ラベル indonesia の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示
ラベル indonesia の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示

2018年9月25日火曜日

Antara Angka Nol, Satu, Dua dan Pilpres 2019


Pilpres (Indonesia) memang topik yang selalu menarik untuk dibahas, bahkan bagi media Jepang.
Koran Nikkei yang terbit hari ini (24 September) memuat berita seperempat halaman tentang Pilpres 2019. Saya tidak tahu darimana rujukan berita yang ditulis, namun isinya padat dan lengkap. Bagian menariknya, ditulis disana bahwa Jokowi didukung oleh konglomerat media, sedangkan pihak Prabowo didukung dengan dana yang besar dari kekayaan pribadi Sandiaga Uno sebesar 7 triliun rupiah! (nominal ini bahkan disebutkan sebesar 110 kali lipat jumlah kekayaan dari gabungan tim Jokowi).
Apalagi di Indonesia, tempat akan diselenggarakannya pilpres, tentu hal ini menjadi topik yang hangat (bahkan menjurus ke panas).
Terutama setelah penetapan oleh KPU pada tanggal 21 September yang lalu, angka (yang menurut KBBI adalah tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan) atau nomor (yang juga menurut KBBI adalah angka yang menunjukkan kedudukan dalam urutan, kumpulan dsb), beberapa minggu bahkan beberapa bulan kedepan akan menjadi topik primadona bagi masyarakat maupun media.
Buktinya seperti kita ketahui bersama, setelah melewati undian kemudian KPU menetapkan dan mengumumkan bahwa bagi pasangan capres dan cawapres untuk pilpres 2019 Jokowi-Ma'ruf Amin mendapatkan nomor urut 01, sementara rivalnya Prabowo-Sandiaga Uno mendapatkan nomor urut 02, maka topik ini hangat dibicarakan baik dalam tulisan-tulisan di media sosial maupun dalam media konvensional seperti televisi dan koran.
Saya tidak akan menulis tentang hubungan nomor urut tersebut dengan hal-hal lain, misalnya dengan keberuntungan, sejarah, apalagi dengan urusan klenik. Terutama, bagi saya, angka 1 dan 2 tidak mempunyai kedudukan yang khusus dibanding dengan angka lainnya yaitu 3 sampai 9.
Dalam tulisan ini saya hanya ingin intermeso bahwa angka-angka tesebut sangat unik, terutama jika dilihat dari sudut pandang secara matematika.
Angka 1
Kita mulai dari angka 1. Tahukah anda bahwa angka 1 itu sebenarnya sama dengan 0,99999...(atau 1=0,99999...)?
Kalau tidak percaya, ini pembuktian pertamanya.Coba kita bagi sisi kiri dan kanan masing-masing dengan 3.
1:3=0,33333...
Lalu sebelah kanannya 0,99999...:3=0,33333...Hasil kiri dan kanan sama kan, sebesar 0,33333... Jadi benar adanya 1=0,99999...
Pembuktian keduanya begini. Jika kita misalkan 0,99999...=X.
maka 10X-X=9.Kemudian dari persamaan itu kita dapatkan 9X=9, dan hasilnya adalah X=1.Kalau kita ganti ini di persamaan 0,99999...=X , maka terbukti kan bahwa 0,99999...=1
Terakhir tentang 1, kalau angka 1 dibagi dengan 9801 hasilnya menjadi unik (angka beruntun dari 00 sampai 99) seperti ini:
1:9801=
0.00 01 02 03 04 05 06 07 08 09
   10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
   20 21 22 23 24 25 26 27 28 29
   30 31 32 33 34 35 36 37 38 39
   40 41 42 43 44 45 46 47 48 49
   50 51 52 53 54 55 56 57 58 59
   60 61 62 63 64 65 66 67 68 69
   70 71 72 73 74 75 76 77 78 79
   80 81 82 83 84 85 86 87 88 89
   90 91 92 93 94 95 96 97 98 99
Angka 2
Kemudian untuk angka 2, percayakah anda bahwa 2 sebenarnya sama dengan 1, alias 2=1.Kalau tidak percaya, simak pembuktiannya berikut ini :
Kita umpamakan a=b.
Jika kedua sisi dikali a, maka hasilnya a^2 = ab (catatan : ^ artinya pangkat, jadi ^2 dibaca kuadrat).
Kedua sisi dikurangi b^2, maka hasilnya a^2 - b^2 = ab-b^2.
Dengan bentuk lain (a+b)(a-b)=b(a-b).
Kedua sisi dibagi dengan (a-b), maka hasilnya menjadi a+b=b.
Dari sini , karena perumpamaan awal kita a=b, jika a kita ganti dengan b maka hasilnya akan menjadi b+b=b.
Kalau dipersingkat menjadi 2b=b, lalu kalau kedua sisi dibagi b menjadi 2=1.
Kesimpulannya, 2 itu sebenarnya sama dengan 1 dan 1 itu sebenarnya sama dengan 2.
Jadi saya pikir, nggak perlu berantem antara pendukung 1 maupun 2 :)
Angka Nol
Terakhir, menarik juga untuk disimak seperti yang diungkapkan oleh Sandiaga Uno pada pidatonya setelah penetapan nomor urut, bahwa pada menit-menit terakhir sebelum dimulainya undian, terjadi kesepakatan yang bisa dicapai amat singkat antara Jokowi dan Prabowo untuk menambahkan angka nol didepan nomor urut 1 dan 2.
Kita tahu bahwa angka nol merupakan unsur yang penting, karena tanpa itu ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang seperti saat ini. Khususnya ilmu komputer yang mengenal bilangan biner (0 dan 1), lalu bidang lainnya seperti engineering, kemudian ilmu Fisika, dan terutama Matematika.
Sedikit tentang sejarah angka nol, kalau ditilik dari asal muasalnya, nol sebagai angka ditemukan oleh Brahmagupta dari India pada abad ke-5 masehi. Walapun pada masa sebelumnya, nol juga sudah dipakai oleh bangsa Sumeria maupun bangsa Maya. Bedanya, mereka memakai nol bukan sebagai angka (digit) yang membedakannya dari angka 1 sampai 9, melainkan hanya memakainya sebagai penanda dari puluhan, ratusan dan sebagainya.
Menurut Zero Project, angka nol bisa lahir (ditemukan) karena berangkat dari pemikiran atau filsafat yang berkembang pada saat yang sama, yang menggambarkan ketiadaan pada suatu benda, atau tidak ada nilai pada suatu keadaan tertentu, maupun keadaan hati yang kosong tidak ada apa-apanya.
Dalam Bahasa Jepang, keadaan itu biasa disebut sebagai kuukyo (atau kyomu) dan dari tidak ada apa-apa itu juga bisa menjadi titik awal. Pada titik awal ini maka semua keadaan, wujud, bentuk atau apapun akan dimulai.
Keadaan kosong ini bukanlah hal yang jelek (negatif) karena seperti peribahasa Jepang yang sering diucapkan berbunyi "genten ni modoru", yang artinya kembali ke titik awal atau ke keadaan yang kosong tidak ada apa-apa. Terutama peribahasa ini sering diucapkan saat hati kita sedang gundah gulana, atau pada saat kita mendapat masalah yang bikin kepala pusing tujuh keliling.
Kembali ke titik awal, ke titik nol bisa membantu kita untuk berpikir jernih, karena tidak ada hal yang mengganggu pikiran. Titik awal adalah suatu keadaan yang belum ada apa-apa alias keadaan kosong.
Dari keadaan kosong itulah titik start kita untuk kembali berpikir memecahkan masalah atau mengusir perasaan gundah gulana kita.
Maka tepat kiranya kalau nomor urut masing-masing pasangan dimulai dengan angka nol, karena diharapkan agar kedua pasangan mengingat kembali titik awal, sehingga bisa berpikir jernih dan menggali kembali apa makna dan tujuan sebenarnya dari kontestasi pilpres nanti.
Lebih penting lagi diharapkan juga agar masyarakat pendukung dari masing-masing pasangan bisa memaknai titik awal (titik nol) ini, sehingga bisa lebih wawas diri dan tidak membuat aksi yang berlebihan, kemudian menjadikan pemilu dan hasilnya sebagai titik awal untuk menyongsong IndONEsia yang Maju di masa datang.

2018年8月17日金曜日

Cerpen | Kemenangan Simbok Lawan Simbol


Entah darimana asal amplop besar berwarna coklat itu, karena ketika Puutaro duduk di meja kantornya yang berantakan, benda itu sudah tergeletak disana.
Meskipun pekerjaannya adalah seorang editor dari majalah tabloid populer, gajinya hanya pas-pasan saja. Sehingga Puutaro memang jarang pulang ke rumahnya, karena untuk mengirit ongkos pulang dan pergi. 
Dia tidur di ruang serbaguna, yang biasa digunakan untuk rapat dan juga untuk keperluan lain. Hanya sesekali saja dia pulang ke rumahnya dalam sebulan, seperti kemarin. Dia memang merasa lebih nyaman berada di ruang kantornya, yang berjarak hanya 200 meter dari stasiun Ekoda.
Dia mengambil amplop itu, dan mendapati tulisan dengan huruf besar "Dari 9 Samurai" di luarnya.
Didalamnya dia menemukan satu kaset yang berlabel "kemenangan simbol". Zaman sekarang, amat jarang orang yang masih punya pemutar kaset. Namun untungnya, dia masih mempunyai satu pemutar kaset kecil, yang disimpan di lemarinya yang penuh sesak di ruangan yang sempit itu. 
Seingatnya, benda itu dia beli di Akihabara puluhan tahun yang lalu, ketika para pasokon-otaku*1) masih banyak berkeliaran disana. Tidak seperti sekarang, Akihabara sudah menjadi surganya anime.
Melihat kata simbol, ingatannya kembali sewaktu dia masih menjadi koukousei.*2)
Saat itu, dia memang paling susah untuk menghafal simbol unsur kimia yang tertulis di tabel periodik unsur kimia. Meskipun begitu, dia terkagum-kagum kepada sosok Dmitri Mendeleev, yang dengan cerdiknya bisa membuat tabel periodik, sehingga memudahkan jalan bagi orang untuk memahami unsur-unsur kimia tersebut.
Lalu, zaman dia sekolah dulu, simbol juga digunakan di pelajaran lain, misalnya matematika, geografi dan fisika.
Kemudian ingatannya melayang sejenak kepada Fumiko san, guru cerdas namun cerewet yang menjadi wali kelasnya.
Segera dia memasukkan kaset ke pemutar, dan menekan beberapa kali tombol play yang memang sudah agak macet. Dia melihat gulungan kaset mulai berputar, dan pita mulai bergerak dari kiri ke kanan.
"Baik, sekarang mari kita mulai perundingan untuk menentukan calon wakil saya untuk sousenkyo*3) tahun depan."
Dia mengenal baik suara itu, suara dari Joujima souridaijin*4) yang amat dikagumi Puutaro, seorang pekerja keras.
"Apakah kita akan fokus ke rencana kita semula, maju dengan wakil yang sudah kita bicarakan sebelumnya?"
Joujima melanjutkan pembicaraan.
"Tentu, karena memang dialah orang yang paling cocok untuk keadaan sekarang ini."
"Ya, kita harus terus."
Terdengar ada dua orang yang bersahutan memberikan tanggapan positif. Puutaro bisa memastikan, itu suara dari orang-orang partai merah dan kuning.
Puutaro akhirnya paham bahwa ini adalah kaset rekaman yang diambil secara diam-diam, dari perundingan 9 partai yang berlangsung sebelum mereka mengumumkan wakil dari Joujima. Banyak orang yang menebak-nebak bagaimana perundingan saat itu berjalan, karena pengumuman wakilnya saat itu membuat orang terkejut.
Tapi, sepertinya perekam diletakkan agak jauh dari meja perundingan, karena terkadang Puutaro tidak bisa mendengar dengan jelas suara dari kaset. Dia hanya tahu bahwa orang-orang yang hadir disana terus berdiskusi, dan kalau boleh dibilang tampak berdebat dengan nada tinggi antara satu dengan yang lain.
Puutaro terus mendengarkan kaset, sambil membaca majalah yang tadi dibelinya di Family Mart.
"Tapi kita tidak akan bisa menang karena keadaan akhir-akhir ini sangat serius. Terutama serangan dari lawan-lawan kita amat gencar dan makin tidak terkendali."
Puutaro terkejut mendengar suara lantang itu. Lalu dia meletakkan majalahnya, agar bisa sedikit konsentrasi mendengarkan rekaman kaset. Dia ingat suara itu sepertinya dari perwakilan partai hijau.
"Kita butuh kartu As, yang bisa membuat mereka mati kutu!"
Ah, benar memang orang dari partai hijau itu sepertinya.
Puutaro ingat, bahwa orang yang sama juga berkata akan meninggalkan koalisi jika calon bukan dari partai mereka.
"Saya yakin kita bisa menang dengan strategi ini."
Orang itu melanjutkan kata-katanya.
"Ya, tetapi bukankah nanti banyak orang yang bertanya karena calon tersebut merupakan bagian dari kelompok yang membuat kegaduhan waktu itu?"
Puutaro menebak ini suara orang yang agak muda, namun dia tidak ingat dan tidak yakin siapa dia.
Memang keadaan politik menjadi agak gaduh setelah pemilihan kenchiji *5) tahun lalu.
Kenchiji yang lama harus rela melepas jabatannya karena dia kalah, dan kemudian dijebloskan ke penjara karena perkataannya.
Puutaro merenung sebentar.
Sepengetahuan Puutaro, simbol, seperti yang tertulis pada label kaset, secara umum melambangkan sesuatu yang tidak bisa dikenali secara langsung oleh pancaindra seperti mata atau telinga.
Contohnya, pada kata "Burung Dara adalah simbol perdamaian". Orang tentunya tahu dan bisa kenal dengan yang namanya Burung Dara, tapi apakah orang bisa tahu apa itu perdamaian?
Puutaro sangsi akan hal itu.
Dia berpikir, mungkin ada diantara orang yang berpendapat misalnya, jiwa tenteram itu adalah wujud dari perdamaian. Namun, Puutaro yakin bahwa tenteram disini juga suatu keadaan yang abstrak. Lain orang akan punya lain pendapat juga tentang apa dan bagaimana tenteram itu.
Lalu, Puutaro juga pernah membaca, entah dimana dia agak lupa, bahwa simbol menurut asal katanya berasal dari Bahasa Yunani symbolon (kata benda) yang berasal dari kata kerja symballein.
Arti asalnya adalah dua benda yang kemudian dibelah, lalu kedua benda tersebut dipegang oleh dua orang (kelompok) yang berbeda.
Masing-masing belahan itu digunakan kembali untuk membuktikan, misalnya jika dua orang (atau kelompok) itu berjanji sesuatu, dikemudian hari mereka (dua orang atau dua kelompok itu) menyatukan kembali masing-masing potongan untuk membuktikan bahwa kedua orang (kelompok) itulah yang memang membuat perjanjian sebelumnya.
Karena Puutaro tinggal di Jepang, maka dia paham betul contoh nyata simbol dalam pemerintahan yaitu Kaisar, merupakan simbol dari negara Jepang. Simbol ini mempunyai dasar yang kuat karena telah dituliskan secara jelas di dalam Kenpou *6) pada ayat pertama. Sehingga, mengenai simbol ini tidak ada orang yang protes, karena semua orang pasti akan mengamininya.
Saat ini dia juga tidak tahu pasti kenapa amplop yang berisi kaset berlabel "kemenangan simbol" dikirimkan kepadanya, entah oleh siapa.
Mungkin pengirimnya tahu bahwa Puutaro, selain menjadi editor, dia sering juga menulis kritikan keras mengenai penyalahgunaan simbol-simbol  untuk kepentingan politik.
"hidup simbol!"
"hidup simbol!"
"hidup simbol!"
Pekikan keras "hidup simbol!" sebanyak 3 kali yang terdengar dari kaset yang sedang diputar itu, membuyarkan perenungan Puutaro.
Sepertinya, itu juga menjadi bagian akhir dari rekaman kaset yang diambil secara diam-diam. Rekaman kaset berdurasi kurang lebih 30 menit. Sangat singkat.
Sebenarnya Puutaro kurang bisa mendengar dengan jelas jalannya perundingan dari suara rekaman kaset itu. Yang pasti, banyak perbincangan dan sepertinya ada sedikit desakan dimenit terakhir perundingan. Puutaro berpikir mungkin ini  yang kemudian menghasilkan pengumuman yang mengejutkan itu.
Satu hal yang dimengerti dengan terang benderang oleh Puutaro adalah, pada akhirnya simbol jugalah menentukan pilihan.
Simbol melawan simbol.
Mungkin juga, simbol, digunakan dengan tujuan seperti fungsi awalnya yaitu untuk "perjanjian". Mungkin juga sudah ada janji-janji yang terselubung dibalik "simbol-simbol" itu.
Matahari mulai merangkak naik. 
Puutaro kemudian beranjak mendekati jendela untuk sedikit menutup gorden agar sinar mentari di musim panas tidak banyak masuk ke ruangannya yang sempit dan pengap.
Rasa lapar mulai menjangkitinya, sehingga dia kemudian membuka bungkusan bento *7) yang dibuat oleh simbok *8).
Sebagai orang Jepang, memang Puutaro jarang memanggil ibunya dengan sebutan okaasan, atau ofukuro seperti umumnya orang Jepang. Dia lebih nyaman memanggil ibunya dengan sebutan simbok, dan terbiasa dengan panggilan itu. Karena dulu waktu kecil, dia pernah tinggal di suatu tempat di Pulau Jawa, mengikuti ayahnya yang bertugas menggarap proyek PLTA disana.
Setelah membuka tutup bentonya, dia tersenyum sumringah melihat lauk yasai itame *9) ditambah dengan 5 buah sosis goreng, menu kesukaannya. 
Simbok memang paling tahu apa yang dia suka dan selalu ingin membuat Puutaro bahagia. Puutaro bisa merasakannya.
Sekarang pikirannya tidak lagi tertuju pada simbol, yang dia dengar dari kaset yang diputarnya tadi. Dia melahap bentonya, sambil sesekali minum ocha dalam botol plastik yang dibelinya di vendingdalam perjalanannya ke kantor tadi.
Baginya, simbok adalah pahlawan yang selalu menang, yang melebihi dan bisa mengalahkan simbol.
Catatan :
1) pasokon-otaku : maniak komputer
2) koukousei : anak SMA
3) sousenkyo : Pemilu
4) souridaijin :  perdana menteri
5) kenchiji : gubernur
6) kenpou : UUD Jepang

7) bento : nasi lengkap dengan lauk pauk dalam wadah tertutup kecil 
8) simbok : ibu
9) yasai itame : oseng sayuran

2018年7月31日火曜日

Perjuangan Makan Rendang di Festival Indonesia 2018 Hibiya Park

Pintu masuk Festival Indonesia
Tanggal 28 Juli yang lalu, angin topan nomor 19 atau yang diberi nama angin topan Jongdari yang berasal dari Laut Pasifik, mendarat di Pulau Honshuu dari arah timur lalu ke barat dengan lintasan pergerakannya seperti huruf "S" terbalik. Kabarnya angin topan ini memakan korban 1 orang, yang dinyatakan hilang.
Di Tokyo pun hempasan angin kencang sudah terasa sejak Sabtu lalu dan cukup sering hujan besar turun dengan tiba-tiba walaupun tidak untuk jangka waktu yang lama. Saya sebenarnya rencana pergi ke Festival Indonesia, tangal 28 Juli (Sabtu) kemarin. 
Namun, karena angin topan (yang memang banyak terjadi di sekitar musim panas seperti sekarang ini) yang datang, maka saya mengurungkan niat. Karena itu, baru hari Minggu tanggal 29 Juli, kesampaian niat saya untuk mengunjungi Festival.
Tahun ini hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jepang memasuki tahun ke-60. Perjanjian perdamaian antara Indonesia dan Jepang ditandatangani pada tanggal 20 Januari 1958, dan sejak itu pula hubungan diplomatik antara kedua negara mulai terjalin. Indonesia dan Jepang merupakan mitra strategis, dimana Jepang menduduki urutan ke-3 sebagai pasar ekspor dari produk-produk Indonesia. 
Sebaliknya bagi Indonesia, Jepang adalah investor kedua terbesar, khususnya di sektor infrastruktur. Kerjasama dari kedua negara dilakukan di berbagai bidang, tidak hanya dalam bidang ekonomi dan politik, namun juga dalam bidang sosial sampai dengan budaya.
Lokasi Festival Indonesia di Hibiya Park
Momen peringatan 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara diperingati dengan berbagai acara yang dilangsungkan baik di Indonesia maupun di Jepang. Di Indonesia, awal tahun ini diadakan pertandingan persahabatan J League Asia Challenge antara Tokyo FC dan Bhayangkara FC. Selain itu banyak juga diadakan pergelaran budaya Jepang di Indonesia. Di Jepang sendiri, ada beberapa acara yang berhubungan dengan itu. 
Misalnya pada bulan April lalu dilangsungkan acara simposium yang membahas tentang hubungan antara Indonesia dan Jepang, terutama dalam hal bisnis. Acara ini dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla.
Kemudian masih dalam rangka momen 60 tahun tersebut, diadakan acara Festival Indonesia di Hibiya Park, yang dihadiri oleh Ibu Megawati Soekarnoputri, Menko PMK Puan Maharani, MenKUKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Dubes RI untuk Jepang Arifin Tasrif, Wakil Menlu Jepang Iwao Horii, Wakil Presiden Japan-Indonesia Association Kojiro Shiojiri, Anggota DPR RI Herman Hery, serta Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey.
Hibiya Park merupakan taman kota yang berada dekat dengan pusat bisnis Yuurakucho maupun Stasiun Tokyo dan juga dekat dengan lokasi beberapa gedung pemerintahan dan juga gedung parlemen Jepang yang berada di area Kasumigaseki. Luas area taman sekitar 162 ribu meter persegi, dimana selain dilengkapi dengan panggung permanen untuk pementasan, juga banyak ditumbuhi pepohonan dan ada lapangan rumput luas di tengahnya. 
Karena lokasinya yang strategis dan juga kemudahan akses terutama melalui jalur transportasi publik seperti kereta api, maka Hibiya Park sering digunakan untuk berbagai macam acara, misalnya festival, acara kebudayaan dan acara lainnya.
Promosi dari salah satu stan yang memajang replika Komodo
Festival Indonesia digelar 2 hari di sini, yaitu tanggal 28 dan 29 Juli 2018. Festival Indonesia ini diisi dengan panggung pagelaran budaya tradisional Indonesia, pameran hasil kerajinan dan juga penjualan produk makanan/minuman indonesia, workshop untuk anak-anak, area kuliner yang menyajikan makanan Indonesia, serta promosi (wisata) dari berbagai daerah di Indonesia dan terutama promosi Asian Games yang kurang dari satu bulan lagi akan dilangsungkan di Jakarta dan Palembang.
Sayangnya, saya tidak sempat menikmati pementasan Tari Salman dan juga parade serta pertunjukan Reog Ponorogo, karena sepertinya acara itu hanya dilangsungkan di hari pertama. 
Di hari kedua, saya sempat menikmati pertunjukan angklung, lalu juga menikmati alunan lagu dari Keroncong Tugu yang menyanyikan lagu-lagu daerah Indonesia dan juga lagu Jepang yang bisa dikatakan paling populer di Indonesia yaitu kokoro no tomo.
Pengunjung yang antusias mendengar serta berjoget dengan iringan Keroncong Tugu 
Di area workshop, pada hari Minggu saya melihat anak-anak serius mengikuti acara mewarnai topeng. Topeng kecil seukuran tangan kemudian diwarnai dengan cat yang sudah disediakan. Lalu ada juga beberapa stan yang menjual produk makanan dipenuhi pengunjung, karena mungkin mereka juga tidak sempat datang di hari sebelumnya, terlebih  karena memang beberapa memberikan diskon khusus sampai dengan 50 persen.
Antusias dari masyarakat Indonesia yang tinggal di Tokyo (dan sekitar) serta masyarakat Jepang sendiri amat besar, terlihat dari pengunjung yang membeludak menghadiri acara ini. Suasananya di dalam area festival seperti di Indonesia, karena kita bisa mendengar percakapan dalam Bahasa Indonesia dan beberapa bahasa dari daerah lain di Indonesia. 
Pengunjung terlihat ceria karena selain bisa melupakan sejenak rasa penat setelah seminggu bekerja, pastinya mereka juga senang karena bisa menikmati masakan Indonesia, yang memang jarang ditemukan di Tokyo.
Seperti juga saya, sangat antusias karena saya bisa memuaskan keinginan saya untuk menyantap hidangan Indonesia. Memang ada beberapa restoran yang menyajikan masakan Indonesia di Tokyo, dan juga di daerah sekitar seperti di Yokohama sampai ke Hiratsuka, dimana letaknya satu sama lain saling berjauhan. 
Namun khusus hari itu, kita bisa langsung mencoba semuanya hanya dalam beberapa langkah kaki saja karena stan mereka berdekatan jaraknya.
Antri panjang di stan Restoran Padang
Tapi tunggu dulu. Walaupun jarak antara stan berdekatan, namun tidak mudah untuk mendapatkan makanan yang kita inginkan karena harus berjuang diantrean yang panjang. Sehingga saya harus pikir-pikir untuk antre di stan yang mana, karena saya memperkirakan butuh waktu lebih dari 30 menit untuk sampai ke baris paling depan.
Setelah menimbang sejenak, maka saya memutuskan untuk antre di stan yang menjual rendang karena saya tidak tahu lokasi warung si empunya walaupun namanya ditulis besar-besar di stan. Selain itu, karena selama ini saya belum bisa menemukan restoran yang menjual rendang yang "enak" di Tokyo. 
Warung Sederhana Padang
Saya juga membayangkan, kalau melahap nasi panas dengan lauk rendang yang pedas di musim panas dan berkeringat seperti ini, tentunya akan bisa membuat sensasi tersendiri.
Setelah antre, perkiraan saya tidak meleset karena butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke barisan paling depan. Namun, saya kecewa karena ternyata nasi sudah habis dan kalau "ngotot" mau makan nasi juga,  harus rela menunggu sekitar 30 menit lagi! Tentunya saya tidak mau membuang waktu untuk menunggu lebih lama, karena perut sudah tidak bisa diajak kompromi. Sehingga saya memesan rendangnya saja tanpa nasi, dan berencana untuk menyantapnya di rumah. 
Untuk mengganjal perut yang sudah "menagih" jatah, saya hanya memesan risoles dan es rujak di stan itu. Saya lalu pindah ke stan lain untuk kembali antre memesan bakso serta siomay, kemudian setelah selesai melahapnya ganti antre di stan yang lainnya untuk membeli batagor, dan tak ketingalan es campur untuk melepas rasa dahaga. Pokoknya, waktu saya habis hanya untuk antre dan makan saat itu :)
Lapangan rumput di Hibiya Park 
Walaupun kecewa karena saya tidak bisa menyantap rendang di area festival, namun saya puas karena akhirnya saya bisa makan rendang dengan nasi hangat setelah saya pulang ke apartemen. Memang makan rendang dengan nasi hangat bisa menimbulkan sensasi yang tersendiri. 
Terutama bagi saya yang sudah terbiasa dengan masakan Jepang, yang menurut lidah saya sedikit "garing" karena hanya mempunyai rasa asin dan sedikit manis. Rasa dari masakan Indonesia, terutama rendang yang "nanonano", memang tidak ada bandingannya di dunia!
Di acara Festival Indonesia itu saya tidak sempat menyaksikan pertunjukan artis seperti RAN dan GIGI karena saya harus antre makanan dan juga saya sempatkan untuk melihat-lihat stan pameran dari berbagai instansi yang memamerkan hasil kerajinan serta makanan dari Indonesia. 
Saya hanya sempat melihat parade Ondel-ondel yang berkeliling area. Kemudian saya juga sempat membeli kopi Toraja dan kerupuk udang, yang bisa saya nikmati nanti ketika saya "kangen" Indonesia.
Parade ondel-ondel berkeliling area Festival 
Acara Festival Indonesia ini menarik karena memang di Hibiya Park tersedia berbagai fasilitas seperti bangku dan taman yang bisa dipakai untuk duduk dan menikmati makanan. Lapangan rumput juga ada, sehingga bisa dipakai untuk beristirahat sambil berselonjor. 
Bahkan toilet pun juga cukup tersedia di dalam area taman. Pepohonan yang rindang serta adanya air mancur dan beberapa kolam juga menambah sejuk suasana, terutama di musim panas seperti sekarang ini.
Semoga acara seperti ini lebih sering diadakan, karena selain bisa mengobati rasa kangen para perantau seperti saya akan cita rasa masakan Indonesia, tentunya juga bisa jadi ajang untuk promosi Indonesia di Jepang.
Akhirnya menyantap rendang dengan nasi hangat di rumah plus batagor

2018年3月18日日曜日

Internet itu Madu apa Racun ?


" ...Madu di tangan kananmu
  Racun di tangan kirimu
  Aku tak tahu
  Mana yang akan kau berikan padaku..."
Itu adalah sepenggal lirik dari lagu yang berjudul "Madu dan Racun" yang dipopulerkan oleh Arie Wibowo (Bill & Brod) di tahun 80-an. Penggalan lirik itu saya kita pas banget untuk menggambarkan apa yang terjadi dengan Internet saat ini. Internet bisa berperan sebagai madu, juga sekaligus bisa menjadi racun kalau kita salah pilih atau salah menggunakannya.
Di Internet, hampir semua hal bisa kita temui dengan mudah. Informasi dengan berbagai macam konten juga kita bisa temukan. Mulai dari konten yang berhubungan dengan iptek, sejarah, kebudayaan, sosial, agama, sampai konten yang berhubungan pornografi pun ada. Kita bisa menemukan konten berisi how-to---yaitu cara2 membuat sesuatu---misalnya  how-to  adonan, mulai dari cara membuat adonan yang enak seperti kue atau masakan lezat dengan informasi bahan2 dan sekaligus tayangan video pembuatannya, sampai cara membuat adonan yang "mengerikan" seperti cara membuat bom rakitan, juga lengkap dengan bahan2 dan sekaligus video cara pembuatannya. Cara membuat adonan kue merupakan "madu" internet, tapi adonan bom ?? Bukankah ini "racun" jika dimanfaatkan oleh orang2 yang berpikiran "sempit" yang ingin mengumbar ego jahatnya ?
Jika kita menyimak berita terkini di tanah air, yang belum lama tentang ada anak yang menyaksikan konten pornografi, maupun yang terjadi beberapa waktu lalu yaitu tertangkapnya gerombolan pembuat berita bohong (hoax), bisa menjadi bukti nyata yang lain bahwa Internet memang bisa menjadi racun bagi orang yang tidak dibekali dulu dengan "pengetahuan" yang cukup, atau jika dimanfaatkan tanpa pendampingan orang2 yang lebih mengerti dan bijak misalnya para orang tua dan orang dewasa yang berwawasan luas. Sebenarnya hal ini bukan hanya masalah di Indonesia saja. Di luar negeri pun ada, misalnya dengan terungkapnya jaringan yang dicurigai menyebarkan berita palsu di Rusia yang mempengaruhi hasil pilpres di Amerika dengan terpilihnya Trump sebagai presiden.
Entah apa kata Vint Cerf dan Bob Kahn yang menemukan TCP/IP yang menjadi dasar dari protokol komunikasi data di Internet jika mengetahui bahwa saat ini Internet telah dipenuhi juga dengan hal2 yang negatif yang berperan sebagai "racun" di Internet. Kita juga tidak tahu bagaimana perasaan Sir Tim Berners-Lee---orang yang pertama kali membuat World Wide Web (biasa dipersingkat menjadi Web, dengan situs yang pertama kali dia buat bisa dicheck di link ini) yang menjadikan Internet sebagai sumber informasi yang menarik karena tidak melulu berisi teks, namun kita bisa juga melihat gambar maupun video, suara, bahkan saat ini dengan konten interaktif yang lain---ketika mengetahui Web telah dipakai juga untuk membuat dan menyebarkan "racun".
Mungkin generasi zaman now tidak tahu betapa sulitnya zaman dahulu untuk sekedar "menyambungkan" satu komputer dengan komputer lain---misalnya dengan UUCP---dan tidak seperti sekarang yang cuma butuh menancapkan kabel ethernet lalu sedikit tambahan berapa klik di layar komputer. Atau mungkin juga susah bagi generasi zaman now untuk membayangkan bagaimana repotnya melakukan pertukaran data yang saat itu hanya bisa dilakukan melalui FTP. Bahkan untuk mencari suatu topik informasi, mesin pencarian yang handal belum ada sehingga harus susah payah menggunakan Archie atau Gopher. Belum lagi ada keterbatasan koneksi internet yang super-duper lemot.
Zaman dulu, bagi penikmat film horor, tidak perlu pergi ke bioskop untuk nonton film horor. Cukup duduk manis atau leha-leha di rumah saja tengah malam. Soalnya,jika ada anggota rumah yang gemar main Internet tengah malam (karena tengah malam biasanya koneksi lebih "cepat"---line telepon lebih sepi dan stabil---dibanding koneksi waktu siang/sore), suara berisiknya modem sudah bisa jadi "horor" tersendiri yang bisa membangunkan seisi rumah. Bahkan saat ini, kata "modem"---walaupun beberapa tahun kebelakang masih ada USB modem untuk koneksi seluler ke Internet dan tidak berisik---sendiri juga sudah "punah" karena tergerus oleh kata "tethering" maupun "wifi"  juga "free hotspot".
Orang juga tidak perlu susah2 belajar socket programming  dengan memakai distro Unix BSD yang tidak populer untuk melaksanakan keinginannya misalnya untuk komunikasi antar server, karena di Internet program2 siap pakai sudah tersedia untuk kebutuhan tersebut dan bahkan kita tidak perlu merogoh kocek untuk menggunakannya alias gratis. Lebih ngeri lagi, untuk menjadi hacker/cracker  (hacker/cracker jadi2-an atau karbitan) pun kita tidak usah belajar susah2 karena banyak yang menyediakan tutorial gratis plus dengan menyediakan berbagai macam tools  (program) yang bisa langsung digunakan hanya dengan beberapa klik jari saja.
Pengguna Internet di Indonesia
Menurut imajinasi "liar" saya, sebenarnya gampang menggambarkan tipe orang Indonesia. Kita bisa membagi orang Indonesia (menurut imajinasi liar saya tadi) menjadi 3 tipe, yaitu  : (1) tipe penggiat medsos, (2) tipe yang sedang mempelajari dan punya keinginan untuk menjadi penggiat medsos dan (3)  tipe orang yang cuex bebek akan medsos. Omong2, pembaca tipe yang mana nih ? :)
Menurut data tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Hootsuite---sebuah perusahaan platform manajemen sosmed---penetrasi pengguna Internet di Indonesia sebenarnya tidak terlalu besar, yaitu sekitar 51%, hanya lebih besar 1% dari persentase rata2 penetrasi pengguna Internet di dunia. Jumlah ini masih jauh dibawah negara ASEAN lain seperti Filipina, Thailand bahkan Vietnam. Namun untuk persentase perkembangan pengguna Internet dibandingkan tahun sebelumnya (2016), Indonesia menempati posisi teratas dibanding dengan negara lain.
Jumlah rata2 waktu yang dihabiskan orang Indonesia di depan komputer maupun gawai untuk Internet adalah sekitar 4 jam. Ini menempatkan posisi Indonesia di peringkat ke-4 setelah Filipina, Brazil dan Thailand. Persentase kenaikan pengguna sosmed Indonesia juga tinggi, yaitu sekitar 34%, yang menempatkan Indonesia di urutan ke-4 dunia. Bahkan untuk jumlah pengguna Facebook (aktif), Indonesia juga menempati urutan 4 dunia setelah Amerika, India dan Brazil.
Saya tidak mau berspekulasi tentang apa saja yang dilakukan orang Indonesia selama 4 jam di Internet. Bisa saja mereka menghabiskan waktu dengan, misalnya mencari info tentang bagaimana cara memasak Jengkol yang praktis dan hasilnya juga enak untuk dinikmati. Atau bisa jadi mereka mencari presentasi TED yang menarik untuk disimak. Lalu bisa juga mereka banyak yang mengikuti kursus2 yang ditawarkan universitas Te-O-Pe dunia melalui Mass Open Campus. 
Tapi, tidak bisa dipungkiri juga bahwa ada beberapa gelintir orang yang tahan berjam2 untuk "berselancar" di Internet sekedar untuk meng-"kepo"in aktifitas tetangga, rekan kantor, atasan bahkan mantan gebetan dan mantan2 yang lain. Bahkan ada kenyataan bahwa sebagian gemar juga men-share  berita2 "sampah", bahkan beberapa rela membuat sendiri berita2 "sampah" itu. Sepertinya orang2 ini belum tahu bahwa dengan menyampah di Internet sebenarnya mereka sudah menggunakan sia2 sumber daya Internet Bandwith  yang semakin terbatas dan langka. Belum lagi urusan sampah di sungai bahkan di laut, sampah di Internet tentu bikin puyeng dan merusak "pemandangan" juga.
Kembali ke topik Internet di Indonesia, cara akses orang ke Internetnya pun bermacam2. Sebagian orang mungkin meng-akses Internet melalui PC dengan fix atau leased line baik melalui ADSL atau melalui jaringan TV kabel yang menggunakan kabel coaxial maupun fiber-optic. Namun saat ini, saya pikir akses dari gawai adalah yang terbanyak karena praktis, yaitu tidak perlu punya PC/Notebook dan akses bisa dilakukan dimana saja, misalnya sambil ngopi di warteg, sambil brunch di kafe atau sambil mancing bahkan sambil bobo2-an siang.
Untuk koneksi gawainya, bagi yang punya penghasilan "lebih" mereka bisa pakai program data pasca bayar, atau juga bisa beli paket promosi data yang ditawarkan dengan heboh di iklan2 (terlepas dari benar atau tidaknya promosi itu). Bagi para "fakir data", bisa juga memanfaatkan wifi gratis di warung2 kopi (tentunya dengan kerelaan membeli secangkir kopinya) atau nyemil sekedarnya di warung demi mendapatkan wifi gratis. Atau bagi orang kantoran, bisa juga nebeng koneksi wifi di kantor. Bagi orang2 yang sedikit "kreatif", bisa juga install beberapa program yang mempunyai kemampuan untuk cracking password wifi atau bahkan bisa cracking tethering  dari gawai orang lain sehingga dia bisa melalukan koneksi gratis ke Internet.
Anda adalah penentu
Internet adalah seperti toko serba ada. Informasi apapun bisa anda dapatkan dengan mudah. Penentu apakah Internet itu madu atau racun sebenarnya adalah anda sendiri. Bagaimana anda menyikapi informasi yang anda dapat di Internet, kemudian bagaimana anda menyebarkan informasi itu jika anda bisa memetik manfaatnya atau jika anda pikir itu bermanfaat juga bagi orang lain. Sebaliknya, bagaimana anda punya kemampuan untuk bisa menyortir dan membuangnya (atau paling tidak bisa tahan diri untuk tidak menyebarluaskannya) jika informasi itu tidak bermanfaat atau bahkan bisa membahayakan pembaca yang tidak siap atau kurang pengetahuan/wawasannya.
Ada beberapa cara untuk memilah mana berita yang bermanfaat dan tidak (berita sampah), misalnya dengan tidak langsung mempercayai link yang ditampilkan paling atas dalam mesin pencari google. Atau anda bisa juga check siapa sumber beritanya, karena orang yang biasa menyebarkan berita bohong, tentunya rekam sepak terjangnya pun terus menerus menyebar berita bohong. Juga, anda bisa check berita yang sama, namun usahakan beritanya dibaca dari berbagai sumber sebagai bahan perbandingan.  
Dunia Internet harus diperlakukan sama dengan dunia nyata, yaitu perlu kedewasaan dari masing2 pengguna untuk menyikapi informasi yang disajikan disana. Sopan santun yang berlaku di dunia nyata tentunya juga otomatis berlaku di Internet, walaupun caranya tentu berbeda. Dan lebih penting lagi, kita harus mempersiapkan diri kita masing2 dengan pengetahuan (walaupun sedikit demi sedikit) tentang teknologi Internet, maupun perkembangan teknologi lain secara umum agar kita tidak gagap dan kemudian kalap tidak tahu bagaimana menghadapi dan menyikapinya.
Yang terakhir, ungkapan yang waras ngalah sebaiknya tidak diterapkan dalam menghadapi arus informasi yang membeludak di Internet. Yang waras (baca:bijak) plus melek teknologi sebaiknya juga memberikan panduan atau bimbingan tentang bagaimana memanfaatkan teknologi itu untuk tujuan kebaikan bersama. Orang tua, guru, dosen, para petingi di kantor juga harus mendampingi putra-putri, murid, mahasiswa, karyawannya masing2 agar bijaksana memanfaatkan Internet.
Internet adalah suatu teknologi yang luarbiasa yang bisa mengubah cara hidup manusia ke arah yang lebih baik di berbagai bidang. Tapi di sisi lain, dia juga bisa menjadi sesuatu momok yang menakutkan dan bisa merusak kehidupan kita. Internet bisa menjadi madu yang lezat dan menyehatkan, namun disisi lain dia juga bisa menjadi racun yang mematikan. Dan kuncinya adalah, tergantung pada anda sendiri, bagaimana anda menyikapi semua itu. Sudah siapkah anda menentukannya ?

2018年1月6日土曜日

Are You Happy ?

Terbang mencari kebahagiaan (Foto Migrasi Burung di Nagano)
"Selamat Tahun Baru. Saya bergembira karena bisa merayakan Tahun Baru bersamaanda sekalian. Harapan saya, semoga di tahun ini, ada lebih banyak orang bisahidup tenang dengan hati yang tentram. Memasuki awal tahun ini, saya berdoa untuk kebahagiaan kita dan bangsa2 di dunia."
Itulah kata2 dari Kaisar Jepang dalam acara tahunan setiap awal tahun (tanggal 2 Januari) dari balkoni di chouwaden, di dalam komplek kediaman Kaisar di Tokyo, menyambut masyarakat yang datang ke sana.
Seorang Kaisar sampai berdoa demi kebahagiaan rakyat dan bangsa2. Lalu, kita pun tentunya mempunyai pertanyaan, "Apakah bahagia itu ? Bagaimana kita bisa (merasa) bahagia ?" 
Tiap orang tentu mempunyai ukuran dan parameter sendiri tentang apa yang bisa membuat dirinya menjadi (atau setidaknya merasa) bahagia. Tentunya, ukuran bahagia dari seseorang juga relatif, tidak dapat langsung diterapkan pada orang lain. Artinya, kalau satu orang itu misalnya merasa bahagia ketika dia makan enak (enak menurut definisinya sendiri), belum tentu orang lain bisa merasa bahagia jika dia makan makanan yang sama (disamping rasa "enak" sendiri juga relatif).
Bahagianya anak-anak
Menurut hasil survei yang dirilis tahun 2015 oleh OECD sebagai hasil pengumpulan data dari anak2 usia 15 tahun dalam program yang bernama PISA, dari 47 negara yang menjadi objek pengumpulan data, Republik Dominika dan Meksiko berada urutan paling atas untuk tingkat rasa kebahagiaan yang dirasakan. Hasil ini mengungguli negara2 maju seperti Finlandia, Perancis, Amerika dan lainnya. Jepang sendiri ada pada urutan terburuk 5 besar, sedikit lebih baik bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Korea, Taiwan maupun Hongkong, yang berada di urutan di bawahnya.
Apa yang menjadi alasan anak2 itu merasa bahagia di negara2 yang kita tahu angka kemiskinan dan juga kejahatannya masih tinggi tersebut?
Ternyata, alasannya sederhana saja, seperti juga kita tahu, kebanyakan dari anak2 masih mempunyai pola pikiran yang sederhana. Mereka merasa bahagia karena bisa bersama orang2 yang mereka sayangi dan orang yang bisa mereka percaya, yaitu orang tua maupun juga teman2 di sekelilingnya. 
Hal lain yang menunjang rasa bahagia anak2 itu adalah, tingkah laku dari para orang tua mereka yang selalu menanamkan sikap kepada anak2nya, bahwa kalau ada kesulitan dalam hidup, hadapilah dengan senyum. Kita juga tahu bahwa masyarakat di dua negara tersebut selalu ceria dan sering tertawa lebar (dan sering pula menari dalam tiap kesempatan).
Kebahagiaan memang tidak dapat diukur dengan berapa banyak barang/benda yang kita miliki (yang sifatnya jasmani atau materi), namun ukurannya adalah bagaimana kita bisa merasa puas dan gembira serta bahagia secara psikis (spiritual).
Orang memang selalu mencari dan mendefinisikan apa itu rasa bahagia, terutama ketika kemudian orang tahu bahwa materi melulu tidak membuat orang bisa bahagia. Pencarian definisi dan tentunya menemukan rasa bahagia itu kian giat dilakukan beberapa tahun terakhir, yang paling segar dalam ingatan kita terutama setelah ketika krisis moneter yang melanda dunia akibat bangkrutnya Lehman Brothers Holdings, yang peristiwanya kita kenal dengan istilah Lehman Shock di tahun 2008 yang lalu. Kita bisa belajar dari peristiwa ini bahwa "materi" itu bisa hilang atau lenyap sewaktu-waktu, dan terutama segala kepuasan yang berasal dari "materi" tidaklah kekal.
Pencarian terkadang adalah proses panjang yang berliku (Foto Oze National Park di Musim gugur)
GDP bukan segala-galanya
Sebuah survei tentang perasaan "bahagia" juga dilakukan oleh perusahaan research WIN Gallup di tahun 2016, dimana hasilnya menempatkan negara Fiji sebagai negara yang penduduknya mepunyai tingkat perasaan bahagia terbanyak di dunia. Ssttt, di hasil survei yang sama, ternyata Indonesia menempati urutan 5 besar lho. 
Sayangnya, saya tidak berhasil menemukan di laman mereka, bagaimana cara mereka atau apa yang ditanyakan (kriteria "bahagia" nya apa) dalam survei.
Namun yang pasti, GDP sebagai ukuran kemakmuran suatu negara, tidak berbanding lurus dengan rasa "bahagia" yang bisa dirasakan oleh penduduk negara tersebut, setidaknya dari data hasil survei diatas. Negara2 seperti Amerika, dan negara maju yang lain di Eropa termasuk Jepang yang mempunyai GDP tinggi, hanya bertengger di tengah2 dalam hasil survei dari WIN Gallup, "dikalahkan" oleh negara2 berkembang.
Tapi, ada berita menarik dari Nikkei di akhir tahun lalu yang menyebutkan bahwa di tahun 2050 nanti, GDP Indonesia akan naik pesat dan menduduki peringkat 4 dunia melebihi Jepang ! 
Kalau itu terjadi, lalu bagaimana hasil dari WIN Gallup di tahun tersebut (jika survei diadakan lagi) nantinya ? Akankah rasa "kebahagiaan" orang akan berkurang dan peringkat Indonesia akan turun di hasil survei itu nantinya ? Kita tunggu saja.
Perubahan pola hidup masyarakat
Perasaan bahagia (shiawase) di Jepang, juga mengalami perubahan secara signifikan. Di akhir era Showa dan awal era Heisei, biasanya orang Jepang senang untuk berkumpul dan bergembira dengan kelompok orang dalam jumlah besar.
Seperti misalnya pergi ke karaoke bersama, atau makan bersama dengan lebih dari 10 orang. Di akhir era Heisei (catatan : April 2019 Kaisar Jepang yang sekarang akan lengser dan nama Heisei juga akan berganti), orang lebih senang dan merasa bahagia kalau sendirian, misalnya bertamasya sendirian, karaoke sendirian dan makan sendirian. 
Hal ini tentunya juga diantisipasi oleh pelaku bisnis, sehingga saat ini di situs2 pemesanan tamasya (akomodasi), penyedia jasa meng-iklankan besar2-an dan terkadang memberikan korting untuk orang yang akan berpergian sendiri. Juga di tempat2 karaoke, bahkan di tempat2 makan yang biasanya orang makan beramai2 seperti menikmati shabu2 atau yakiniku, sekarang tidak jarang restoran menyediakan kursi untuk orang yang datang sendirian.
"Ohitorisama" adalah istilah bahasa Jepang bagi orang yang melakukan segala sesuatunya sendiri (an), misalnya pergi ke restoran, tempat hiburan, dll. Istilah ini pernah dipilih sebagai salah satu kandidat istilah yang populer di Jepang beberapa tahun yang lalu. Pilihan kenyamanan atau merasa lebih "bahagia" jika sendiri, juga bisa dilihat dari angka tanshinsetai (orang yang memilih untuk hidup sendirian, tidak kawin selamanya) yang meningkat dari tahun ke tahun.
Teknologi yang berkembang pesat saat ini juga menjadi salah satu penyebab (atau berpengaruh pada) berubahnya pola hidup masyarakat. Misalnya, dengan tersedianya jaringan komunikasi (data) yang cepat dan merata, maka orang sudah tidak perlu lagi pergi jauh2 untuk misalnya belanja bersama teman. Cukup dengan beberapa klik dengan komputer atau gawai, mereka sekarang sudah bisa berbelanja dengan mudah dan praktis, sendiri (an).
Para penyedia jasa hiburan seperti karaoke dan film sekarang juga bisa menyediakan jasa hiburan melalui jaringan, sehingga orang tidak perlu lagi susah2 keluar rumah (plus keluar biaya untuk transportasi) untuk menikmatinya. Para penyedia jasa ini sekarang menyediakan layanannya melalui internet dengan biaya (bulanan) yang murah, sehingga lagi2 orang lebih cenderung untuk menikmatinya sendiri (an).
Smartphone yang merupakan salah satu produk teknologi, juga menjadi salah satu sebab orang lebih sering merasa nyaman dan "bahagia" sendirian. Bahkan saat bertemu dengan teman atau kerabat, orang lebih keranjingan (asyik) memainkan smartphone, daripada mencoba berkomunikasi dengan orang2 yang secara fisik nyata dan berada di sekitarnya. Lalu, orang juga lebih condong untuk menonjolkan dirinya sendiri, misalnya dengan swafoto (selfie). 
Atau, bisa kita lihat di sekeliling sewaktu kita pergi ke warung makan (restoran) bahwa mereka lebih sibuk dan konsentrasi untuk memfoto makanan supaya bisa di posting di sosial media dan mendapat "like" yang banyak untuk kepuasan dirinya sendiri, ketimbang menikmati makanannya sambil ngobrol dengan teman makan.
Sendirian kadang mengasyikkan (Foto orang bermain kayak di Danau Okutama)
Temukan kebahagiaan anda sendiri
Jaman sekarang, dengan semakin majunya teknologi, maka orang akan lebih sulit untuk menjadi "dirinya" sendiri. Jika sedang ramai2 nya orang mendengarkan suatu jenis lagu atau musik, maka jika tidak ikut2 an maka dia akan merasa terkucil. Jika tidak memakai baju yang sedang tren atau tidak menggunakan gawai terbaru, maka dia akan merasa minder. Jika postingan di instagram atau facebook sedikit yang melihat atau memberi "jempol", maka rasa gelisah dan rasa kesepian akan melanda.
Tidak semua yang berbau "sendiri", itu jelek atau negatif. Salah satu yang positif adalah, menjadi "diri sendiri", walaupun untuk bisa begitu diperlukan keberanian (yang tidak mudah bagi sebagian orang). 
Bahkan, terkadang memang diperlukan suatu waktu bagi kita untuk menyendiri dan berdialog dengan diri sendiri. Rasa kesepian yang melanda seseorang, salahsatu sebabnya adalah orang tidak bisa berdialog dengan diri sendiri, menurut Hannah Arendt, seorang filsuf Jerman. Olehkarena itu kita kadang merasa kesepian walaupun berada di keramaian. Rasa sepi ini, menurut Hannah, adalah karena kita tidak bisa (tidak biasa) berdialog dengan diri sendiri, bukan karena kita secara fisik sendiri (an).
Rasa bahagia juga jangan dibandingkan atau meniru dengan apa yang menjadi ukuran kebahagiaan orang lain. Sebab seperti yang saya sudah tulis diawal, standar orang pasti berbeda-beda untuk ukuran apa yang dia rasakan sebagai suatu kebahagiaan.
Maka, temukanlah dan carilah sesuatu yang menjadi sumber rasa bahagia pembaca sendiri, bukan hasil contekan maupun hasil ikutan tren. Yang terpenting, kalau kita bahagia maka kemungkinan kebahagiaan kita bisa menular kepada orang lain. Namun ada catatan kecil, kita harus menjadi (atau merasakan jadi) orang yang bahagia dahulu, sebelum kita bisa  membuat bahagia orang lain.
Mulailah pencarian itu sekarang, karena belum terlambat. Sebab, kita baru saja membuka lembaran baru tahun 2018. 
Selamat Tahun Baru 2018 dan selamat mencari.....