ラベル analog の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示
ラベル analog の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示

2018年3月10日土曜日

Dari Analog, Digital, Sampai Ke Mars Ada Semua Di Event CP+ 2018

Suasana CP+ yang cukup ramai 
Produsen kamera (digital) memang sedang repot untuk mengatasi bagaimana caranya agar bisa bersaing dengan maraknya gawai (smartphones) baru yang mempunyai kemampuan kamera "super" yang didukung oleh teknologi lain, misalnya teknologi sensor. Kemampuan smartphone  yang beredar di pasaran sekarang tentunya tidak dipandang dengan sebelah mata oleh produsen kamera.
Keadaan para produsen kamera---kalau dianalogikan dengan keadaan seorang remaja yang belum pengalaman menghadapi liku percintaan---tentunya sedang galau. Saking galaunya, mereka lantas mengadopsi teknologi yang sudah lama dan populer digunakan pada gawai---supaya menarik minat pengguna karena penggunaannya mirip dengan gawai---seperti kemampuan koneksi bluetooth  maupun wifi, dan juga touchscreen. Tapi kemudian, produsen gawai juga tak tinggal diam. Beberapa produsen gawai ber-inovasi lagi dengan menanamkan lensa ganda yang bisa saling bersinergi untuk menghasilkan output foto yang lebih baik. Tambah puyeng deh kepala si barbie (produsen kamera).
Untuk menunjukkan bahwa produsen kamera juga serius dalam hal ber-inovasi, maka setiap tahun diadakan pameran "Camera and Photo Imaging" yang biasa disingkat menjadi CP+ (dibaca CP plus). Bahkan untuk menarik minat orang agar berkunjung ke pameran, maka akhir2 ini acara CP+ juga digunakan sebagai ajang untuk merilis (sekaligus pengunjung bisa mencoba) produk kamera terbaru. Acara CP+ yang kedelapan kalinya diadakan pada tanggal 1 - 4 Maret 2018 yang lalu di Pacifico Yokohama. Saya berkesempatan untuk mengintip acaranya, dan berikut adalah ulasan singkat beserta hal2 unik yang saya temukan di acara tersebut.
Line-up Stan Fujifilm
Mirrorless Masih merajai Pasar Kamera
Menurut data statistik yang dirilis oleh CIPA tahun lalu, jumlah total produk kamera mirrorless mengalami kenaikan sebesar 30% dari jumlah total produksi tahun sebelumnya. Hal ini berlawanan dengan jumlah total produk kamera DSLR yang mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Tahun ini memasuki tahun ke-10 sejak "kelahiran" kamera mirrorless yang pertama. Dahulu posisi kamera mirrorless hanya sebagai kamera penunjang (backup) bagi kamera DSLR yang digunakan sebagai kamera utama. Namun dengan perkembangan teknologi, saat ini posisinya mendekati atau bahkan sejajar dengan kamera DSLR. Bahkan banyak pula produsen kamera yang meluncurkan produk flagship---untuk kelas profesional yang tentu harganya mahal---mirrorless dibanding tahun2 terdahulu dimana produk mirrorless hanya bermain di kelas amatir (yang harganya lebih ekonomis dibanding harga DSLR).
Sakura sudah mekar di Stan Tamron 
Berkeliling di area CP+, kita bisa melihat dan sekaligus mencoba langsung bagaimana produk yang ditawarkan oleh masing2 produsen kamera. 
Kita mulai dari Fujifilm yang meluncurkan produk mirrorless terbarunya X-H1 di hari pertama pembukaan acara CP+. Kamera ini mepunyai kemampuan image stabilization  yang dipasang di body kamera. Sensornya menggunakan X-Trans CMOS III yang mampu menghasilkan resolusi 24.3 juta pixel
Olympus yang merupakan pionir dalam kamera mirrorless merilis kamera flagship penerus seri OM-D nya yaitu E-M1 MarkII tahun lalu. Canon merilis antara lain produk EOS M6 dan M100, yang membuatnya mempunyai line-up  produk untuk pasar mirrorless bagi kelas pemula sampai intermediate. Sony juga terus berinovasi, dan yang terbaru mereka menanamkan teknologi anti distortion shutter---misalnya pada produk alpha9---sehingga bisa meminimalisasi distorsi, bahkan menghilangkan suara dan getaran saat tombol shutter  ditekan untuk mengambil foto.
Sementara Panasonic mempunyai 2 line-up produk yang berbeda. GH5 merupakan produk yang menitikberatkan kemampuan video dan merupakan mirrorless pertama dengan kemampuan merekam video 4K, sedangkan G9 merupakan produk mirrorless terbaru dari Panasonic yang menitikberatkan kemampuan mengambil gambar (foto) dan juga merupakan produk flagship-nya.
Kamera mirrorless namun dengan kemampuan yang mumpuni ini memang digemari banyak orang, khususnya karena bentuknya yang kecil dan ringan. Segmen penggunanya pun bervariasi, dari profesional sampai dengan yang masih amatir. Sekarang ada istilah Kamera Joshi  karena populasi wanita penggemar fotografi yang terlihat selalu menenteng kamera makin banyak berkeliaran. Bahkan ada majalah yang khusus membahas tentang ini.
Suasana Stan Olympus
DSLR dan kamera saku
Saat ini hanya 3 produsen kamera yang memproduksi DSLR yaitu Nikon, Canon dan Ricoh. Nikon memperkenalkan produk terbarunya D850 yang merupakan kamera full frame dengan resolusi gambar 45 Megapixel. Selain kemampuan untuk video 4K dan timelapse 8K, pecinta kamera analog yang mempunyai banyak koleksi film negatif bisa memanfaatkan kemampuan digitizing, yaitu kemampuan men-scan langsung film dengan bantuan  attachment yang dijual terpisah. Canon juga merilis produk kamera full frame barunya EOS6D MarkII tahun lalu.
Pentax merilis kamera full frame bertepatan dengan acara CP+ yaitu Pentax K-1 MarkII. DSLR kelihatannya juga masih punya fans (yang mungkin terbatas di kalangan profesional dan sedikit dari kalangan amatir) yang setia karena produsen kamera----walaupun terbatas--- juga masih memproduksi kamera jenis ini.
Sementara untuk kamera saku, sebenarnya masih banyak produsen seperti Panasonic, Olympus, Canon, Casio dan Nikon yang masih setia merilis produknya, walaupun tentunya harus berusaha keras untuk bersaing dengan kemampuan kamera yang sudah bisa dibilang mumpuni dari smartphone
Walaupun bukan untuk kategori kamera saku, kamera 360 yang bisa mengambil gambar dengan sudut pandang 360 derajat juga mulai digemari masyarakat. Ricoh sebagai pionir dari kamera 360 dengan produk theta-nya, mengalokasikan 1/2 dari stan nya untuk memamerkan kemampuan theta di CP+. 
Disitu juga dipamerkan theta yang digunakan untuk mengambil video saat peluncuran roket, untuk menunjukkan daya tahan kamera tersebut terhadap kondisi ekstrim (juga ada tayangan video yang direkam saat itu). Tahukah pembaca bahwa chip yang digunakan theta adalahSnapdragon 625, sama dengan chip yang digunakan di produk smartphone lho.
(Untuk yang ingin tahu lebih lanjut tentang kamera 360, saya pernah membahasnya disini)
Theta dan Pentax dibawah payung Ricoh
"Analog" masih tetap laku
Yang menarik dari acara CP+, stan yang memamerkan produk printer seperti Canon dan Epson selalu dipadati oleh pengunjung dari tahun ke tahun. Ternyata dengan berkembangnya teknologi, dimana orang sudah bisa menyaksikan atau menampilkan foto yang mereka ambil di layar gawai maupun di layar display/televisi di rumah, masih banyak orang yang suka akan hasil foto "analog" yang dicetak di kertas (termasuk saya). Bukan hanya stan yang memamerkan printer, stan yang memamerkan kertas untuk printer seperti ilford---yang memamerkan produk kertas dengan kualitas tinggi---juga dipadati pengunjung. Nama ilford tentunya tidak asing bagi pembaca yang (masih) gemar fotografi dengan film (analog). 
Saya tidak tahu apakah orang2 yang memadati stan printer dan kertas untuk cetak itu masih suka mencetak foto hasil karyanya sendiri untuk dipajang atau disimpan di rumah, atau mereka hanya ingin tahu saja. Namun pengalaman saya bergaul dengan penggemar fotografi di Jepang, memang masih ada beberapa orang yang suka untuk "repot2" mem-print hasil karya mereka untuk dibawa dan disharing di klub fotografi maupun untuk dipajang di rumah dan bahkan untuk disimpan.
Kamera jadul yang ikut dipamerkan di acara 
Fujifilm merilis produk kamera hybrid  analog dan digital bernama instax square sq10. Kamera instax memang sedang booming kecil di Jepang, terutama di kalangan remaja. Walaupun hasil foto saat ini bisa dengan cepat di-sharing lewat medsos seperti Instagram, Twitter atau Facebook, namun para remaja ini juga suka untuk menyimpan foto instax di dalam buku album dan mendekorasinya. Atau juga sekedar membagikan hasil printnya kepada teman atau sanak saudara untuk kemudian dipajang di rumah.
Kamera Instax warna-warni di Stan Fujifilm 
Romantisme Mars
Bumi butuh waktu setahun untuk mengelilingi Matahari. Sedangkan Mars butuh waktu kira2 duakalinya yaitu 687 hari untuk mengelilingi Matahari. Karena sama2 mengelilingi Matahari, maka pasti ada suatu saat dimana keduanya "berdekatan".
Tanggal 31 Juli tahun ini antara Bumi dan Mars mempunyai jarak terdekatnya dalam mengelilingi Matahari, yaitu sekitar 57.59 juta Km. Bagi penggemar astrofotografi---yang menjadikan bintang dan benda2 dilangit sebagai objek foto---tentunya hal ini tidak bisa dilewatkan begitu saja karena ini merupakan kesempatan langka yang hanya bisa disaksikan 15 tahun sekali.
Stan Kenko dengan judul Mars Mendekat
Kenko---yang merupakan nama yang tidak asing bagi penggiat fotografi---memamerkan teleskop yang bisa mengabadikan momen langka ini. Dengan panel besar bertuliskan "Mars mendekat!", Kenko memamerkan berbagai macam teleskop dengan variasi diameter lensa dan rentang titik fokus. Ada juga teleskop yang bisa diprogram sehingga bisa tracking  otomatis pergerakan suatu planet atau bintang. Sayangnya, karena acara diadakan di dalam ruangan maka kita tidak bisa mencoba langsung kemampuan teleskop. Saya sempat bertanya kepada penjaga stan tentang harga teleskopnya. Dia mengatakan harga yang paling ekonomis adalah sekitar 35 ribu yen.
Museum Kamera Mini 
Ada juga stan museum kamera yang kecil, dimana kita bisa melihat kamera yang sudah dibuat ratusan tahun yang lalu, maupun kamera analog modern namun sudah tidak diproduksi lagi sekarang.
Begitulah sedikit pengalaman saya mengunjungi acara CP+ 2018. Selain stan kamera, ada juga stan makanan ringan dan stan yang membagikan minuman gratis di dalam. Saya sering juga datang ke acara ini walaupun tidak rutin setiap tahun. Yang saya amati, memang jumlah pengunjung yang datang selalu membludak, karena disamping acaranya gratis kalau kita mendaftar terlebih dahulu lewat web, bagi penggemar fotografi kita juga bisa mencoba kamera dan lensa baru disana.
Walaupun kemampuan kamera smartphone sudah bisa dibilang mumpuni, namun bagi penggemar fotografi yang "agak" serius, masih menjatuhkan pilihannya pada kamera, entah itu mirrorless maupun DSLR. Hanya memang, produsen kamera sekarang terkesan hanya menggenjot (baca:perang) resolusi kamera setinggi-tingginya.
Teknologi masih akan berkembang, dan saya yakin masih akan ada teknologi baru lagi, entah itu image sensorimage processor  atau yang lain yang akan muncul di tahun2 kedepan. Siapa tahu, tidak lama lagi kita bisa menyaksikan munculnya kamera yang sudah tidak perlu lagi shutter fisik, namun sudah bisa mengambil gambar dengan mendeteksi gelombang otak, saat kita berpikir bahwa kita ingin mengambil gambar (foto) suatu objek. 
Atau kalau bisa, diciptakan teknologi yang dapat mengambil foto dengan kedip mata. Keren juga kan kalau misalnya berpapasan dengan sesuatu yang "bening", dengan satu kedipan maka bisa untuk memberikan "sinyal" ke dia sekaligus untuk memfoto objeknya. Seperti kata pepatah, sambil menyelam, minum air....
Dimana ada gula, disitu ada semut

2017年11月27日月曜日

Keindahan Momiji di Musim Gugur dan "Rasa" Orang Jepang

Musim Gugur di Kuil Kuhonbutsu Joushinji
Momiji adalah kata yang sering terucap di musim gugur. Kata ini adalah untuk menggambarkan daun-daun yang berwarna-warni terutama warna merah dan kuning. Kata momiji ini sebenarnya berasal dari kata momiizu (memeras,melumat), yang merupakan bagian dari salah satu proses untuk membuat warna dengan cara memeras bunga Benibana (Carthamus tinctorius). Benibana yang diperas/dilumat di air dingin dengan pH normal menghasilkan warna kuning, dan jika diperas di air dengan pH tinggi maka akan menghasilkan warna merah.
Kata momiizu ini, seiring dengan berjalannya waktu, berubah menjadi momiji. Seperti kita tahu, warna momiji memang sebagian besar adalah merah dan kuning. Lalu ada istilah momijigari, yang berarti pergi ke suatu tempat (misalnya ke gunung atau taman) untuk melihat dan menikmati momiji.
Kuil Shoutengu Saikouji di Mino, Oosaka
Negara dengan 4 musim
Jepang adalah negara yang mempunyai 4 musim. Masing-masing musim sangat unik dan punya ciri khas tersendiri.
Musim semi (haru) adalah musim dimulainya kehidupan baru setelah musim dingin yang panjang. Mulai tumbuhnya dedaunan yang berwarna hijau, dan bermekarannya bunga-bunga melambangkan dimulainya kehidupan itu sendiri. Kegembiraan adalah lambang dari musim semi, dimana masyarakat berbondong-bondong pergi untuk melihat keindahan bunga, bergembira dan bersuka-ria sambil makan dan minum. Kebiasaan ini disebut ohanami, yang umumnya digunakan sebagai istilah untuk melihat dan menikmati bunga Sakura, yang merupakan simbol musim semi.
Musim panas (natsu) dengan suhu udara yang tiggi dan lembab serta banyaknya aktivitas yang terjadi di masyarakat misalnya dengan banyaknya festival atau perayaan yang dilaksanakan di kuil ataupun di tempat umum, melambangkan kekuatan serta energi yang dimensinya agak lain dari musim semi.
Musim dingin (fuyu) dengan hamparan salju putihnya yang luas membentang sejauh mata memandang, melambangkan kesunyian dan kesendirian.
Lalu, bagaimana dengan musim gugur (aki) ?
Pohon Ichou di Joushinji Kouin
Musim gugur dan perasaan orang Jepang
Berbeda dengan musim yang lain, keindahan musim gugur mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan yang utama adalah ditandai dengan bermunculannya momiji, yang dimulai dari utara di Pulau Hokkaido, karena pergerakan suhu udara yang dingin dimulai dari daerah ini. Kemudian momiji sedikit demi sedikit bergeser ke arah selatan, dimulai dari Tohoku, lalu ke Kanto, Chubu dan seterusnya ke arah Kyushuu.
Disatu sisi, momiji sangat indah dan keindahannya bisa membuat kita berdecak kagum. Namun di lain sisi, sewaktu kita melihat momiji, kita sekaligus diingatkan bahwa musim dingin yang sepi dan panjang akan segera tiba.
Keindahan musim gugur memang sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata. Warna-warni momiji memang terlihat sangat memikat. Warna dari momiji bisa seperti itu karena semua faktor pendukungnya (misalnya kontras suhu udara di siang dan malam hari) terpenuhi.
Momiji berguguran di Kolam ikan di Tonogayato Park
Daun-daun pepohonan yang berwarna merah, kuning, dan warna lainnya bergetar diterpa tiupan angin. Daun yang berwarna-warni ini bak origami, dimana ada daun yang kuat bertahan di rantingnya, namun ada juga daun yang tidak kuat lalu jatuh perlahan ke pelukan bumi bersama angin. Dimusim ini, seperti kain nishiki tanmono yang indah, dunia seperti dilukis dengan alam sebagai kuas dan sekaligus kanvas nya.
Namun, bagi orang Jepang, bukan warna-warni itu yang penting. 
Ungkapan perasaan orang Jepang dengan kebiasaan dan budaya mereka untuk menikmati musim gugur dengan mata-lah yang terpenting. Kebiasaan melihat dan menikmati momiji mungkin menjadi salah satu sifat khas dari orang Jepang.
Orang Jepang memang dari jaman dahulu kala suka akan musim gugur, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Misalnya saja, suara angin yang menerpa dedaunan, atau sinar matahari yang bersinar dengan sudut yang lebih kecil/rendah (dibandingkan dengan musim panas) yang menyebabkan bayangan benda menjadi lebih panjang sekaligus sinar mataharinya terasa hangat namun tidak begitu menyengat kulit.
Masyarakat berbondong-bondong melihat momiji di Toufukuji, Kyoto 
Kesukaan orang Jepang akan musim gugur, salah satunya sebabnya adalah rasa tenang/aman yang dapat mereka rasakan karena musim panas yang "menyiksa" dengan suhu dan kelembapan tingginya sudah lewat. Namun, ada juga sedikit perasaan "nostalgia" yang mereka rasakan. Karena mereka juga tahu, musim dingin yang sepi dan panjang akan segera tiba. Perasaan itu sudah bisa dirasakan di dalam memori mereka setiap tahun.
Itulah sebabnya sebelum memasuki musim dingin, mereka menenangkan perasaanya dengan menikmati keindahan momiji, yang hanya bisa mereka lalukan di musim gugur.
Musim gugur di kuil Takahata Fudou
Musim gugur dan seni serta budaya
Musim gugur di Jepang disebut juga sebagai musim seni serta budaya.
Kita bisa dengan mudah menemukan pertunjukan berbagai macam kesenian, mulai dari yang tradisional seperti pertunjukan Noh, Kabuki, musik gagaku , maupun seni modern seperti konser musik, mulai dari musik klasik, pop dan berbagai genre yang lain.
Berbagai museum seni maupun galeri, baik yang besar maupun kecil, juga berlomba-lomba untuk membuka pameran dengan menampilkan berbagai macam karya seni dari berbagai medium, mulai dari lukisan, foto dan bentuk seni lain yang merupakan hasil karya dari seniman lokal maupun internasional.
Musim gugur di Kuil Eigenji
Kita juga bisa menemukan berbagai ungkapan dalam bahasa Jepang untuk menggambarkan musim gugur.
Misalnya ungkapan akakuchiba, yang melambangkan warna orange namun dengan nuansa merah tua yang pekat. Ungkapan ini sudah digunakan sejak jaman Heian (sekitar tahun 700 sampai 1000 masehi).
Lalu ada ungkapan ukon-iro, yang melambangkan warna kuning keemasan. Warna ini sangat disukai di jaman Edo (sekitar tahun 1600 sampai 1800). Warna ini juga melambangkan keberuntungan,sehingga banyak digunakan sebagai warna untuk dompet dan furoshiki (kain panjang untuk membungkus barang).
Daun berguguran di dekat rumah
Upacara minum teh di luar (disebut nodate) juga bisa ditemui di taman-taman dalam kota Tokyo seperti di Hamarikyuu atau di Koishikawa Kourakuen (juga di berbagai tempat di seluruh Jepang). Menikmati teh diluar menyatu dengan alam memang mempunyai sensasi tersendiri. Saya pernah ikut serta beberapa kali dalam acara ini. Kehangatan dan bau harum dari daun teh selain membuat tubuh terasa hangat, kita juga bisa merasa agak rileks. Hal ini sangat membantu karena suhu udara di musim gugur terasa dingin dibadan (khususnya untuk orang kelahiran daerah tropis seperti saya). Disamping itu, sambil menikmati teh, mata kita juga terhibur karena bisa menikmati keindahan dari momiji. 
Siapa saja bisa ikut serta acara ini dengan membayar sekitar 100 sampai 300 yen. Mungkin pembaca juga bisa mencobanya kalau kebetulan sedang berada di Jepang waktu musim gugur.
Musim gugur di Oume Keikoku
Musim gugur juga digunakan sebagai komponen dalam penyusunan kata-kata di waka(puisi klasik Jepang). Di dalam waka, mereka menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan musim gugur, beberapa diantaranya seperti kata momiji, tsuki(bulan), urokogumo(awan berbentuk sisik), shika (kijang, yang musim kawinnya adalah di musim gugur).
Pohon Ichou di Kuil Sanmiya
Musim gugur juga menjadi inspirasi bagi penyair seperti  Yosano Akiko, Masaoka Shiki, Higuchi Ichiyou, Ishikawa Takuboku dan lainnya.  Mereka menulis puisi yang isinya atau inspirasinya datang/berhubungan dengan musim gugur. Salah satu bait puisi yang saya suka dan berhubungan dengan musim gugur adalah puisi karangan Yosano Akiko, yang berbunyi "wakaki mi no koi suru yauni aki no kumo ugokimo tomazu honoka naredomo". Yang intinya melukiskan orang muda yang jatuh cinta, adalah seperti awan di musim gugur. 
Ada juga ungkapan bahasa Jepang  "onna gokoro to, aki no sora" yang mempunyai arti, hati wanita itu seperti langit musim gugur. Sebagai catatan, pemahaman orang Jepang adalah, langit musim gugur itu tidak bisa diduga karena gampang berubah. Bagaimana pembaca ? Benar apa tidak nih ?
Musim gugur di Kayano Kougen (Foto medium format /velvia)
Penutup
Di Jepang, ada lagu yang populer dengan judul "lagu 4 musim", yang isinya menceritakan bagaimana sifat-sifat orang yang suka masing-masing musim ditambah dengan perasaan atau relasi hubungannya dengan orang lain. 
Di musim semi dikatakan seperti teman, musim panas seperti ayah, musim dingin seperti ibu. 
Nah, uniknya, musim gugur dikatakan seperti "pacar !"
Berbeda dengan musim lain yang sebagian besar kita paham (teman, ayah, ibu), pacar, adalah sesuatu yang mungkin sulit untuk kita pahami (entah kalau pacarannya sudah lama..hehehe).
Di lagu itu dikatakan, orang yang suka akan musim gugur mempunyai perasaan yang dalam (suka memikirkan secara detail segala sesuatu). Dan orang yang suka musim gugur kata-katanya puitis, sarat dengan kata cinta seperti puisi karangan Heine (penyair kelahiran Jerman).
Bagaimana dengan pembaca ? Musim apa yang pembaca suka ?
Daun berguguran di taman dekat rumah