa langka. Sebagai catatan, peristiwa yang sama terjadi kira-kira 200 tahun yang lalu.
Rencananya pada bulan Mei 2019, akan diumumkan gen-go baru untuk Jepang, setelah Pangeran Naruhito naik takhta. Itulah sebabnya Natal tahun ini adalah Natal terakhir era "Heisei".
Menurut data Badan urusan Kebudayaan Jepang, penganut agama Buddha jumlahnya 48,1 persen, Shinto 46,5 persen, Kristen 1,1 persen, dan sisanya adalah yang lain-lain.
Orang Jepang memang tergolong "unik", dalam banyak hal. Salah satu contohnya adalah pandangan orang Jepang tentang agama. 
Bagi orang Jepang, agama adalah tentang pemahaman nilai-nilai yang universal, misalnya tentang hal-hal yang berhubungan dengan moral baik dan etika. "Baju luar" atau simbol-simbol, bagi mereka tidak penting.
Mengapa bisa begitu? Salah satu alasannya adalah karena agama Shinto yang sudah dianut orang Jepang sejak zaman dahulu, mengenal bermacam-macan "tuhan" (dalam Bahasa Jepang disebut Yaorozu-no-kami). Pemahaman inilah yang membuat kebanyakan orang Jepang akan menghargai dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan agama yang dianut.
Kita sering mendengar bahwa orang Jepang saat lahir beragama Shinto (ditambah ada perayaan umur 3, 5, 7 tahun yang dilaksanakan di kuil Shinto), saat menikah beragama Kristen (karena mereka melaksanakannya di Kapel atau Gereja), dan saat meninggal beragama Buddha (karena disembahyangkan di kuil Buddha).
Oleh sebab itu, walaupun penganut Kristen sedikit, namun Natal merupakan hari istimewa di Jepang, karena orang Jepang yang tidak beragama Kristen pun merayakannya. 
Gereja Katolik St. Anselm, Meguro, Tokyo
Kemeriahan suasana Natal di Jepang bisa dirasakan di mana-mana. Di tiap sudut kota, banyak pohon Natal serta berbagai macam atribut Natal dipasang. Hiasan lampu berwarna-warni makin menambah keindahan pemandangan kota dimalam hari, menjelang Natal. 
Jika kita mengunjungi pusat perbelanjaan, bahkan di gedung perkantoran baik pemerintah maupun swasta, pohon Natal menghiasi pintu masuk maupun dipasang di dalam gedung. 
Di pusat perbelanjaan, mini market maupun warung dekat rumah, banyak dijual benda-benda, maupun makanan (kue) dengan tema Natal. 
Saya juga pernah membawa teman orang Jepang untuk merayakan misa malam Natal, karena dia ingin tahu suasana perayaan Natal di Gereja.
Bisa jadi bahwa kebanyakan orang Jepang yang tidak beragama Kristen belum mengerti akan arti yang hakiki dari (perayaan) Natal. Namun, dengan merayakan Natal menurut cara mereka, saya berpendapat itu juga bagian dari arti Natal, yaitu membagikan "kegembiraan", baik kepada rekan kerja, anggota keluarga, tetangga, pengunjung pusat perbelanjaan, pejalan kaki, dan kepada semua orang.
Menilik sejarah Jepang zaman dahulu, Katolik sudah masuk ke Jepang sejak ratusan tahun yang lalu, dibawa oleh Santo Fransiscus Xaverius pada tahun 1549. Dia mendarat di Pulau Kyushu, yang berlokasi di Selatan Jepang. Sehingga, hal itu juga yang menyebabkan populasi penganut Katolik di Jepang banyak berada di daerah Selatan seperti Nagasaki dan juga di Hiroshima.
Dengan memiliki sejarah panjang sejak masuknya agama Katolik, maka jumlah Santo/Santa yang berasal dari Jepang cukup banyak, yaitu 42 orang. Sementara itu, 394 orang lainnya sudah di Beatifikasi (orang yang diakui memilik keistimewaan secara spiritual) oleh Vatikan.
Kegiatan orang Katolik di Jepang tidak jauh berbeda dengan kegiatan penganut Katolik di Indonesia. 
Beragam kegiatan dilakukan oleh orang Katolik sebagai anggota lingkungan, atau dalam cakupan yang lebih besar di Paroki. Misalnya ada kegiatan doa lingkungan, kegiatan mengumpulkan sumbangan untuk amal (terakhir untuk korban gempa dan tsunami di Palu), berdoa rosario pada bulan Mei dan Oktober, lalu ada juga kegiatan mudika (muda-mudi Katolik) walaupun anggotanya tidak banyak, sekolah minggu dan sebagainya.
Kebetulan saya pernah menjadi mudika (katorikku-seinen) selama beberapa tahun. Sewaktu masih anggota mudika, saya mempunyai kesempatan untuk ikut berbagai macam kegiatan. 
Contohnya, yang berhubungan dengan spiritual diantaranya adalah mengadakan retret, mengunjungi Gereja yang bersejarah, misalnya mengunjungi Ooura Tenshudou di Nagasaki yang merupakan bangunan Gereja Katolik tertua di Jepang. Ada juga kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan, misalnya diskusi buku, menonton film (dengan tema tertentu) lalu mendiskusikannya.
Gereja Katolik St. Francis Xavier, Kanda, Tokyo 
Ada kabar yang menggembirakan diujung tahun ini bagi orang Katolik Jepang (dan tentu saja bagi saya yang kebetulan sedang berada disini), bahwasanya Paus Fransiskus berencana mengunjungi Jepang pada tahun 2019 yang akan datang. Kunjungan ini adalah kali kedua kunjungan Paus setelah kunjungan Santo Yohannes Paulus II (Paus ke-264), yang telah mengunjungi Jepang pada tahun 1981.
Jepang mengalami "penderitaan berat" saat dua kotanya Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur akibat perang. 
Dalam pidato Santo Yohanes Paulus II di monumen peringatan perdamaian saat kunjungannya ke Hiroshima, dia mengingatkan bahwa perang, adalah ulah manusia, yang akan membawa manusia itu sendiri kepada kehancuran. Dia mengatakan juga bahwa, pada akhirnya, perang akan membawa kematian bagi kehidupan. 
Memang perang yang terjadi saat itu adalah perang antar negara, karena ketamakan manusia untuk menguasai dan sekaligus menghancurkan lawan (Kota Hiroshima merupakan salah satu saksi bisu dari sisi gelap perang) .
Walaupun saat ini dibeberapa tempat masih terjadi perang (yang sesungguhnya), untungnya baik di Jepang maupun di Indonesia, tidak terjadi perang seperti saat Perang Dunia ke-2 atau saat perang untuk merebut kemerdekaan.
Namun, saya memaknai pidato Santo Yohanes Paulus II tersebut masih relevan saat ini. Kita memang masih harus terus ber"perang". 
Bedanya, "perang" disini adalah tidak untuk melawan, menaklukkan, bahkan bukan untuk menyakiti orang lain, apalagi menyakiti orang yang berbeda pandangan dengan kita.
Melainkan kita harus terus "perang" melawan diri kita sendiri. "Perang" untuk mengalahkan hawa nafsu pribadi atau kelompok. 
Kita harus bisa berperang melawan egoisme, sehingga diharapkan kita punya lebih banyak waktu untuk menjaga dan memberi nilai bagi kehidupan. Karena kehidupan itu penting, bukan saja untuk kita sendiri, melainkan juga bagi semua makhluk hidup di atas bumi, yang diciptakan olehNya.
Gereja Katolik Kusatsu, Shiga Prefecture
Era Heisei akan berakhir dan akan lahir era dengan nama gen-go baru. Era baru menandakan "kelahiran" dan tentunya orang Jepang berharap dengan lahirnya era baru itu kehidupan bisa menjadi lebih baik.
Saya sebagai orang Katolik, dengan momentum Natal ini akan berusaha agar bisa "terlahir" kembali menjadi "manusia baru". Manusia baru yang bisa memberikan manfaat selain bagi diri kita sendiri, tentunya juga bagi sesama, tanpa memandang "baju" yang dipakainya. 
Dan yang terpenting, ketika terlahir kembali sebagai manusia baru, orang (Katolik) diharapkan bisa memberi nilai dan menghargai kehidupan, atas semua makhluk hidup ciptaanNya di bumi, dimanapun kita berada.

Selamat Natal 2018.  Gloria in Excelsis Deo.

Semoga damai Natal selalu beserta kita semua.

2018年7月9日月曜日

Pajak Turis dan Peraturan Akomodasi Baru di Jepang, Bak Buah Simalakama?

Lokasi yang dipakai untuk gambar fuji pada uang 1000 yen (Dokumentasi Pribadi)
Lokasi yang dipakai untuk gambar fuji pada uang 1000 yen
Bulan Mei yang lalu, A.T. Kearney--perusahaan konsultan manajemen global-- merilis dokumen tentang Global City Index (GCI) yang menunjukkan berapa "unggul"nya sebuah kota dalam hal seperti kemudahan melakukan bisnis, kecanggihan pertukaran informasi, pengalaman budaya dan lainnya yang kriterianya dibagi lebih detail menjadi 27 butir.
Tokyo menempati urutan ke-4 untuk GCI yang dirilis itu. Meskipun bukan yang terbaik, namun Tokyo bisa menduduki posisi tersebut selama 6 tahun berturut-turut.
Kita semua tahu bahwa Tokyo hanyalah salah satu nama dari kota besar di Jepang, selain misalnya Sapporo, Sendai, Nagoya, Kyoto, Osaka, Fukuoka, dan Okinawa yang berlokasi di paling selatan. Kota-kota tersebut selain menjadi pusat bisnis, tentunya juga menjadi tujuan wisata, baik bagi turis lokal maupun mancanegara.
Menurut data yang diolah oleh Litbang JTB (data asalnya dari Badan Pariwisata Jepang), total jumlah turis mancanegara yang masuk ke Jepang pada tahun 2017 adalah sekitar 28,7 juta orang. Dari data yang sama, kita bisa melihat bahwa total jumlah turis yang berkunjung ke Jepang dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang signifikan, terutama lonjakan drastis total jumlah turis yang masuk ke Jepang dimulai pada tahun 2013.
Tahun ini saja, sampai bulan April 2018 yang lalu, sudah tercatat total kira-kira 3 juta orang yang berkunjung ke Jepang. Jumlah ini lebih banyak sekitar 12,5 persen dibandingkan jumlah total turis yang berkunjung pada bulan April tahun 2017.
Dalam hitungan 3 juta orang itu, termasuk juga sekitar 43 ribu orang Indonesia. Tampaknya memang Jepang menjadi salah satu destinasi favorit orang Indonesia saat ini, di Asia selain Singapura. 
Saya sering berpapasan dengan rombongan (saya sebut rombongan karena memang kebanyakan turis Indonesia yang saya temui bergerombol lebih dari 2) orang Indonesia saat pergi ke kantor, maupun saat jalan-jalan pagi (atau sore) di hari libur. 
Sekadar catatan, jumlah turis yang masuk ke Jepang dari negara tetangga kita Singapura--yang merupakan salah satu negara tujuan favorit orang Indonesia untuk berlibur--masih dibawah Indonesia, yaitu tercatat sebanyak 37,6 ribu orang.
Roppongi Hat, Tokyo (Dokumentasi Pribadi)
Roppongi Hat, Tokyo
Pariwisata Jepang 2020
Tahun 2020 merupakan saat yang ditunggu bukan hanya oleh Jepang beserta warganya, juga oleh warga dunia karena pesta olahraga paling bergengsi musim panas yaitu Olimpiade, akan dibuka dan diselenggarakan di Tokyo.
Untuk mengantisipasi momen tersebut, Badan Pariwisata Jepang (Japan Tourism Agency) telah mencanangkan visi yang jelas yaitu menjadikan pariwisata sebagai salah satu industri penunjang pertumbuhan ekonomi Jepang. 
Pemerintah Jepang tidak main-main dalam hal ini, karena mereka mencanangkan target jumlah total kunjungan wisatawan pada tahun 2020 sebanyak 40 juta orang! Padahal, total jumlah turis yang berkunjung pada tahun 2017 "hanya" sekitar 28 juta orang. Ini artinya, (pemerintah) Jepang hanya memiliki waktu kurang lebih 2 tahun untuk "mendongkrak" tambahan 12 juta orang wisatawan sampai tahun 2020.
Untuk mencapai target itu, salah satu usaha pemerintah adalah membangun infrastruktur penunjang industri pariwisata. Terutama yang menjadi perhatian pemerintah adalah infrastruktur di titik masuk wisatawan, yaitu pada antrean imigrasi, baik itu di darat (bandara) maupun laut (pelabuhan). 
Pemerintah Jepang menggelontor dana sekitar 2 milyar yen untuk pembangunan infrastruktur yang digunakan di pos-pos imigrasi. Dana itu selain digunakan untuk menambah personel yang menangani CIQ (Custom, Immigration, Quarantine) di titik masuk turis, juga digunakan untuk penambahan alat baru. Misalnya instalasi gate elektronik, dimana pemerintah rencananya akan memasang sekitar 137 alat baru untuk deteksi wajah otomatis agar arus antrian di imigrasi bisa menjadi lebih cepat dan lancar. 
Salah satu sudut pemandangan area di Yuurakucho-Ginza (Dokumentasi Pribadi)
Salah satu sudut pemandangan area di Yuurakucho-Ginza
Aplikasi baru untuk smartphone juga akan dibuat agar memudahkan orang saat mengantre di Bea dan Cukai, dimana (calon) wisatawan, misalnya  bisa melakukan proses administrasi Bea Cukai diperjalanan (di dalam pesawat terbang maupun dalam kapal laut).
Keamanan tentu juga menjadi bagian yang penting. Saat ini Jepang sedang membuat alat deteksi baru yang berbentuk terowongan besar dengan menggunakan X-Ray, yang diharapkan bisa dengan efektif dan cepat (serta tepat) mendeteksi semua barang bawaan yang dibawa turis. 
Tidak ketinggalan akomodasi, yang tentunya menjadi salah satu hal yang perlu dipersiapkan. Setelah Tokyo ditetapkan sebagai tempat penyelenggaraan Olimpiade pada tahun 2013, maka langsung tahun berikutnya para pelaku bisnis perhotelan merencanakan untuk membangun kurang lebih 50 hotel baru di Tokyo
Daerah penyangga sekitar Tokyo seperti Saitama, Kanagawa, Chiba, bahkan sampai daerah yang agak jauh seperti Nagano, Gunma, Niigata dan Yamanashi juga membenahi sarana akomodasi mereka untuk menampung turis yang diprediksi akan meningkat.
Konektivitas merupakan bagian yang penting dari pola hidup masyarakat modern saat ini, sehingga pemerintah Jepang pun sedang berusaha untuk menambah lokasi (spot) yang menyediakan koneksi WiFi gratis. Lebih dari itu, bahkan Jepang akan menjadikan Olimpiade 2020 sebagai showcase-nya teknologi telepon seluler 5G!
Bagi anda yang sering tersesat ketika bepergian, tidak perlu khawatir lagi. Saat ini Google Map sudah menyediakan street view untuk 13 stasiun kereta bawah tanah Tokyo Metro. Jadi tidak perlu takut soal kehabisan energi, bingung mondar-mandir di stasiun kereta bawah tanah di Tokyo, karena bisa pakai fasilitas ini untuk panduan menuju ke pintu keluar stasiun.
Penari Awa Odori (Dokumentasi Pribadi)
Penari Awa Odori
Dilema Pariwisata Jepang
Mulai Januari tahun 2019, Jepang akan memberlakukan pajak baru yang bernama International Tourist Tax. Sistemnya, turis yang akan meninggalkan Jepang ditarik biaya 1000 yen saat keberangkatan. Walaupun namanya pajaknya "International", namun bagi orang Jepang yang akan bepergian keluar negeri pun juga dibebani biaya ini.
Sebenarnya banyak polemik yang terjadi sebelum pajak ini disahkan di Parlemen. Misalnya belum ada informasi yang jelas tentang bagaimana rencana penggunaan dana yang terkumpul dari pajak ini. Lalu tentang besaran pajak sebesar 1000 yen, masyarakat masih belum paham bagaimana hitungannya sehingga bisa keluar angka "1000." 
Ada juga orang yang heran, apa alasannya pajak ini dipukul rata untuk semua turis tanpa melihat jenis kelas tiket yang dipunyai. Misalnya turis yang menggunakan LCC (Low Cost Carrier) dengan harga tiket 8000 yen tentunya "berat" untuk membayar 1000 yen karena besarannya mencapai 12,5 persen dari harga tiket. Dibandingkan dengan turis yang menggunakan kelas bisnis dengan harga tiket 200.000 yen, besarannya "hanya" sekitar 0,5 persen dari harga tiket.
Kemudian pada tanggal 15 Juni 2018, pemerintah juga memberlakukan undang-undang baru untuk minpaku, yaitu bagi orang yang ingin berbisnis menyewakan rumah/apartemennya untuk penginapan. Peraturan minpaku yang baru sangat ketat, misalnya pemilik apartemen hanya bisa menyewakan apartemennya selama 180 hari dalam setahun. 
Banyak efek negatif yang ditimbulkan akibat peraturan baru ini, sehingga jumlah apartemen yang tadinya disewakan untuk penginapan menjadi berkurang drastis. Contohnya, salah satu site yang terkenal untuk minpaku yaitu airbnb, dikatakan menghapus setengah dari apartemen yang terdaftar karena pemilik apartemen tidak bisa memenuhi syarat dari undang-undang baru itu.
Tari Yosakoi yang banyak diminati oleh turis (Dokumentasi Pribadi)
Tari Yosakoi yang banyak diminati oleh turis
Turis biasanya senang dengan akomodasi murah, karena yang mereka inginkan hanya mau jalan-jalan. Sehingga kualitas tidur tidak menjadi pertimbangan utama, tentunya bagi sebagian orang. Lalu bagi turis yang senang menggunakan LCC, maka beban tambahan 1000 yen bisa membuat pening kepala. Apalagi turis yang biasanya liburan rombongan dengan keluarga.
Pemerintah bak makan buah simalakama
Di satu sisi, dana (yang segar dan baru) mutlak dibutuhkan untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi turis. Kalau masalah pelayanan, memang tidak usah diragukan lagi, Jepanglah jagonya. 
Pengalaman saya sendiri, kata-kata "pembeli (baik jasa, barang, makanan dan lainnya) adalah raja", bukanlah isapan jempol karena nyata bisa kita rasakan disini.
Di sisi lain, dua hal telah saya bahas di paragraf sebelumnya (pajak turis dan undang-undang baru minpaku), bisa membuat turis yang ingin mengunjungi Jepang berpikir dua kali. Bahkan bisa saja terjadi kemungkinan yang terburuk, yaitu mereka membatalkan kunjungannya.
Nah, apakah "magnet daya tarik" Jepang masih tetap bisa mendongkrak jumlah kunjungan turis pada tahun-tahun berikutnya, mengalahkan fobia (calon) turis pada pajak turis dan undang-undang baru minpaku, yang dikhawatirkan akan menjangkit warga dunia? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.

2017年11月27日月曜日

Keindahan Momiji di Musim Gugur dan "Rasa" Orang Jepang

Musim Gugur di Kuil Kuhonbutsu Joushinji
Momiji adalah kata yang sering terucap di musim gugur. Kata ini adalah untuk menggambarkan daun-daun yang berwarna-warni terutama warna merah dan kuning. Kata momiji ini sebenarnya berasal dari kata momiizu (memeras,melumat), yang merupakan bagian dari salah satu proses untuk membuat warna dengan cara memeras bunga Benibana (Carthamus tinctorius). Benibana yang diperas/dilumat di air dingin dengan pH normal menghasilkan warna kuning, dan jika diperas di air dengan pH tinggi maka akan menghasilkan warna merah.
Kata momiizu ini, seiring dengan berjalannya waktu, berubah menjadi momiji. Seperti kita tahu, warna momiji memang sebagian besar adalah merah dan kuning. Lalu ada istilah momijigari, yang berarti pergi ke suatu tempat (misalnya ke gunung atau taman) untuk melihat dan menikmati momiji.
Kuil Shoutengu Saikouji di Mino, Oosaka
Negara dengan 4 musim
Jepang adalah negara yang mempunyai 4 musim. Masing-masing musim sangat unik dan punya ciri khas tersendiri.
Musim semi (haru) adalah musim dimulainya kehidupan baru setelah musim dingin yang panjang. Mulai tumbuhnya dedaunan yang berwarna hijau, dan bermekarannya bunga-bunga melambangkan dimulainya kehidupan itu sendiri. Kegembiraan adalah lambang dari musim semi, dimana masyarakat berbondong-bondong pergi untuk melihat keindahan bunga, bergembira dan bersuka-ria sambil makan dan minum. Kebiasaan ini disebut ohanami, yang umumnya digunakan sebagai istilah untuk melihat dan menikmati bunga Sakura, yang merupakan simbol musim semi.
Musim panas (natsu) dengan suhu udara yang tiggi dan lembab serta banyaknya aktivitas yang terjadi di masyarakat misalnya dengan banyaknya festival atau perayaan yang dilaksanakan di kuil ataupun di tempat umum, melambangkan kekuatan serta energi yang dimensinya agak lain dari musim semi.
Musim dingin (fuyu) dengan hamparan salju putihnya yang luas membentang sejauh mata memandang, melambangkan kesunyian dan kesendirian.
Lalu, bagaimana dengan musim gugur (aki) ?
Pohon Ichou di Joushinji Kouin
Musim gugur dan perasaan orang Jepang
Berbeda dengan musim yang lain, keindahan musim gugur mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan yang utama adalah ditandai dengan bermunculannya momiji, yang dimulai dari utara di Pulau Hokkaido, karena pergerakan suhu udara yang dingin dimulai dari daerah ini. Kemudian momiji sedikit demi sedikit bergeser ke arah selatan, dimulai dari Tohoku, lalu ke Kanto, Chubu dan seterusnya ke arah Kyushuu.
Disatu sisi, momiji sangat indah dan keindahannya bisa membuat kita berdecak kagum. Namun di lain sisi, sewaktu kita melihat momiji, kita sekaligus diingatkan bahwa musim dingin yang sepi dan panjang akan segera tiba.
Keindahan musim gugur memang sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata. Warna-warni momiji memang terlihat sangat memikat. Warna dari momiji bisa seperti itu karena semua faktor pendukungnya (misalnya kontras suhu udara di siang dan malam hari) terpenuhi.
Momiji berguguran di Kolam ikan di Tonogayato Park
Daun-daun pepohonan yang berwarna merah, kuning, dan warna lainnya bergetar diterpa tiupan angin. Daun yang berwarna-warni ini bak origami, dimana ada daun yang kuat bertahan di rantingnya, namun ada juga daun yang tidak kuat lalu jatuh perlahan ke pelukan bumi bersama angin. Dimusim ini, seperti kain nishiki tanmono yang indah, dunia seperti dilukis dengan alam sebagai kuas dan sekaligus kanvas nya.
Namun, bagi orang Jepang, bukan warna-warni itu yang penting. 
Ungkapan perasaan orang Jepang dengan kebiasaan dan budaya mereka untuk menikmati musim gugur dengan mata-lah yang terpenting. Kebiasaan melihat dan menikmati momiji mungkin menjadi salah satu sifat khas dari orang Jepang.
Orang Jepang memang dari jaman dahulu kala suka akan musim gugur, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Misalnya saja, suara angin yang menerpa dedaunan, atau sinar matahari yang bersinar dengan sudut yang lebih kecil/rendah (dibandingkan dengan musim panas) yang menyebabkan bayangan benda menjadi lebih panjang sekaligus sinar mataharinya terasa hangat namun tidak begitu menyengat kulit.
Masyarakat berbondong-bondong melihat momiji di Toufukuji, Kyoto 
Kesukaan orang Jepang akan musim gugur, salah satunya sebabnya adalah rasa tenang/aman yang dapat mereka rasakan karena musim panas yang "menyiksa" dengan suhu dan kelembapan tingginya sudah lewat. Namun, ada juga sedikit perasaan "nostalgia" yang mereka rasakan. Karena mereka juga tahu, musim dingin yang sepi dan panjang akan segera tiba. Perasaan itu sudah bisa dirasakan di dalam memori mereka setiap tahun.
Itulah sebabnya sebelum memasuki musim dingin, mereka menenangkan perasaanya dengan menikmati keindahan momiji, yang hanya bisa mereka lalukan di musim gugur.
Musim gugur di kuil Takahata Fudou
Musim gugur dan seni serta budaya
Musim gugur di Jepang disebut juga sebagai musim seni serta budaya.
Kita bisa dengan mudah menemukan pertunjukan berbagai macam kesenian, mulai dari yang tradisional seperti pertunjukan Noh, Kabuki, musik gagaku , maupun seni modern seperti konser musik, mulai dari musik klasik, pop dan berbagai genre yang lain.
Berbagai museum seni maupun galeri, baik yang besar maupun kecil, juga berlomba-lomba untuk membuka pameran dengan menampilkan berbagai macam karya seni dari berbagai medium, mulai dari lukisan, foto dan bentuk seni lain yang merupakan hasil karya dari seniman lokal maupun internasional.
Musim gugur di Kuil Eigenji
Kita juga bisa menemukan berbagai ungkapan dalam bahasa Jepang untuk menggambarkan musim gugur.
Misalnya ungkapan akakuchiba, yang melambangkan warna orange namun dengan nuansa merah tua yang pekat. Ungkapan ini sudah digunakan sejak jaman Heian (sekitar tahun 700 sampai 1000 masehi).
Lalu ada ungkapan ukon-iro, yang melambangkan warna kuning keemasan. Warna ini sangat disukai di jaman Edo (sekitar tahun 1600 sampai 1800). Warna ini juga melambangkan keberuntungan,sehingga banyak digunakan sebagai warna untuk dompet dan furoshiki (kain panjang untuk membungkus barang).
Daun berguguran di dekat rumah
Upacara minum teh di luar (disebut nodate) juga bisa ditemui di taman-taman dalam kota Tokyo seperti di Hamarikyuu atau di Koishikawa Kourakuen (juga di berbagai tempat di seluruh Jepang). Menikmati teh diluar menyatu dengan alam memang mempunyai sensasi tersendiri. Saya pernah ikut serta beberapa kali dalam acara ini. Kehangatan dan bau harum dari daun teh selain membuat tubuh terasa hangat, kita juga bisa merasa agak rileks. Hal ini sangat membantu karena suhu udara di musim gugur terasa dingin dibadan (khususnya untuk orang kelahiran daerah tropis seperti saya). Disamping itu, sambil menikmati teh, mata kita juga terhibur karena bisa menikmati keindahan dari momiji. 
Siapa saja bisa ikut serta acara ini dengan membayar sekitar 100 sampai 300 yen. Mungkin pembaca juga bisa mencobanya kalau kebetulan sedang berada di Jepang waktu musim gugur.
Musim gugur di Oume Keikoku
Musim gugur juga digunakan sebagai komponen dalam penyusunan kata-kata di waka(puisi klasik Jepang). Di dalam waka, mereka menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan musim gugur, beberapa diantaranya seperti kata momiji, tsuki(bulan), urokogumo(awan berbentuk sisik), shika (kijang, yang musim kawinnya adalah di musim gugur).
Pohon Ichou di Kuil Sanmiya
Musim gugur juga menjadi inspirasi bagi penyair seperti  Yosano Akiko, Masaoka Shiki, Higuchi Ichiyou, Ishikawa Takuboku dan lainnya.  Mereka menulis puisi yang isinya atau inspirasinya datang/berhubungan dengan musim gugur. Salah satu bait puisi yang saya suka dan berhubungan dengan musim gugur adalah puisi karangan Yosano Akiko, yang berbunyi "wakaki mi no koi suru yauni aki no kumo ugokimo tomazu honoka naredomo". Yang intinya melukiskan orang muda yang jatuh cinta, adalah seperti awan di musim gugur. 
Ada juga ungkapan bahasa Jepang  "onna gokoro to, aki no sora" yang mempunyai arti, hati wanita itu seperti langit musim gugur. Sebagai catatan, pemahaman orang Jepang adalah, langit musim gugur itu tidak bisa diduga karena gampang berubah. Bagaimana pembaca ? Benar apa tidak nih ?
Musim gugur di Kayano Kougen (Foto medium format /velvia)
Penutup
Di Jepang, ada lagu yang populer dengan judul "lagu 4 musim", yang isinya menceritakan bagaimana sifat-sifat orang yang suka masing-masing musim ditambah dengan perasaan atau relasi hubungannya dengan orang lain. 
Di musim semi dikatakan seperti teman, musim panas seperti ayah, musim dingin seperti ibu. 
Nah, uniknya, musim gugur dikatakan seperti "pacar !"
Berbeda dengan musim lain yang sebagian besar kita paham (teman, ayah, ibu), pacar, adalah sesuatu yang mungkin sulit untuk kita pahami (entah kalau pacarannya sudah lama..hehehe).
Di lagu itu dikatakan, orang yang suka akan musim gugur mempunyai perasaan yang dalam (suka memikirkan secara detail segala sesuatu). Dan orang yang suka musim gugur kata-katanya puitis, sarat dengan kata cinta seperti puisi karangan Heine (penyair kelahiran Jerman).
Bagaimana dengan pembaca ? Musim apa yang pembaca suka ?
Daun berguguran di taman dekat rumah 

2017年11月3日金曜日

Jalan2 ke Tokyo Motor Show 2017

Pintu masuk TMS 2017
Di Odaiba (tepatnya di Tokyo Big Sight), dari tanggal 27 Oktober - 5 November 2017 berlangsung event Tokyo Motor Show (TMS).
Dalam event 2 tahunan ini, selain kita bisa menyaksikan perkembangan teknologi otomotif dan teknologi penunjang yang lain, kita juga bisa menyaksikan secara langsung bagaimana wujud kendaraan (terutama mobil konsep) di masa depan.
Tema TMS tahun ini adalah "Mari Menggerakkan Dunia dari sini. Beyond The Motor."
Saya mempunyai kesempatan mengunjungi event tersebut Sabtu tanggal 28 Oktober yang lalu. Walaupun cuaca mendung, yang kemudian berubah menjadi hujan, namun tidak menghalangi orang2 yang berniat ingin menyaksikan acara tersebut. Ini bisa disaksikan dengan barisan orang berjejal mengular dari saat keluar stasiun terdekat (Stasiun Kokusaitenjijoumae) sampai ke tempat acara dilangsungkan.
Ada 14 perusahaan Jepang yang bergerak dalam bidang otomotif ikut dalam event ini. Disamping itu, ada beberapa peserta dari luar Jepang, diantaranya dari Jerman, Perancis dan Swedia. Selain memamerkan mobil terbaru yang sudah maupun akan dirilis (dipasarkan) untuk umum, mereka juga memamerkan beberapa mobil prototype (concept) nya, yang sebagian merupakan mobil yang baru pertama kali dipamerkan pada publik Jepang maupun dunia.
Tiket masuk TMS 2017
Evolusi Dunia Otomotif
Sebenarnya, kearah manakah perkembangan industri otomotif (khususnya mobil) akan bergerak ?
Ada beberapa teknologi penunjang industri otomotif yang sedang dikembangkan saat ini.
Yang pertama adalah teknologi yang berusaha menggantikan bahan bakar fosil, karena selain jumlahnya terbatas, akibat yang ditimbulkan dari hasil proses pembakarannya bisa berdampak buruk terhadap lingkungan. Beberapa teknologi kemudian lahir untuk mewujudkan hal tersebut. Diantaranya, kita mengenal teknologi Electric Vehicle (EV atau mobil listrik) yang sudah dikembangkan sejak beberapa tahun yang lalu. Kemudian kita juga tahu Fuel Cell Vehicle (FCV atau sel bahan bakar) yang ramah lingkungan karena tidak menghasilkan gas C02 dalam proses pembakarannya. 
Zagato IsoRivolta Vision Gran Turismo
Berikutnya, teknologi informasi juga merambah bidang otomotif. Jepang dan beberapa negara maju lainnya sedang mengembangkan teknologi "Connected Car". "Connected" atau terhubung disini, bukan hanya terbatas pada menghubungkan (koneksi) antara mobil dengan jaringan (network atau cloud) saja. Namun juga ada tambahan untuk koneksi yang lain, diantaranya koneksi antar-mobil, koneksi antara mobil dengan infrastruktur (misalnya dengan lampu lalulintas), dan yang paling penting adalah koneksi antara mobil dengan orang (pengguna/user).
Gambaran Connected Car yang disajikan dengan proyeksi di layar 360 derajat
Lalu ada beberapa teknologi penjunjang penting lainnya, misalnya teknologi sensor yang mendukung kendaraan untuk bisa self-driving, maupun untuk meningkatkan keselamatan driver, misalnya untuk menghindari orang atau benda yang tiba2 muncul di depan kendaraan. Kemudian ada teknologi kecerdasan buatan (AI), dimana di masa depan misalnya mobil bisa mengatur posisi duduk, setir, pendingin, audio (musik) dan lainnya secara otomatis menyesuaikan dengan keadaan atau suasana hati dari sang driver sehingga dia dapat merasa nyaman berkendara.
Dengan berbagai macam teknologi tersebut, ada kemungkinan dalam waktu yang tidak lama lagi, pandangan kita akan apa yang biasa kita sebut kendaraan (mobil) akan berubah total. Selama ini kita memandang mobil hanya sebuah alat yang membantu manusia untuk bergerak (mobilitas) dari suatu tempat ke tempat yang lain. Interaksi yang terjadi selama perjalanan dengan mobil, bisa dikatakan hanya satu arah, yaitu misalnya driver menyetir mobil, mengatur posisi duduk, menyalakan AC dan lainnya.
Bagaimana evolusi di dunia otomotif sampai saat ini ?
Tokyo Motor Show 2017
Ada beberapa catatan saya tentang 5 perusahaan otomotif Jepang peserta TMS 2017 yang namanya tentu sudah tidak asing lagi bagi pembaca.
Yang pertama adalah Toyota. Tahun ini, stan Toyota mengusung tema "Start Your Impossible".
Toyota menghadirkan konsep baru yang bernama "Toyota Concept Ai" (Ai ditulis dalam kanji yang berarti Cinta). Jika selama ini, manusia yang mencurahkan "cinta" nya pada mobil (misalnya dibawa ke bengkel untuk maintenance atau dihiasi dengan pernak-pernik), maka kedepannya, kendaraan (mobil) lah yang akan mencurahkan perhatiannya kepada manusia. 
Toyota Concept Car 愛-i 
Di dalam video yang ditayangkan di stan, ada adegan dimana mobil berkomunikasi/berinteraksi dengan orang (driver) dengan isi percakapan antara lain bertanya apa rencana si pengemudi hari ini, kemudian mobil bisa memberikan rekomendasi sesuai dengan rencananya itu. Lalu mobil juga bisa menampilkan foto2 kenangan untuk memberi semangat jika pengemudi sedang galau, lalu memutarkan musik favorit sepanjang perjalanan. Jika kelihatannya sang driver lelah, maka mobil bisa menawarkan diri untuk menggantikan posisi driver mengemudikan kendaraan sampai ke tempat tujuan.
Crown Concept Car 
Toyota ingin menunjukkan bahwa mobil bukan hanya sebatas mesin, tapi merupakan partner manusia. Teknologi AI mempunyai peranan penting untuk mewujudkan hal ini. Mobil seperti belajar (Learn) tentang bagaimana tipe/sifat manusia yang sedang mengendarai mobil dan emosinya saat itu. Mobil juga bisa melindungi (Protect) pengemudi dengan bantuan berbagai macam sensor yang tertanam. Misalnya menghindari batu ketika mobil sedang berjalan, atau mengerem ketika ada orang di belakang mobil waktu memarkir atau keluar dari garasi. Mobil juga bisa memberikan saran atau masukan tentang berbagai macam hal. Bahkan mobil bisa melayani percakapan dengan pengemudi (Inspire).
Selain itu, Toyota juga memamerkan kendaraan FCV yang bernama Free Comfort Ride dan mobil sport konsep GR HV Sport. Tak lupa, ada mobil Crown terbaru yang masih merupakan konsep dan mobil New Century turut dipajang di area Toyota. Kedua mobil ini (termasuk beberapa mobil lain) merupakan mobil yang pertama kali dipamerkan kepada publik/dunia (World Premiere).
Toyota New Century 
Kemudian Nissan di pameran kali ini mencanangkan visinya kedepan berdasarkan pada "Nissan Intelligent Mobility". Nissan dengan teknologi radar yang canggih, kamera, sensor dan laser scannernya mewujudkan kemampuan pemindaian 360 derajat di sekeliling kendaraan yang bisa menjamin keselamatan pengemudi. Kemudian Nissan juga memanfaatkan teknologi AI, yang diharapkan bisa memprediksi apa saja bahaya yang mungkin terjadi di perjalanan. Jika teknologi ini sudah matang dan kemudian bisa diimplementasikan, maka pengendara tidak usah repot2 untuk menegangkan saraf di kelima indra-nya saat mengemudi, karena mobil bisa jalan/mengemudi sendiri dengan full automatic drive.
Nissan Intelligent Mobility
Subaru memamerkan konsep kendaraan sport yang dinamai Subaru Viziv Performance Concept. Viziv adalah kata buatan yang berasal dari kata2 "Vision for Innovation". Subaru kita kenal dengan mobil2 nya yang merajai berbagai event rally di seluruh dunia. Konsep mobil sport yang dipamerkan dibuat berdasarkan filosofi desain Subaru, yaitu "Dynamic x Solid". Dimana bentuk mobilnya yang kekar dan juga desain yang aerodinamis mengesankan bahwa mobil akan bisa melesat dengan cepat. Namun, Subaru juga tidak melupakan kenyamanan serta keselamatan pengemudi saat berkendara. 
Subaru Viziv Performance Concept 
Berbeda dengan perusahaan otomotif Jepang lainnya, Honda memberi fokus kepada produk mobil EV dalam pemeran tahun ini. Ini bisa dimaklumi karena Honda menargetkan bahwa sampai dengan tahun 2030, 2/3 dari produksi mobilnya adalah mobil EV. Ada 3 jenis produk utama mobil EV Honda dengan motor penggerak rancangan baru yang dipamerkan, yaitu mobil EV tipe sport, urban dan Honda NeuV. Tentunya produk2 mobil Honda ini juga dilengkapi dengan teknologi AI yang diberi nama "Honda Automated Network Assistant". 
Honda dengan Concept EV car
Mazda memamerkan mobil konsepnya yang bernama "Kai". Mobil berbahan bakar bensin ini dilengkapi dengan mesin keluaran baru yang bernama "Skyactiv-X". Mesin ini diharapkan bisa menjadi mesin yang paling irit bensin namun mempunyai performance yang tinggi. Mesin ini ditunjang dengan arsitektur (platform mobil) yang bernama "Skyactiv Vechile Architecture", yang bisa menganalisa gerak dari pengemudi sehingga diharapkan bisa mewujudkan kenyamanan pengemudi dalam berkendara.
Stan Mazda. Mobil konsep Kai ada di belakang berwarna merah
Selain mobil, ada kendaraan lain misalnya truk, motor dan bus yang dipamerkan. Juga ada beberapa produsen akserori mobil, sound system, dan beberapa produsen komponen mobil dan teknologi lain yang menunjang industri otomotif ikut serta dalam pameran. Untuk anak2, mereka dihibur dengan mainan mobil2-an dari produsen mainan Tomica. Stan Tomica dilengkapi dengan arena permainan anak2, sehingga mereka bisa bermain langsung. Tomica juga merilis mainan mobil2-an khusus dengan tulisan TMS2017 yang hanya dijual saat pameran berlangsung.
EV Car I.D.Buzz dari VW
Ada pula acara menarik lainnya yang dinamakan "Tokyo Connected Lab 2017". Dalam acara ini, pengunjung bisa turut ambil bagian, misalnya untuk menyetir mobil secara virtual bersama dengan 30 user lain, melihat wajah Tokyo masa depan lengkap dengan kendaraan maupun transportasinya yang disajikan dalam teater dome dimana proyeksi film disajikan 360 derajat. Selain itu, pengunjung juga bisa mencoba mengendarai secara langsung produk mobil terbaru dari masing2 perusahaan di area yang sudah disediakan.
BMW Concept 8 Series
Ada applikasi khusus untuk TMS kali ini, yang bisa diunduh melalui Apple Store atau Google Play. Dengan applikasi ini, pengunjung bisa melihat jadwal presentasi di masing2 stan sekaligus mendaftar secara online untuk ikut mendengar presentasi. Atau pengunjung juga bisa reservasi secara online untuk mencoba secara langsung naik mobil/motor yang disediakan di area khusus. Pengunjung juga bisa melihat suasana kepadatan masing2 stan, dimana teknologi sensor panas digunakan, kemudian informasi ini disajikan di layar gawai secara real time.
Bagaimana masa depan otomotif ?
Di pusat kota seperti Tokyo, transportasi umum sudah tersedia secara baik. Namun, mobil pribadi masih tetap dibutuhkan. Penduduk Tokyo juga masih membeli mobil baru, walaupun mereka hanya memakai mobil itu sekali seminggu atau bahkan sebulan.
Mercedes-Benz
Kita juga tidak tahu bagaimana "mobil" yang kita kenal bentuk dan fungsinya sekarang akan ber-evolusi di masa yang akan datang. Walaupun perusahaan2, terutama perusahaan Jepang sudah mencoba memberikan gambaran tentang bagaimana "wujud" kendaraan kita di masa depan dalam event TMS tahun ini. Perusahaan2 itu tentunya juga sedang mencari, bagaimana bentuk kendaraan yang tepat bagi pengguna dimasa datang, dengan tidak mengesampingkan fungsi dan esensi utama dari mobil. 
Audi R8 V10
Selama ini, sesuai namanya, mobil, digunakan untuk mobilitas manusia. Dimasa depan, selain digunakan untuk menggerakkan manusia, mobil juga diharapkan bisa menggerakkan "perasaan" manusia. Mobil, diharapkan bisa ber-evolusi dari sekedar "alat", dengan bantuan teknologi yang berkembang saat ini, fungsinya kemudian bisa bertambah untuk bisa menjadi "partner" manusia.
Lalu, kapan itu semua bisa terwujud? Mari kita tunggu bersama-sama.
Lautan Manusia menunggu masuk area pameran