2017年10月9日月曜日

Menyaksikan "Kawaii" Hongkong di Tokyo

Suasana di daerah tenggara Hongkong yang dekat Victoria Harbour
Kalau pembaca pernah melihat drama/film Jepang, atau bahkan mengunjungi dan jalan2 di Jepang, tentunya sudah pernah mendengar kata "kawaii". Kawaii biasanya diucapkan kalau mereka melihat sesuatu yang unik, mungil dan menggemaskan. Orang yang mengucapkan kata itu, tidak terbatas pada wanita yang masih usia sekolah saja. Wanita dewasa (sudah bekerja dan berumah tangga), bahkan kaum lelaki pun boleh dan sah2 saja mengucapkan kata itu.
Kebudayaan "Kawaii"
Orang Jepang memang terampil membuat sesuatu yang kawaii (mungil), atau secara umum, orang Jepang terampil untuk membuat miniatur dari benda2 yang sudah ada. Bahkan orang Korea maupun Tiongkok mengakui ketrampilan orang Jepang tentang hal ini.
Misalnya begini. 
Pada jaman dahulu, kipas masuk ke Jepang dari Tiongkok, atau payung hujan masuk melalui perdagangan dengan orang2 Eropa. Bentuk kipas maupun payung-nya masih besar dan tidak begitu mudah untuk dibawa kemana-mana. Namun, oleh orang Jepang kemudian kipas dan payung tersebut dibuat menjadi kecil dan bahkan bisa dilipat. Dengan demikian kipas dan payung menjadi begitu mudah untuk dibawa tanpa mengurangi fungsi utamanya. Benda2 ini kemudian di ekspor, dan masyarakat di negara sekeliling juga menggemarinya.
Di jaman moderen, kita tentunya tahu Sony menciptakan walkman agar orang bisa menikmati musik dengan mudah, dimanapun dia berada, tanpa harus berkeringat, apa lagi nyeri otot karena harus membawa tape recorder yang segede gaban. Begitu juga dengan motor atau mobil, mereka membuat mobil yang kecil, mungil dan ringkas, dibanding dengan produk mobil buatan Amerika yang umumnya besar. 
Toko Kelontong
Orang Jepang juga banyak maunya tapi nggak mau repot2, seperti misalnya mereka mau dengan mudah menghubungi teman, relasi, saudara, gebetan dll sambil mau foto2 sekaligus mau terhubung dengan internet. Karena nggak mau repot2, misalnya harus bawa kamera analog (yang merupakan ciri khas kebanyakan turis asal Jepang) plus bawa PC kemana-mana sekedar untuk koneksi ke internet, maka mereka menciptakan telefon genggam lipat (flip phone) yang dilengkapi dengan kamera plus internet (jaman dahulu disebut dengan i-mode). 
Mereka bisa menyatukan 3 hal berbeda (telefon, kamera, internet) dalam satu ponsel dan masuk ke saku pula sekitar tahun 2000. Ini adalah jauh sebelum vendor negara lain meluncurkan telefon genggam dengan kemampuan/fungsi serupa. Bahkan Apple pun belum merilis iphone-nya.
Kenapa orang Jepang suka sekali menciptakan sesuatu yang "kawaii" sih ?
Kalau dirunut dari sejarahnya, memang orang Jepang suka jalan kaki (jauh dan dekat). Berbeda dengan bangsa Eropa maupun bangsa lain di Asia, orang Jepang tidak begitu memanfaatkan binatang (misalnya kuda) untuk transportasi. Bahkan di jaman Edo, ada kurir yang tugasnya mengantar surat (kadang barang/benda) hanya dengan modal dengkul (alias modal kaki) yang disebut hikyaku
Apartemen padat di Hongkong
Mereka ini rela pulang pergi dengan jalan kaki misalnya dari Tokyo ke Kyoto, yang kurang lebih berjarak 500 Km sekali jalan. Nah, karena mereka senang berjalan kaki, dengan demikian mereka berusaha agar barang bawaannya bisa seringkas dan seringan mungkin. Apalagi mereka harus menginap dibeberapa tempat untuk beberapa hari di dalam perjalanannya. Hal itu yang menyebabkan mereka senang membuat segalanya menjadi kecil, agar mudah dibawa dan tidak merepotkan di perjalanan.
Miniatur Hongkong di Tokyo
Hongkong ternyata juga mempunyai artis yang terampil untuk membuat segala macam benda menjadi miniatur. Artis2 Hongkong ini memamerkan hasil karyanya dalam pameran yang diberi nama "Hongkong in Miniature", yang diselenggarakan dari tanggal 29 September - 9 Oktober 2017. Pameran diadakan di lantai dasar gedung Kitte. Gedung ini milik Perusahaan Pos Jepang yang baru saja direnovasi. Sekarang, selain digunakan untuk urusan jasa pos, gedung Kitte juga dipergunakan/disewakan untuk perkantoran dan komersial.
Suasana di Gedung Kitte di lokasi pameran
Saya kebetulan punya kesempatan untuk mengunjunginya Sabtu kemarin. Letak gedung ini persis di sebelah Statiun Tokyo, di arah Marunouchi Exit. Walaupun gedung ini bisa diakses dari Stasiun Tokyo melalui pintu keluar stasiun di atas maupun langsung dari bawah tanah (ini praktis kalau misalnya sedang hujan atau turun salju), saya mengaksesnya dari jalur atas.
Poster besar pameran
Ada lebih dari 10 artis pembuat miniatur yang ikut memamerkan hasil karyanya. Seluruh miniatur adalah tentang potret kehidupan sehari-hari Hongkong, saat ini maupun beberapa tahun kebelakang. Ada restoran, pemandangan sudut kota dan gang2 di Hongkong, pemandangan apartemen khas Hongkong yang penuh jemuran dan gemerlap lampu hiasan, acara festival, toko bunga, toko mainan, tukang cukur dan lainnya. Penyajian miniaturnya sangat detil dan mirip dengan aslinya. 
Misalnya di miniatur penjual ikan, ada bermacam miniatur ikan dan kerang di sana dengan warna-warni yang sangat menarik. Bahkan, karena amat mirip dengan aslinya, saya sampai merasa bisa mencium bau amis dari ikan2 tersebut.
Miniatur penjual ikan
Ada juga miniatur rumah makan, dari gedung, meja dan segala macam furniturnya plus makanan yang bisa terlihat seperti baru saja disajikan. Rasa lapar seketika juga muncul, ditambah air liur seperti mau menetes melihat miniatur ini. Bahkan ada televisi yang terpajang di miniatur rumah makan bisa menampilkan gambar bergerak layaknya televisi di rumah2.
Tak lupa juga, ada pemandangan sudut kota dengan lampu papan reklame dan hiruk pikuk kendaraan. Di sini, saya seperti bisa merasakan bau asap dan kegaduhan di pusat kota Hongkong. 
Miniatur rumah makan dengan Televisi yang menyajikan siaran seperti layaknya televisi di rumah dan kipas angin yang berputar
Para artis terampil untuk membuat detil miniatur sekitar 5 cm untuk manusia, bahkan lebih kecil dari itu misalnya untuk binatang, cangkir, makanan dll. Selain detil dari tema utama yang disajikan di masing2 miniatur, para artis juga tidak melupakan aspek penunjang dari suasana miniatur itu sendiri. 
Misalnya pada sebagian dinding bangunan miniatur, ada bermacam poster yang ditempel dan bahkan beberapa sudah robek. Kekusaman dan bagian yang robek di poster nampak sangat nyata persis seperti keadaan aslinya. Juga misalnya di miniatur gang yang sempit, para artis bisa membuat sampah yang bertebaran persis seperti keadaan aslinya yang hampir membuat saya memungut sampah itu untuk membuangnya ke tempat sampah.
Miniatur pemandangan Kowloon di tahun 1980 dengan tempelan poster
Para artis ini sebenarnya pernah mengadakan pameran yang sama beberapa waktu yang lalu di Hongkong dan juga di Jepang. Namun dalam pameran kali ini, ada beberapa miniatur yang belum pernah dipamerkan sebelumnya di Jepang, turut dipajang di arena pameran. Saya menghitung ada sekitar 50 miniatur yang dipamerkan.
Bahkan dalam pameran kali ini, ada kesempatan bagi pengunjung untuk melihat langsung beberapa dari sang artis miniatur melakukan pekerjaannya (semacam demo sekitar 1 jam). Namun karena skedul demo itu terbatas dan saya kebetulan datang setelah acaranya selesai, jadi saya kurang beruntung untuk menyaksikan langsung proses pembuatannya.
Seperti apa sih Miniatur Hongkong ?
Bagi pembaca yang penasaran, ini adalah sebagian dari hasil jepretan saya di acara tersebut.
Miniatur ruang bermain diambil dari atas
Star Wars

Miniatur warung penjual bahan makanan

Miniatur Restoran
Seperti Raksasa dan Liliput
Penjual Majalah. Detil majalah yang dijual seperti majalah asli




2017年9月25日月曜日

Jalan-jalan ke Tokyo Game Show 2017

Pintu masuk hall tempat berlangsungnya TGS 2017
Akhir minggu ini, di Makuhari Messe (Convention Center yang berlokasi di prefektur Chiba) diselenggarakan acara tahunan Tokyo Game Show (TGS).
Saya nggak tahu alasan, kenapa namanya "Tokyo" Game Show, tapi acaranya di "Chiba". Jadi harap jangan protes ke saya ya.
Dua hari pertama yaitu tanggal 21-22 September, acaranya khusus bagi kalangan pelaku bisnis game, sehingga pengunjung otomatis tidak perlu membayar untuk melihatnya alias gratis kalau sudah registrasi. Lalu dua hari berikutnya yaitu tanggal 23-24 September, acaranya dibuka untuk umum tapi nggak gratis, alias harus membayar harga tanda masuk sebesar 1200 yen.
Saya mempunyai kesempatan untuk melihat acaranya hari ini. Acara dimulai jam 10:00 dan saya tiba di lokasi sekitar jam 10 lewat sedikit. Walaupun sudah banyak orang yang menunggu untuk masuk, namun (seperti kebiasaan orang Jepang) mereka antri dengan rapi jali, dipandu oleh petugas untuk memasuki area dimana acara dilaksanakan.
Tiket Masuk TGS 
TGS dari tahun ke tahun
TGS pertama kali diadakan pada tahun 1995. Di tahun ini, industri perangkat game dikatakan memasuki generasi ke 5. Dua bulan sebelum acara pembukaan TGS, Nintendo ikut dalam "perang" pemasaran perangkat game dan meluncurkan game terbarunya Nintendo64. Namun sayangnya, mereka tidak ikut memamerkan produknya di acara tersebut.
Hanya produk2 game (software) untuk Nintendo yang dikeluarkan oleh beberapa developer saja yang ikut pameran. Produk PlayStation dari Sony mendominasi acara tersebut, sehingga masyarakat pada saat itu sudah menduga bahwa Sony akan menjadi penggerak dan pemimpin dalam dunia game Jepang ke depan.
Stan perusahaan mobile game 6waves 
Pada tahun2 berikutnya, jumlah perusahan yang ikut ambil bagian pada TGS bertambah banyak. Selain perusahaan berskala besar, perusahaan kecil dan startup juga mulai bermunculan untuk bergabung dalam pameran.
Tahun ini, penyelenggaraan acara menitikberatkan pada 4 unsur, yaitu memperkuat penyiaran secara langsung penyelenggaraan (semua acara) melalui internet, menyebarluaskan e-sport kepada masyarakat, pengenalan game yang berbasis Virtual RealityAugmented Reality dan campuran antara keduanya (Mixed Reality), dan terakhir memperbanyak peserta (industri atau perusahaan) dari luar Jepang.
Dimana ada gula, disitu ada semut
Ada sekitar 609 perusahaan dan organisasi yang turut ambil bagian dalam acara selama 4 hari. Jumlah ini adalah 3 kali lebih banyak dibandingkan dengan jumlah perusahaan yang bergabung pada acara Game Show yang diadakan 5 tahun yang lalu. Dari total acara 4 hari, jumlah game ataupun barang2 yang dijual yang berhubungan dengan game diperkirakan sekitar 1300 buah.
Yang menarik, ada sekitar 317 perusahaan dan organisasi dari luar Jepang yang ikut meramaikan acara pada tahun ini. Dimana jumlah tersebut adalah lebih dari setengah dari jumlah total perusahaan/organisasi yang ambil bagian pada TGS 2017.
Stan PlayStation 
Saya juga sempat mampir di stan Indonesia yang juga ikut meramaikan TGS tahun ini. Indonesia mempunyai stan cukup besar dan meriah dan letaknya di dalam area yang disebut dengan "New Star's Asia". Di dinding stan ada tulisan besar "archipelageek".
Archipelageek adalah program yang diusung oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) dan Asosiasi Game Indonesia. Ada sekitar 6 developer game dan publisher yang ikut serta tahun ini.
Stan Indonesia di TGS 2017 
Dalam sambutan pembukaan TGS 2017, ketua CESA (Computer Entertainment Supplier's Association) Okamura Hideki mengatakan, bahwa kita ada di era dimana semua orang bisa menikmati game yang melebihi batas2 realitas. Lalu dia juga berkata bahwa, ini adalah momen bagi masyarakat di dunia untuk menciptakan kesempatan menikmati e-sport.
Pasar Game di Jepang
Pada saat pembukaan TGS pada tanggal 21 September, saham2 JASDAQ yang dilaporkan Nikkei mengalami kenaikan sebesar 0.19%. Sayangnya, kenaikan ini bukan karena adanya pergelaran TGS. Bahkan sebaliknya, ada beberapa saham yang berhubungan dengan game malah dijual ke pasaran, atau ada anak perusahaan pembuat game yang ikut pada perhelatan TGS mengalami sedikit kenaikan harga pada pembukaan pasar saham di pagi hari (tanggal 21), namun akhirnya malah mengalami penurunan harga di penutupan pasar.
Pengunjung di TGS 2017
Namun secara keseluruhan, pasar game domestik Jepang memang mengalami peningkatan yang pesat, yang nominalnya mencapai rekor tertinggi pada tahun 2016 sebesar 1 milyar 380 juta yen. Hanya perlu diberi catatan sedikit, bahwa nominal ini terutama adalah jumlah nilai game terjual dari game aplikasi pada gawai, bukan pada perangkat game portabel untuk rumahan. Game (software) yang diproduksi untuk perangkat game rumahan (berikut perangkat game/hardware nya), masih menunjukkan gejala yang tidak menggembirakan yaitu mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Hal ini berhubungan erat dengan perubahan pola bermain masyarakat, dari pola bermain game yang sifatnya "statis" (yaitu alat permainan membutuhkan suatu tempat dan hubungan koneksi ke layar televisi), kemudian berubah ke pola permainan game yang sifatnya "dinamis" (yaitu permainan dimainkan dengan gawai yang tidak membutuhkan tempat maupun koneksi ke layar televisi).
Ide orang Jepang ada2 saja....Cosplay dalam display di TGS 
e-sport pada TGS
Pada TGS tahun ini, e-sport merupakan jenis game yang mendapat perhatian khusus dari pengunjung. Delapan perusahaan game Jepang ternama, seperti Capcom (mungkin ada yang ingat dengan game legendaris Street Fighter ?) dan Sega Games mengadakan kompetisi terbuka e-sport selama acara TGS.
Menurut perusahaan riset Newzoo, sampai dengan tahun 2020, populasi masyarakat di dunia yang menikmati permainan e-sport ditaksir ada sekitar 500 juta orang.
Namun perkembangan e-sport di Jepang termasuk lambat. Salah satu sebabnya adalah belum adanya undang2 yang mengatur misalnya berapa besarnya hadiah (maksimal) yang bisa diberikan pada pemenang kontes e-sport. Lalu, kurangnya pusat2 latihan untuk mendidik orang yang ingin menjadi gamer profesional juga merupakan salah satu sebab lambatnya perkembangan e-sport di Jepang.
Salah satu e-sport yaitu Gran Turismo terbaru, yang memakai teknologi AI, VR dan 4K 
Penutup
Di TGS kali ini, seperti tahun sebelumnya ada banyak acara yang bisa disaksikan. Mulai dari acara peluncuran game baru, stan untuk mencoba langsung game, atau jika ada yang mau menguji ketrampilannya, kita bisa ikut pertandingan game.
Ada juga acara talk show yang berisi cerita atau tanya jawab dengan pelaku kreatif game mulai dari game designer, director, dll. Ada juga acara bincang2 para pelaku bisnis anime (dimana anime mempunyai hubungan yang kuat dengan game) dan pelaku industri game, dengan menghadirkan tokoh anime (pengisi suara) atau animatornya sendiri.
Stan game Tokimeki Idol 
Lalu tidak ketinggalan, ada juga acara untuk kemanusiaan yaitu barang2 koleksi dari pelaku bisnis game (misalnya game creator) yang merupakan barang yang biasanya tidak dijual atau tidak dapat ditemukan di pasaran (alias barang langka bagi penggemar game nya), dilelang dan uang hasil lelangnya dikumpulkan untuk amal bagi pemulihan daerah korban bencana alam.
Salah satu Cosplay di acara TGS
Dan tentunya, yang ditunggu2 dari para pengunjung adalah acara foto bersama cosplayer di area yang sudah disediakan, atau memfoto para gadis penunggu stan yang menarik, maupun sekedar antri untuk mendapatkan merchandise yang khusus disediakan pada saat pameran.
Acaranya TGS dilangsungkan setiap tahun. Jadi jika ada pembaca yang gemar game dan berminat, mungkin bisa menengok acara TGS berikutnya sambil berwisata tahun depan.
Merchandise oleh2 dari TGS 2017

2017年9月23日土曜日

Romantisme Musim Gugur di Kuil Heirinji

Momiji di sekitar Butsuden 
Bulan September di Jepang, kalau menurut kalender sudah memasuki musim gugur.
Alam juga sudah menunjukkan gelagatnya seperti itu. Urokogumo (awan berbentuk sisik ikan) sering terlihat akhir-akhir ini. Bunyi dari serangga musim panas seperti aburazemi, minminzemi, higurashi, dll, juga sudah tidak lagi terdengar.
Suhu udara siang tidak lagi lembap dan banyaknya angin yang berhembus membuat suhu udara juga mulai sejuk, terutama di malam hari. Makanan yang populer di musim gugur seperti biji kuri yang harum, jamur matsutake, dan buah nashi mulai bermunculan di supermarket. Bunga-bunga musim gugur seperti cosmos dan higanbana (Lycoris radiata) juga mulai bermekaran.
Musim gugur adalah musim yang paling saya suka selama "pengembaraan" saya di Jepang. 
Ada beberapa alasan yang menyebabkan saya menyukai musim ini.
Pertama, suhu udara yang sejuk.
Dibanding dengan cuaca dingin yang suhunya bisa menusuk tulang sumsum, maupun musim panas yang kelembapannya tinggi hingga terasa seperti mandi di sauna, hawa di musim gugur terasa sejuk dan pas bagi orang kelahiran daerah tropis seperti saya (ini menurut saya lho). 
Memang awal musim semi juga terasa sejuk karena masih menyisakan rasa agak dingin setelah musim salju. Namun, karena setelah musim semi adalah musim panas (dan bayangan saya adalah keringat yang mengucur deras sehingga membuat saya tidak begitu suka), maka euforia di awal musim semi tidak sebesar dibanding jika menyambut musim gugur. 
Fotografi adalah mengenai momen dan cahaya. Objek orang bisa menambah rasa suasana foto 
Kedua, ada objek favorit untuk difoto.
Saya suka fotografi, dan hanya di musim gugur daun momiji (maple) bisa mempunyai berbagai macam warna dari hijau, kuning, merah, pink dan lainnya. Ini tentunya amat menarik bagi saya sebagai objek untuk difoto.
Foto dengan Lensa Manual Trioplan 100/2.8 
Ketiga, saya bisa merasakan yang namanya wabi-sabi.
Wabi-sabi merupakan puncak pengungkapan rasa estetika masyarakat Jepang. Orang lain mungkin bisa merasakan wabi-sabi saat mengadakan upacara minum teh, atau meresapi sajak-sajak buatan Matsuo Basho. Dan saya bisa merasakannya pada musim gugur, saat daun sudah rontok ke bumi yang merupakan pertanda alam sudah siap menyambut kedatangan musim dingin yang sepi dan panjang.
Keempat, entah mengapa (dengan alasan yang susah untuk diungkapkan) saya merasakan ada romantisme di musim gugur.
Saat musim gugur, banyak spot yang bagus untuk "berburu" momiji. Dan saya akan membahas salah satu spot yang "agak" anti-mainstream, yaitu Kuil Heirinji di Saitama.
Penampakan Butsuden dari dalam taman
Kuil Heirinji
Kuil Heirinji bernama lengkap Kinpouzan Heirinji, dibangun pada tahun 1375. Pada saat dibangun, kuil ini letaknya di Iwatsuki-ku. Namun pada tahun 1663 kuilnya dipindah ke daerah Nobitome, masih di prefektur yang sama di Saitama sampai sekarang.
Kuil ini merupakan kuil Buddha dari aliran Rinzaishuu Myoushinji. Selain sebagai pusat pendidikan dan latihan Zen, di kuil ini juga terdapat komplek makam dari keluarga Oukouchi Matsudaira, di mana nenek moyangnya ada yang menjadi penasihat Shogun Tokugawa Ieyasu.
Jalan dari pintu masuk atau Soumon 
Kuil ini terletak di daerah yang bernama Musashino, daerah yang dahulunya adalah dataran yang dipenuhi dengan tanaman hagi dan susuki yang sangat indah bila dipadukan dengan bundarnya bulan di saat bulan purnama. Sehingga Musashino sering menjadi inspirasi keindahan dan bahan untuk seni sastra, kesenian dan kerajinan tangan. Bahkan nama Musashino sudah tertulis juga di Manyoushuu, yang merupakan kumpulan puisi tertua di Jepang.
Sanmon di area tengah kuil
Daerah Musashino dahulunya adalah daerah yang kekurangan air, sehingga di Zaman Edo dibangun jalur perairan yang sumbernya berasal dari Tamagawa Jousui. Dengan dibukanya aliran air, maka banyak orang yang kemudian pindah ke daerah ini dan membuka pertanian, perkebunan, juga menanam pohon-pohon dari berbagai jenis. Kemudian pohon-pohon ini membentuk hutan dengan jenis pohon campuran, yang masih ada sampai sekarang.
Patung A-Un di Sanmon
Komplek Kuil Heirinji mempunyai daerah yang luas dengan campuran berbagai macam jenis pohon (dalam Bahasa Jepang disebut Zoukibayashi) dalam area 43 hektar. Zoukibayashi di Komplek Kuil Heirinji ini merupakan daerah yang telah ditetapkan sebagai Kekayaan Alam Nasional (hanya di sini yang menyandang predikat ini di Jepang).
Di kuil ini juga disimpan hasil karya dari seniman-seniman terkenal Jepang seperti Tomioka Tessai dan Hayami Gyoshuu. Lalu Kaisar Akihito (Kaisar Jepang yang sekarang) juga sudah dua kali mengunjungi kuil ini (tahun 1977 sewaktu masih sebagai putra mahkota, dan tahun 2009).
Bangunan yang bernama Hansouboukannouden 
Akses dan HTM
Akses ke kuil ini bisa dengan beberapa jurusan kereta api. Namun, jika pembaca ingin sampai ke sini dengan biaya yang paling murah dan cepat dari pusat kota, pembaca bisa naik kereta dari Stasiun Shinjuku dengan menggunakan JR line dan turun di Stasiun Niiza. Jarak tempuhnya sekitar 40 menit. Lalu dari Stasiun Niiza, pembaca bisa naik bus dengan jurusan Higashikurumeeki Higashiguchi, atau bisa juga jalan kaki.
Kereta yang menuju Kuil Heirinji
Berdasarkan pengalaman, maka saya merekomendasikan pembaca untuk berjalan kaki, karena pemandangannya alamnya bagus dan sekaligus bisa trekking. Kita bisa melalui jalan yang masih banyak ditumbuhi pohon tinggi. Di kanan-kiri jalan, selain ada berbagai macam tanaman, ada juga saluran air yang airnya juga bening mengalir. Jarak yang harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 3 Km. Nggak begitu capek kok :)
Fotografer Pemburu Momiji (banyak yang pakai tripod juga walaupun dilarang)
Kuil buka dari jam 09.00 sampai 16.30 (batas masuk terakhir jam 16:00) dengan harga tanda masuk 500 yen untuk dewasa dan 200 yen untuk anak-anak.
Pada saat musim gugur, lumayan banyak pengunjung yang datang. Disarankan agar pembaca datang di pagi hari kalau berencana untuk mengunjungi kuil.
Pemandangan dari belakang Sanmon 
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan :
  • Tidak tersedia vending di areal kuil. Jadi untuk pembaca yang punya rencana berkunjung, sebaiknya membawa/membeli minuman dari luar.
  • Bagi penggemar fotografi, di area kuil tidak diperbolehkan menggunakan monopod atau tripod.
  • Sampah juga harap dibawa pulang.
  • Bagi yang sudah keluar dari area kuil (keluar melalui pintu masuk), tidak diperkenankan untuk masuk kembali kecuali membayar lagi.
  • Komplek kuil sangat luas, namun ada beberapa tempat atau jalan yang tidak bisa diakses oleh umum. Jadi diharap mematuhi peraturan, misalnya jangan mencoba masuk jika ada tulisan dilarang masuk atau menerobos tempat yang diberi pagar (walaupun pagar rendah bisa dilangkahi atau hanya diberi pagar tali).
Bonus foto-foto momiji di area kuil.
Foto dengan Lensa Manual Trioplan 100/2.8
Foto dengan Lensa Manual Trioplan 100/2.8
Foto dengan Lensa Manual Trioplan 100/2.8 

2017年8月27日日曜日

Hanabi Menyulap Langit Menjadi Penuh Bunga di Musim Panas

Festival Hanabi di Sakura City, Chiba
Mungkin waktu kecil kita (atau paling tidak, saya) suka sekali lihat dan main dengan yang namanya kembang api.
Jaman saya kecil dahulu, kembang api yang paling populer adalah kembang api yang mesiunya menempel pada kawat besi. Lalu kita bisa memegang ujung besi yang tidak ada mesiunya, dan ujung lainnya dibakar dengan menggunakan korek api. Rasanya gembira luar biasa ketika bisa melihat percikan kembang api yang berwarna putih dan ke-emas-an. 
Kadang bila kembang api sudah agak melempem alias tidak bisa dibakar lagi, biasanya harus dijemur seharian di atas selembar kertas koran sebelum disulut kembali pada malam harinya. Jika sudah disulut, kita juga harus berhati-hati untuk memegangnya, karena pegangan besinya bisa menjadi panas dan tentu harus menjauhkan kembang api dari baju. Karena kalau ceroboh, percikan kembang apinya bisa bikin baju bolong-bolong.
Festival Hanabi di Tachikawa
Dalam artikel ini, saya hanya akan membahas kembang api khususnya di Jepang, yang disebut hanabi.
Hanabi merupakan hiburan yang boleh dibilang paling populer di musim panas dalam bulan Agustus. Dalam bulan2 ini yang bersamaan dengan liburan musim panas anak sekolah, kita bisa menemukan festival/pertunjukan hanabi di seantero Jepang. 
Pertunjukan hanabi tidak memandang besar kecilnya suatu kota, karena festival biasa diadakan mulai dari daerah kota yang besar dan padat penduduk (setingkat provinsi), bahkan bisa juga diadakan di daerah2 yang jauh dari kota dengan populasi yang sedikit (setingkat kelurahan bahkan setingkat RT/RW).
Tentunya kualitas (keindahan warna serta besarnya "bunga" hanabi) dan kuantitas (banyaknya jumlah kembang api yang dipakai) dari festival hanabi, berhubungan erat dengan lokasi dimana pertunjukan diadakan dan juga tergantung dari banyaknya sponsor (jumlah uang yang terkumpul). Lokasi yang populer di mana festival hanabi sudah puluhan kali diadakan, atau lokasi yang dekat dengan objek wisata tentunya mempunyai kualitas dan kuantitas festival yang bagus. 
Sponsor mutlak diperlukan karena untuk melaksanakan satu pertunjukan kembang api di suatu daerah, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Makin banyak sponsor yang rela merogoh koceknya dalam-dalam dan murah hati sehingga bujet nya memadai (atau kalau bisa lebih), tentunya mempunyai efek yang bagus bagi festival hanabi itu sendiri.
Lalu, kira-kira berapa sih biaya atau bujet yang harus disediakan untuk sekali festival hanabi ini ?
Harga sebuah hanabi ditentukan oleh besar/ukuran tama (tentang tama, lihat paragraf tentang "ciri khas hanabi") atau bulatan kembang apinya yang belum disulut/dilontarkan ke atas (tentang besar/kecil-nya hanabi, lihat paragraf tentang "ukuran hanabi"). Makin besar ukurannya maka harganyapun makin mahal. 
Hanabi dengan ukuran nomor 3 harganya sekitar 5 ribu yen, lalu untuk nomor 7 harganya sekitar 30 ribu yen. Ukuran nomor 20 sekitar 800 ribu yen. Ini belum termasuk biaya pemasangan/instalasi, biaya operator, dll. Bahkan saat ini banyak festival hanabi yang di-sinkron-kan dengan soundsytem dan sinar laser, yang tentunya membutuhkan lagi biaya tambahan.
Secara total, jika 10 ribu hanabi akan digunakan di festival, maka dibutuhkan biaya kira-kira  50 s/d 100 juta yen. Dalam satu festival ini, biasanya berbagai macam ukuran hanabi (tama) akan digunakan. Jadi kita bisa bayangkan, berapa kocek yang harus dikuras misalnya untuk Festival Hanabi yang terkenal di Tokyo yaitu Sumidagawa Hanabi, di mana menggunakan sekitar 22 ribu hanabi. 
Lalu tahun ini , Festival Hanabi di Danau Suwa Nagano menggunakan jumlah hanabi yang terbanyak di Jepang, yaitu 40 ribu. Kebayang nggak berapa biayanya ? Atau mungkin pembaca punya pikiran "Wah, coba kalau uangnya dipakai untuk beli bakso udah dapet berapa piring tuh ?" :)
Bila ada pembaca yang punya kesempatan datang ke Jepang di bulan Agustus dan ingin melihat hanabi, maka laman berikut bisa dijadikan referensi untuk mengetahui jadwal festival hanabi di seluruh Jepang.
Festival Hanabi di Arakawa
Sejarah Hanabi
Kalau dirunut sejarahnya, hanabi pertamakali dipergunakan oleh Kaisar Qin (259-210 BC) di Tiongkok sebagai cara berkomunikasi untuk memberitahukan jika ada pergerakan musuh yang menyerang Tembok Besar Tiongkok. Cara ini kemudian dikenal dengan nama noroshi atau komunikasi melalui asap. Noroshi ini sering juga dipergunakan untuk aba2 menyerang musuh di dalam peperangan.
Saat itu, noroshi yang merupakan cikal bakal dari hanabi, belum mempunyai wujud dan komposisi dengan warna-warni seperti sekarang. Bentuknya hanya merupakan asap dengan warna hitam atau abu2 karena bahan baku yang dipergunakan adalah mesiu hitam.
Dalam perkembangannya, kemudian teknik noroshi ini dibawa keluar dari Tiongkok oleh pedagang Eropa pada abad 14 dan mereka kemudian menyempurnakannya. Lalu pada abad 16, pedagang Eropa juga lah yang membawa teknik noroshi yang sudah disempurnakan ini ke Jepang, bersamaan dengan masuknya senapan dengan amunisi berupa bubuk mesiu yang disebut Matchlock gun (nama Jepangnya hinawajuu). 
Pada tahun 1732, di Jepang banyak orang yang meninggal karena wabah penyakit menular. Untuk memperingati arwah orang-orang yang meninggal dan untuk menghentikan wabah tersebut, maka Tokugawa Yoshimune, Shogun yang berkuasa waktu itu memerintahan untuk mengadakan Suijin Matsuri (Water god Festival) pada waktu kawabiraki , yaitu saat penanda awal musim panas di Sungai Sumida (Sumidagawa). 
Kemudian pada tahun berikutnya, toko2 teh di sekitar Sumidagawa mulai patungan untuk mengadakan festival hanabi pada tanggal yang sama dengan Suijin Matsuri  yang diadakan di tahun sebelumnya. Dan festival hanabi ini kemudian dari tahun ke tahun ditiru dan mulai berkembang di berbagai daerah. Akibatnya, sampai saat ini di setiap musim panas, festival hanabi banyak diadakan di seluruh Jepang.
Festival Hanabi di Enoshima
Bahan-bahan hanabi
Sebelum masa Meiji, bahan baku hanabi hanya berasal dari bubuk mesiu yang berwarna hitam. Sehingga variasi warna yang bisa dihasilkan belum begitu banyak ragamnya. Setelah masa Meiji, dengan masuknya bahan-bahan kimia yang beraneka ragam ke Jepang seperti potassium chlorate, strontium dan alumunium, maka warna hanabi yang dibuat berdasarkan bahan-bahan baru ini bisa bervariasi. Bahan-bahan kimia yang masuk itu sangat menunjang untuk menghasilkan berbagai macam warna dengan kualitas pancaran warna yang lebih cerah dan memukau.
Secara umum, ada 4 komponen dasar hanabi. Yang pertama adalah bahan pembantu pembakaran (oxidizer), lalu zat yang (digunakan supaya) terbakar, kemudian bahan (material) pembuat warna dan terakhir adalah material untuk membuat asap. Keindahan dari hanabi amat ditentukan oleh sinar warna yang terjadi setelah hanabi meledak di udara dan asap yang terjadi (asap dijadikan sebagai background supaya warna lebih kelihatan). Jadi, kemampuan untuk memadukan bahan pembantu kebakaran, zat yang terbakar dan material pewarna merupakan kunci dari keindahan hanabi.
Umumnya warna dasar hanabi adalah merah, kuning, hijau, putih, ungu, merah dan perak. Meracik bahan-bahan dasar pembuat warna untuk menghasilkan warna tertentu yang diinginkan memang tidak mudah. Sehingga faktanya, warna biru muda dan emerald green baru bisa diciptakan pada tahun 1998, dan warna orange pada tahun 2000.
Festival Hanabi di Chofu
Jenis-jenis hanabi
Dari semua hanabi yang ada, secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu Uchiage hanabi, Shikake hanabi dan Omocha hanabi.
Uchiage hanabi adalah jenis kembang api yang diluncurkan dan meledak di udara. Shikake hanabi adalah jenis kembang api yang dipasang di kabel yang dibentangkan di daratan ataupun di tempat lain yang statis (misalnya di panggung) bahkan ada pula yang ditaruh di atas air (misalnya di danau). 
Lalu yang terakhir Omocha hanabi adalah jenis kembang api mainan, yang dijual di supermarket dan biasanya dimainkan (disulut) di taman atau di pekarangan rumah.
Jenis hanabi yang sering dipertunjukkan di Jepang adalah Uchiage hanabi. Uchiage hanabi ini kalau dikelompokkan lagi terdiri dari 3 macam, yaitu warimono, pokamono dan han-warimono. 
Warimono adalah hanabi yang di dalamnya berisi mesiu berwarna-warni (yang biasa disebut hoshi) dan ketika meledak di udara mesiu2 ini kemudian menyebar ke segala arah. Bentuknya ada yang seperti bunga, misalnya Kiku dan Botan. Lalu ada yang seperti pohon kelapa dan ada yang berbentuk binatang seperti kupu-kupu. Bahkan, saya pernah melihat ada yang berbentuk (kepala) doraemon lho.
Pokamono adalah hanabi yang ketika diudara terbelah menjadi dua dan dari dalamnya keluarlah bentuk-bentuk yang unik seperti pohon yanagi, dan ada yang dibuat untuk mengeluarkan parasut atau baling-baling kecil. Sedangkan han-warimono adalah gabungan dari warimono dan pokamono.
Festival Hanabi di Inbanuma
Ciri Khas Hanabi
Hanabi Jepang mempunyai perbedaan jika dibandingkan dengan kembang api dari Eropa/Amerika. Dari gambar di bawah bisa dilihat bahwa hanabi Jepang (yang belum disulut/diluncurkan) berbentuk bulat (dalam bahasa Jepang disebut tama), sementara dari Eropa/Amerika bentuknya silinder.
Perbedaan yang mencolok adalah :
  • Waktu meledak diatas, hanabi bisa berbentuk bulat sempurna
  • Hoshi (mesiu berbentuk bulat kecil warna-warni) nya bisa memancarkan warna yang berbeda dan berubah ketika hanabi meledak di udara
  • Di dalam hanabi, hoshi bisa berlapis 2, 3 atau lebih
Gambaran lebih lengkap tentang perbedaan hanabi dan kembang api Eropa/Amerika bisa dilihat di gambar berikut.
Perbedaan Hanabi dengan Kembang Api Eropa/Amerika(www.hanabi-jpa.jp)
Ukuran Hanabi
Hanabi (tama) biasanya berukuran dari nomor 2.5 sampai yang terbesar nomor 40. Data dari hanabi, ketinggian yang bisa dicapai saat ditembakkan ke udara serta diameter saat meledaknya bisa di lihat di tabel berikut.
Tabel Ukuran Hanabi, Ketinggian dan Diameter saat meledaknya (www.hanabi-jpa.jp)
Teknik Fotografi Hanabi

Untuk mengabadikan hanabi dengan kamera, memang dibutuhkan teknik yang sedikit berbeda dibanding bila kita hanya ingin mengambil foto pemandangan. Tapi jangan khawatir, karena teknik pengambilan foto hanabi sebenarnya tidak begitu sulit. Yang diperlukan hanya sedikit latihan dan keuletan saja kok. 
Sebelum membicarakan teknik fotografinya, untuk mendapatkan hasil pemotretan yang optimal, maka dibutuhkan persiapan yang meliputi :
  • Check lapangan untuk menentukan posisi kamera kita dan informasi di mana spot hanabi akan ditembakkan. Karena jika tidak, maka bisa saja saat hanabi meledak di udara akan terhalang oleh gedung atau pohon (pengalaman pribadi, jika tanpa check ternyata hanabi kadang terhalang gedung atau pohon) 
  • Kalau bisa dan sempat, jangan lupa check juga arah angin pada lokasi serta jam pelaksanaan festival. Karena kalau angin tidak mendukung, maka asap dari ledakan hanabi justru akan menghalangi atau mengganggu saat kita memotret hanabi.
  • Jangan lupa bawa senter dan tripod. Senter perlu karena bisa dipastikan keadaan sekeliling akan gelap (atau remang-remang). Jadi misalnya kita mau ganti SD card atau baterai atau apapun bisa lebih membantu jika ada senter untuk membantu penerangan. Tripod diperlukan karena untuk memotret hanabi dibutuhkan exposure time lebih dari 1 detik. Jadi kalau tidak memakai tripod, maka foto bisa blur dan goyang bombay.
Festival Hanabi di Sumidagawa

Secara garis besar, teknik fotografi hanabi adalah sebagai berikut :

  • Gunakan ISO100
  • Gunakan buka'an apperture kecil (F11 ke atas)
  • Gunakan manual mode
  • Gunakan manual fokus (pertama bisa di set ke infinity, kemudian di set ulang dengan melihat hasil waktu hanabi berlangsung)
  • Mode shutter gunakan Bulb (sekitar 1 sampai 10 detik)
  • Gunakan White Balance yang fix (misalnya untuk siang hari), jangan di set ke auto
  • Kalau ada fitur noise reduction bisa dimatikan
  • Lensa bisa memakai ukuran 35mm atau 70mm (tergantung jarak kamera dan lokasi hanabi)
  • Gunakan timer untuk pengambilan foto agar mengurangi goncangan kamera
Pembaca bisa mencobanya jika ada kesempatan melihat hanabi.
Tapi, tidak usah kecewa berlebihan jika setelah berusaha maksimal, namun hasil foto hanabi yang diperoleh dirasa belum bagus atau belum sesuai keinginan. Yang terpenting adalah, kita sudah punya kesempatan untuk melihat hanabi secara langsung dan merekam semuanya itu di memori kepala kita sendiri. Percaya deh, memori yang sudah terpatri di kepala, jaaauuuh lebih baik dan berharga dibanding dengan memori di SD card atau CF card. 
Apalagi dengan sudah menonton langsung, kita juga sudah bisa menikmati suara keras dentuman yang menggetarkan tubuh khas hanabi. Semuanya itu pasti menjadi kenangan yang tidak akan bisa dilupakan.
Festival Hanabi di Chofu 
Bermain dengan Focal Length waktu memfoto hanabi