Bulan Agustus punya arti penting bagi Indonesia juga Jepang.
Di Indonesia, setiap tanggal 17 Agustus kita merayakan hari Kemerdekaan, yang merupakan puncak dari perjuangan bangsa kita selama ratusan tahun, dan merupakan momen penting yang merubah status Indonesia menjadi negara yang merdeka dan berdaulat setelah sekian ratus tahun sebelumnya adalah negara yang terjajah.
![]() |
| Presiden Soekarno di Relief Taman Monumen Nasional |
Di Jepang, setiap tanggal 15 Agustus diperingati sebagai hari berakhirnya PD-II, dimana Kaisar Jepang pada waktu itu mengumumkan melalui radio kepada rakyatnya, bahwa Jepang menerima penuh tanpa syarat deklarasi Postdam (alias menyerah kalah).
Tentu kita sudah tahu bagaimana perkembangan Jepang setelah hancur dan kalah di PD-II.Kurang dari 20 tahun, tepatnya di tahun 1964,Jepang dengan segera bangkit dan mampu menggelar pesta olahraga paling bergengsi di dunia yaitu Olimpik.
Bersamaan dengan Olimpik, kereta cepat pertama di dunia juga berhasil diciptakan oleh Jepang. Pertumbuhan ekonomi setelah itu tentu saya tidak perlu banyak berceria lagi. Jepang adalah negara maju dan dengan GDP urutan ke-3 setelah Amerika dan Tiongkok.
![]() |
| Zero Fighter |
Disamping sebagai negara adidaya ekonomi, dalam bidang teknologi Jepang juga masih giat mengembangkan inovasi2 baru, misalnyadalam bidang electronik, automotif, robotik dan lainnya.
Apa
sih yang bisa membuat Jepang bisa begitu cepat bangkit setelah kalah
dan hancur dalam PD-II ?
Saya
akan mencoba mengulasnya. Mudah-mudahan, ada pelajaran yang bisa kita
petik dari pengalaman Jepang yang berhasil "menaklukkan"
keterpurukannya setelah PD-II.
1. Kerja Total
Sifat orang memang tidak memandang ras. Dalam arti, kita bisa menemukan sifat apa saja di semua negara, tidak terkecuali Jepang.
Mungkin
kita pernah mendengar tentang cerita orang yang datang untuk berlibur
di Jepang, mengatakan bahwa orang Jepang itu ramah serta penjaga toko
atau orang yang berhubungan dengan pekerjaan pelayanan itu semuanya
murah senyum.
Sebenarnya
tidak ada yang salah akan cerita dan tanggapan itu.
Untuk
bagian "orang Jepang itu ramah", mungkin karena orang itu
hanya tinggal di Jepang untuk waktu yang singkat. Jadi ya, mereka
mungkin ketemunya dengan orang Jepang yang "kebetulan"
ramah dan baik hati terus. Sebab sebagai turis, pergerakannya maupun interaksi dengan orang Jepangnya pun tidak begitu banyak dan luas.
Namun fakta di lapangan, yang nggak ramah juga ada kok.
Lalu
untuk bagian "penjaga toko atau orang yang berhubungan dengan
pelayanan itu semuanya murah senyum" bagaimana ? Ya lumrah saja
kalau mereka begitu, karena itu memang pekerjaan mereka. Kalau
kerjanya melayani dan berhubungan dengan orang, ya harus senyum.
Kalau nggak kan bisa "kabur" tuh orang yang dilayaninya.
Kalau membuat orang kabur, bukan pelayanan dong namanya :)
Jika
digali lebih dalam lagi, tentang senyam-senyumnya itu sebenarnya
orang Jepang hanya melakukan apa yang jadi tugasnya. Karena mereka
selalu punya prinsip, kalau sudah melalukan pekerjaan, ya harus
total. Senyum merupakan bagian dari pelayanan, dan memberikan
pelayanan yang terbaik memang sudah menjadi SOP (Standard Operating
Procedure)nya. Jadi bisa dibilang, senyum merupakan salah satu bukti
dari totalitas mereka dalam bekerja.
Lain
cerita kalau dia bertugas jadi pengawas misalnya di bagian imigrasi
dan SOP nya harus tegas, ya mereka tegas. Makanya kalau di Jepang,
kita nggak pernah lihat petugas imigrasi yang senyum2 (atau
cengengesan) kan ?
Totalitas
orang Jepang dalam melakukan pekerjaan inilah, terkadang memberi
dampak positif dan bahkan nilai tambah, terutama bagi sektor
pariwisata. Buktinya, kalau ada yang pernah sekali ke Jepang, pasti
deh kepengen balik liburan lagi kesini. Iya nggak ?
![]() |
| Pekerja pengatur kendaraan keluar masuk proyek bangunan di Shibuya Station |
Kerja
total ini kalau dijabarkan secara luas, sudah mencakup tentang
disiplin (dalam bekerja), juga termasuk tidak korupsi dalam
melaksanakan tugas.
Kalau
masalah disiplin, saya nggak nggak perlu cerita banyak karena pasti
pembaca sudah bosan membaca betapa orang Jepang itu disiplin banget.
Disiplin ini bukan hanya dari satu arah, misalnya peraturan hanya
mampu berfungsi sebagai peraturan yang berwujud tulisan, tanpa ada
yang mau dengan sadar menjalankannya. Disiplin, akan bisa berjalan
baik kalau dijalankan dua arah. Contohnya, dengan jadwal kereta yang
padat di Jepang (bahkan di jam sibuk, cuma selisih 2 menit antara
satu kereta dan kereta berikutnya), kereta bisa tiba dan berangkat
sesuai dengan jadwal karena ada disiplin petugas kereta yang
ditunjang juga oleh disiplin dari pemakai jasa kereta.
Tentang
korupsi, saya ingin memperluas cakupannya bukan hanya terfokus pada
korupsi duit saja. Tapi juga korupsi waktu, korupsi kekuasaan,
korupsi hak orang lain dan sebagainya.
Contohnya,
saya nggak pernah ketemu atau lihat orang yang korupsi waktu. Jadi
misalnya kalau sedang kerja, ya nggak ada yang ngobrol atau haha-hihi
karena mereka nggak biasa korupsi waktu. Waktunya kerja ya untuk
kerja, titik. Lalu, kalau misalnya pas jam istirahat mau telpon
gebetan, atau telpon untuk kepentingan pribadi, ya pasti pakai telpon
pribadi, bukan pakai telpon atau hape milik kantor. Jadi nggak ada
yang namanya korupsi fasilitas, pakai jurus aji mumpung.
Memang
kadang ada yang korupsi uang, tapi sepanjang pengetahuan saya cuma
satu atau dua. Dan itupun kalau sudah ketahuan, mereka pasti
bertanggungjawab, misalnya dengan berhenti dari pekerjaannya. Enggak
bakalan ada yang tetep keukeuh bercokol nggak mau berhenti atau
melepas kedudukannya, apalagi malah masih sempat cengengesan
menampakkan diri di depan publik.
| Disiplin berbaris menunggu kereta di Stasiun Musashikosugi |
2. Gigih dan Ulet
Bagi yang pernah nonton drama/film Oshin pasti tau bagaimana kegigihan dan keuletan mereka. Dalam drama itu dikisahkan kehidupan tokoh utama bernama Oshin sejak kecil sampai dewasa. Cerita yang disajikan, umumnya memperlihatkan kegigihan dan keuletan Oshin, yang meskipun keadaannya seperti "sudah jatuh ketimpa tangga dan kejedot pintu", tapi masih kuat untuk "berlari" sprint.
Contoh
lain lagi, di berbagai pertandingan internasional, sebutlah saja
pertandingan sepak bola, kita sering melihat bahwa walaupun tim
Jepang sudah ketinggalan jauh berapapun poinnya dari lawan, namun
mereka masih gigih dan ulet untuk bermain dan mengejar ketinggalan,
bahkan di di menit2 terakhir.
Bagaimana orang Jepang itu bisa tahan banting dan ulet ?
Kalau
digali lebih dalam, ternyata kegigihan mereka adalah sebagai hasil
pengalaman mereka, akibat dari interaksi dengan alam. Dan hebatnya,
spirit ini sudah tertanam sejak dahulu, dan terus menerus diturunkan
ke generasi berikutnya.
Jepang
adalah negara kepulauan yang memanjang dari barat daya ke timur laut.
Daratan kepulauan yang memanjang itu luasnya hanya sekitar 0.28% dari
luas daratan di seluruh dunia. Namun dengan hanya luas yang seperti
itu, dari seluruh gempa bumi yang terjadi didunia yang berskala
Magnitude 6 keatas, hampir 20.5% nya terjadi di Jepang. Ditambah
lagi, dari seluruh gunung berapi yang masih aktif, 7% nya ada di
Jepang.
Dengan
demikian bisa kita ketahui, betapa seringnya bencana alam, terutama
gempa bumi yang terjadi di Jepang. Belum lagi bencana angin topan,
hujan yang mengakibatkan banjir, bencana yang diakibatkan oleh salju
dan lainnya. Oleh sebab itu, untuk bertahan dan demi kelangsungan
hidup, orang Jepang dituntut untuk berusaha lebih keras dan gigih
dibanding dengan masyarakat di negara2 lain.
Ungkapan
seperti lagu Kolam Susu yang dinyanyikan Koes Plus yang berbunyi
"Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi
tanaman" tentunya tidak berlaku. Kalau tidak berusaha misalnya
bercocoktanam untuk kemudian hasilnya disimpan, mengumpulkan kayu
untuk memasak atau memanaskan ruangan dan berburu hewan misalnya
untuk dibuat baju atau alas tidur, bagaimana bisa bertahan hidup dan
melewati musim dingin karena tidak ada yang dimakan dan tidak punya
sesuatu untuk menahan dingin yang menusuk tulang ?
Jaman
sekarang, orang Jepang tentu juga tetap harus gigih dan ulet untuk
bisa mempertahankan hidup. Walaupun tidak harus bercocoktanam, karena
sudah tergantikan dengan bekerja sesuai dengan ketrampilannya
masing2.
Mungkin masih tersisa di ingatan kita akan bencana gempa bumi yang menyebabkan Tsunami, kemudian juga menjadi bencana ledakan PLTN di daerah Tohoku 6 tahun yang lalu. Waktu itu, bukan hanya daerah bencana saja yang terkena dampaknya. Namun karena ada ledakan PLTN, maka seluruh Jepang terkena imbas dari bencana tersebut. Namun sekarang, kebanyakan daerah bencana sudah ditata kembali dan kehidupan di sana sudah berangsur normal. Semuanya adalah hasil dari kegigihan dan keuletan mereka.
3. Budaya Malu
Sejak dari kecil, orang Jepang sudah diajari yang namanya shitsuke. Shitsuke ini memang istilah khusus bahasa Jepang, yang agak susah dicari padanannya dalam bahasa lain. Kalau dalam bahasa Indonesia, mirip sedikit dengan "disiplin". Tapi ini kurang cocok karena tidak bisa mewakili nuansanya secara luas.
![]() |
| Malu tapi jangan sampai malu2-in |
Shitsuke
ini adalah suatu proses pembelajaran (terutama pembelajaran mental)
yang dilakukan oleh masyarakat maupun lingkungan (termasuk orang
tua), yang mengantarkan seseorang dari usia dini sampai dia menjadi
manusia dewasa. Tujuannya adalah agar si anak tersebut kelak bisa
hidup dan menyesuaikan diri dengan masyarakat, bisa menjaga dan
berkelakuan sesuai dengan norma2 positif yang berlaku dimasyarakat
secara umum, mulai dari hubungan antar manusia di lingkungan tempat
hidupnya, maupun hubungan antar manusia dalam melaksanakan tugas dan
pekerjaannya kelak jika dia sudah bekerja.
Kalau
di barat, ada "Budaya Dosa", yang muncul akibat dari
pemahaman bahwa mata Tuhan ada dimana-mana, sehingga manusia dalam
perbuatannya haruslah berhati-hati karena Tuhan bisa mengawasi segala
gerak gerik kita.
Di
Jepang, ada "Budaya Malu", yaitu budaya yang mengutamakan
pandangan atau penilaian orang2 disekelilingnya. Jepang merupakan
negara dengan populasi yang padat serta masih menjunjung tinggi asas
kelompok. Jadi kalau ada orang yang berperilaku agak "lain",
terutama jika perilakunya itu tidak sejalan dengan kelompoknya atau
tidak sesuai dengan norma2 yang berlaku di kelompoknya, maka akan
dengan mudah kelihatan. Akibatnya, dia bisa dianggap aneh lalu
dipandang dengan mata sinis.
Orang Jepang selalu waswas dalam segala tindak tanduknya karena dia tidak mau diolok2 atau dipermalukan/ditertawakan akibat perbuatannya. Dalam setiap gerak geriknya, orang Jepang selalu berhati-hati karena dia tahu mata masyarakat akan mengawasinya. Budaya malu inilah yang menjadi "pengawas" dari setiap tindakannya.
Shitsuke
yang diajarkan dan sudah mendarah daging dalam diri orang Jepang,
akan membantu mereka untuk bertindak karena sejak kecil mereka sudah
paham akan norma2 yang berlaku dalam masyarakat. Jadi sebisa mungkin
mereka tidak akan melakukan sesuatu yang "melenceng" dari
norma2 tersebut.
Maka
di Jepang, jika ada orang yang ketahuan berbuat salah, nggak usah
dicecar dan dihujat di sosmed pun mereka langsung mundur atau
berhenti. Karena mereka mempunyai "Budaya Malu" yang sudah
mendarah daging, dan mereka amat sangat takut akan hukuman sosial
yang akan diterima bila mereka tidak segera mundur (atau misalnya
minta maaf atas perbuatannya).
4. Menghargai waktu
"Toki wa kane nari" (Time is Money ) kalau bagi orang Jepang bukan cuma kata2 indah peribahasa, tapi kita bisa liat pengejawantahannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau
kita lihat orang Jepang selalu terburu-buru dijalan, itu sudah
merupakan suatu contoh bahwa mereka itu sangat menghargai sama yang
namanya waktu. Mereka nggak mau telat sedikitpun.
![]() |
| Situasi di dalam kereta. Ada yang membaca, main hape, tidur, pokoknya bermacam-macam |
Orang
Jepang juga suka menggosip, atau kepo (ber-sosmed-ria), tapi
kebanyakan hanya sambil lalu saja untuk intermezzo dan nggak sampai
berlebihan. Seperti isu2 sekitar masalah politik, saya jarang sekali
menemukan mereka ber-gossip ria sampai berlebihan. Misalnya ada
menteri (bahkan PM sekalipun) atau pejabat yang melakukan blunder,
terkadang kita juga komentar atau berdiskusi waktu jam makan siang
sambil menikmati lunch atau malam hari ketika sedang makan/minum di
izakaya di hari yang sama. Namun hari2 setelah itu, ya hilang deh itu
gossip. Sudah tidak ada waktu lagi untuk ber-gossip-ria karena
pekerjaan sudah menumpuk.
Bagi
rakyat Jepang, mereka lebih suka waktunya dihabiskan untuk
kepentingan masing2 yang bermanfaat. Memanfaatkan waktu dengan
sebaik-baiknya untuk kepentingan (dan kemajuan) diri sendiri ini
otomatis juga menghargai waktu yang juga sudah menjadi hak orang
lain. Yang kerja ya ngurusin gaweannya, yang sekolah ya ngurus
sekolahnya. Yang ingin menambah pengetahuan (misalnya pengen bisa
bahasa Inggris) ya pergi ke tempat kursus, dan lain2.
5.
Religi
Mungkin ada yang mengira bahwa orang Jepang bukan orang yang religius. Alasannya, jarang liat orang berdoa misalnya di kuil.
Sebenarnya
cara perwujudan kereligiusan orang Jepang itu memang nggak seperti
yang kita kira. Kehidupan religi mereka tidak bisa dilihat hanya dari
luar, atau dari "baju" nya. Mereka langsung menerapkan
kereligiusan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh
yang sederhana. Kalau mereka makan nasi, pasti mereka tidak akan
menyisakan satu bulir-pun nasi di piring di piring bekas makan.
Walaupun ada juga yang menyisakan, tapi jumlahnya sedikit menurut
pengalaman saya.
Kenapa
bisa begitu ?
Karena
mereka tahu bahwa nasi adalah anugerah dari "yang menguasai alam
semesta" dan hasil interaksi mereka dengan alam (mengolah dan
memanen). Dengan menghabiskan nasi tanpa sisa itu adalah cara mereka
berterimakasih akan anugerah dari penguasa semesta, sekaligus
berterimakasih kepada alam dan orang2 yang sudah bersusah payah
menyediakan makanan tersebut. Itulah sebabnya orang Jepang
mengucapkan "Itadakimasu" sebelum makan. Begitu juga ucapan
"Gochisousama" setelah makan, adalah wujud dari ungkapan
terimakasih atas berkat makanan yang sudah bisa dinikmati.
![]() |
| Kuil Kasuga Taisya di Prefektur Nara yang merupakan salah satu dari World Heritage |
Sumber
pemikiran orang Jepang kebanyakan berasal dari ajaran Konfusianisme
yaitu Jingi dan Buddhisme yaitu Jihi.
Jin
dalam Jingi mirip dengan ajaran moral tentang bagaimana memperlakukan
orang lain dengan baik, layaknya seperti seorang ibu yang
memperlakukan atau mengasihi anaknya. Sifat ini umumnya memang lebih
condong kepada sifat keibuan. Gi adalah sifat berani dan tegas dalam
membela dan membantu orang yang benar walaupun dia harus mengorbankan
diri sendiri. Dengan keberanian dan ketegasan ini, maka sifat Gi
lebih condong kepada sifat kelaki-lakian.
Dalam
kehidupan, pengamalan Jingi harus seimbang. Sebab kalau tidak maka
akan terjadi seperti yang pernah dikatakan oleh Date Masamune,
seorang daimyou yang terkenal dari Sendai, yaitu "Jika orang
lebih condong ke Gi maka sifat orang itu akan kaku. Namun kalau lebih
condong ke Jin, maka orang itu akan lemah".
Ji dalam Jihi adalah sifat untuk memberikan sesuatu yang diinginkan oleh orang lain. Misalnya, kalau ada seseorang yang sedang bergembira, maka dengan kita ikut bagian dan turut memberikan kegembiraan kita, maka rasa kebahagiaan orang itu akan berlipat. Hi adalah kebalikannya, yaitu mengambil atau menghilangkan sesuatu yang tidak diinginkan orang lain. Misalnya ada orang yang kesusahan atau kesulitan, dengan membatu orang tersebut menghilangkan kesusahan atau kesulitannya, maka kesusahan yang dirasakan orang tersebut bisa berkurang.
Jingi
dan Jihi ini sudah tertanam dan melekat di dalam spirit nenek moyang
orang Jepang sejak dahulu kala, dan tentunya juga sudah diturunkan
secara terus menerus ke generasi sesudahnya.
Selain
Jingi dan Jihi ini, di sekolah2 Jepang tingkat rendah ada yang
namanya pelajaran karakter dan moral. Di sekolah2 dengan tingkatan
yang lebih tinggi, ada pelajaran tentang Etika. Pelajaran semacam ini
berfungsi untuk memperkuat pribadi dan karakter masing2 anak seiring
dengan pertumbuhannya menjadi dewasa dan menjadi bagian dari
masyarakat kelak di kemudian hari.
Tidak ada pelajaran agama yang diajarkan di sekolah2 Jepang. Hal2 mengenai mana yang baik dan mana yang bukan, sudah diajarkan semenjak kecil melalui shitsuke, pelajaran karakter dan moral. Mungkin karena dasar itulah, orang Jepang juga lebih terbuka untuk mengadopsi hal2 yang baik yang bisa didapat, terutama hal2 yang berhubungan dengan agama (apapun). Ini bisa dilihat bahwa kebanyakan orang Jepang mengamalkan ajaran Shinto untuk bayi yang lahir, kemudian menikah di Kapel atau Gereja. Ketika meninggal, mereka didoakan di kuil agama Buddha.
![]() |
| Tugu Selamat Datang mengucapkan Selamat Datang usia ke-72 |
Indonesia mau kemana ?
Hari
ini, 72 tahun sudah berlalu dari momen Proklamasi Kemerdekaan.
Di
Jepang, ada istilah untuk tiap momen perayaan ulang tahun mulai dari
ulang tahun yang ke 60 lalu kelipatan 10 tahun setelahnya. Di usia 70
tahun disebut koki, yang berarti langka. Sebab jaman dahulu,
merupakan hal yang amat langka jika orang bisa mencapai usia 70
tahun.
Tentunya
kita harus bersyukur, karena kita bisa melalui momen yang "langka"
dan tahun ini sudah masuk ke tahun 72 setelah proklamasi kemerdekaan.
72 tahun bukanlah rentang waktu perjalanan yang singkat. Juga bukan
hal yang mudah untuk menjaga kedaulatan negara selama itu.
Tahun
depan, bisa diprediksi akan menjadi tahun2 yang kembali "panas",
karena akan dilangsungkan pilkada dan tahun berikutnya akan
dilangsungkan pilpres.
Saya tidak bisa berpesan atau menghimbau apa2 karena saya bukan orang yang berkompeten untuk hal yang demikian. Namun saya punya sedikit keinginan. Boleh kan ?
Mudah-mudahan
ketika nanti saya liburan pulang kampung, saya masih bisa menemukan
dan menikmati bakso dan es cendol kegemaran saya di pertigaan dekat
rumah. Mudah2 an juga warung tetangga saya masih buka, soalnya kalau
enggak susah sekali misalnya kalau dirumah kehabisan gula, atau aqua.
Semoga ketoprak yang jualan keliling juga masih ada, soalnya lumayan
kalau malam2 perut tiba2 terasa lapar. Semoga jalan nggak tambah
macet, terutama macet karena demo dan sejenisnya.
Saya
juga berharap, agar kehidupan di Indonesia akan bisa berjalan seperti
"biasa" di masa2 akan datang.
Karena
kehidupan biasa yang saya jalani sehari-hari, bagi saya sebenarnya
adalah rentetan mukjizat, yang bisa saya rasakan.
Selamat
Ulang Tahun ke-72 Indonesiaku !








0 件のコメント:
コメントを投稿