2018年3月3日土曜日

Bunga Ume, yang Mengantar Datangnya Musim Semi dengan Sejarah Panjangnya

Bunga Ume Pink
Jika kita susah atau bingung menemukan kata2 yang tepat untuk mengungkapkan perasaan hati kita, orang bilang "katakanlah dengan bunga". Tentunya orang suka akan bunga, yang mempunyai berbagai macam bentuk dan warna serta keunikannya masing2.
Di negara yang mempunyai 4 musim termasuk Jepang, memasuki bulan Maret---yang merupakan awal musim semi---maka suhu udara sudah berangsur naik dengan teratur. Meskipun begitu, pada malam maupun pagi hari, suhu dinginnya masih terasa sampai ke tulang sumsum. Nah, salah satu tanda datangnya (awal) musim semi adalah kita bisa menyaksikan bunga2 yang mulai bermekaran. 
Diantara bunga itu, ada 3 bunga yang bentuknya mirip yaitu Ume (Japanese Apricot), Momo (Peach) dan Sakura (Cherry Blossom). Bisakah pembaca membedakan antara ketiga bunga tersebut ? Kalau belum bisa membedakannya, jangan khawatir. Saya akan membahas bagaimana caranya diakhir tulisan.
Bunga Ume Putih
Sekilas tentang Ume
Saat ini, jika pembaca diminta menyebutkan nama bunga yang erat hubungannya dengan Jepang, maka bisa dipastikan 99,99% jawabannya adalah Sakura. Bahkan negara Jepang sendiri terkadang disebut sebagai Negara/Bumi Sakura.
Pada era Nara (Tahun 710 sampai 794) dan era2 sebelumnya, kalau penduduk saat itu diminta menyebutkan nama bunga, maka mereka serentak akan menyebut nama Ume, bukan Sakura. Masih pada era Nara (dan era sebelumnya), acara hanami (apresiasi keindahan bunga) adalah untuk menikmati keindahan Bunga Ume. Lagi2 bukan bunga Sakura. Acara hanami yang kita kenal sekarang dimana masyarakan menikmati keindahan bunga Sakura, sebenarnya "baru" dimulai sejak era Edo (sekitar tahun 1600-an).
Ada beberapa teori yang berbeda tentang asal muasal bunga Ume ini. Beberapa ahli mengatakan Ume berasal dari daratan Tiongkok (yang merupakan pendapat mayoritas), namun ada juga yang mengatakan Ume aslinya berasal dari Jepang. Selain pendapat yang berbeda mengenai asal usulnya, perbedaan lain antara Jepang dan Tiongkok---yang berhubungan dengan Ume menurut literatur yang ada---adalah, di Jepang, perhatian yang utama dari masyarakat kepada Ume adalah pada bunga Ume itu sendiri, yaitu keindahan bentuk dan warna-warni nya.
Sedangkan di Tiongkok, perhatian atau minat utama masyarakat adalah kepada buah Ume, yang memang banyak digunakan untuk obat-obatan dan juga sebagai bahan makanan seperti buah Ume yang diawetkan dengan menggunakan garam.
Ume di Mogusaen, Tokyo
Ume, selain bunganya yang memiliki keindahan tersendiri dan buahnya yang bisa dimakan (walaupun buah yang masih muda ada yang bisa menyebabkan keracunan kalau dimakan), pohon (batang)nya yang kuat juga bisa digunakan untuk membuat perkakas makan, misalnya dibuat untuk sendok, sumpit atau gelas.
Alat makan Jepang (washokki) yang berasal dari keramik pun, banyak yang diberi gambar Ume. Bahkan ada juga yang bentuknya---misalnya piring atau wadah---mempunyai wujud seperti bunga Ume. Penggunaan Ume sebagai bahan dasar untuk dibuat sebagai perkakas makan, atau penggunaan gambarnya pada alat makan memang istimewa.
Kenapa ? Karena walaupun bunga Ume hanya bisa dinikmati pada (awal) musim semi, namun alat makan dari pohon Ume, maupun yang bergambar Ume---misalnya gelas untuk minum teh atau piring untuk makan---disukai untuk digunakan di segala musim.
Jenis Ume di seluruh Jepang ada sekitar 100 lebih. Namun dari jumlah itu, hanya ada beberapa saja yang terkenal dan namanya sudah menjadi brand name  dari daerah tertentu. Contohnya nama Gyokuei, Shirokaga dan Yourou di daerah Kanto. Kemudian ada Tougoro, Benisashi di daerah Hokuriku. Ada juga Bun-go, Takadaume di daerah Touhoku.
Saat ini, daerah yang terkenal sebagai penghasil Ume adalah Prefektur Wakayama. Ume yang diproduksi di daerah ini bernama Kojiro dan Nanko. Wakayama terkenal akan produksi Ume (buahnya) karena perkebunan Ume di daerah ini sudah digalakkan semenjak era Edo, dimana Ando Naotsugu---yang waktu itu berkuasa di daerah yang dulu disebut Ki-i no Kuni---menganjurkan rakyatnya untuk menanam pohon Ume.
Yuushima Tenman-guu (Mamiya645 on velvia50)
 Ume dan Dewa Ilmu Pengetahuan
Di Jepang ungkapan shouchikubai  sering digunakan dalam acara yang berhubungan dengan kebahagiaan, misalnya dalam resepsi perkawinan. Sho adalah Matsu atau pohon pinus, Chiku adalah Take atau bambu dan Bai adalah Ume. Diantara ketiganya, Ume sebenarnya adalah yang paling disukai karena bunga Ume yang bentuknya mungil dan lucu---seperti yang sudah saya tulis sebelumnya---sehingga gambarnya sering digunakan untuk motif pada alat makan misalnya gelas dan piring. Karena alat makan digunakan hampir setiap hari, maka akibatnya "Ume" lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.
Bunga Ume juga banyak ditanam di pelataran Jinja  (Kuil) karena memang beberapa dari Ume ini mempunyai hubungan historis dan sedikit religius dengan kuil tersebut. Kuil yang mempunyai nama "Tenman-guu", misalnya Dazaifu Tenman-guu di Fukuoka, Kitano Tenman-guu di Kyoto dan Yuushima Tenman-guu di Tokyo memang mempunyai pohon Ume yang banyak, dan menjadikannya sebagai spot Ume yang terkenal.
Kuil2 Tenman-guu ini berhubungan dengan orang yang bernama Sugawara no Michizane, yang merupakan penasihat Tenno di era Heian (Tahun 800-an). Dia adalah seorang bangsawan yang bukan hanya memiliki otak yang cemerlang (pintar), namun mahir juga dalam bela diri (main pedang) dan juga ahli ilmu politik. Sugawara merupakan orang yang dijuluki Bunburyoudou,  yaitu orang yang bukan hanya mempunyai keahlian di bidang ilmu pengetahuan, namun juga mahir dalam bidang bela diri (pertahanan).
Kitano Tenman-guu, Kyoto 
Cemerlangnya otak Sugawara ditunjukkan di berbagai macam peristiwa, misalnya dia adalah orang termuda yang bisa lulus di sekolah pembinaan calon anggota pemerintahan. Juga dia bisa lulus ujian yang bernama houryakushiki  di usianya yang baru menginjak 26 tahun. Padahal selama kurang lebih 200 tahun, hanya ada sekitar 60 orang saja yang bisa lulus ujian ini. Sugawara juga bisa mengantongi gelar Monjouhakase,  yang merupakan gelar tertinggi di bidang pendidikan kala itu.
Hubungan antara Sugawara dengan Ume bisa kita lihat pada berbagai peristiwa. Misalnya dalam usia yang baru menginjak 5 tahun, dia dikatakan bisa mengarang satu Waka (puisi) yang menggunakan kata Ume. Wujud kecintaan Sugawara yang lain terhadap Ume adalah dengan banyaknya pohon Ume yang ditanam di pekarangan rumahnya. Terlebih lagi, lambang keluarga (kamon) Sugawara adalah juga bunga Ume.
Yoshino Baigo, Oume City
Sugawara yang dengan kemampuan bunburyoudou-nya membuat beberapa penguasa membenci dan kemudian menyingkirkannya dari pemerintahan. Sugawara meninggal dalam pengasingan diusia yang muda yaitu 59 tahun. Kemudian orang2 yang menyingkirkannya itu diberitakan mati secara misterius.
Oleh karena kematian orang2 yang menyingkirkan Sugawara itu aneh, kemudian mereka menganggap kematian itu akibat dari tulah atau kutukan dari Sugawara. Dan untuk menenangkan "arwah" Sugawara, kemudian mereka mendirikan Kuil yang menempatkan Sugawara sebagai "Dewa" Ilmu Pengetahuan. Kuil itu kemudian disebut Tenman-guu, dan saat ini kuil2 Tenman-guu banyak dikunjungi oleh pelajar maupun orang yang akan mengikuti ujian. Di kuil2 ini juga banyak dijual benda2 maupun alat tulis yang biasa digunakan atau dibawa sewaktu menjalani ujian (ujian sekolah atau ujian lain).
Orang2 tua juga berkunjung ke kuil ini selain untuk berdoa agar anaknya lulus ujian atau sekolah, mereka juga berharap agar anaknya selain bisa pintar, juga bisa unggul dalam bidang lain (dengan kata lain, agar mempunyai jiwa dan raga yang sehat).
Taman Ume di Jounanji, Kyoto
Spot Ume di Jepang
Di Jepang ada beberapa spot  yang terkenal dimana kita bisa melihat pohon Ume yang indah berwarna-warni. Selain spot di Kuil Tenman-guu---karena hubungannya dengan Sugawara yang telah saya tuliskan diatas---yang bisa kita temui di seluruh Jepang, ada beberapa tempat lain yang juga populer.
Misalnya kalau di Kanto kita bisa mengunjungi Yoshinobaigo di Oume atau Soga Bairin di Kanagawa, yang merupakan perkebunan Ume yang luas. Di daerah Mito kita bisa mengunjungi Kairaku-en, yang merupakan taman yang dipenuhi dengan Ume. Taman ini dibangun oleh keluarga Shogun Tokugawa yang bernama Tokugawa Nariaki. Sebagai catatan, taman ini termasuk 3 taman besar di Jepang selain Kourakuen di Okayama dan Kenrokuen di Kanazawa. 
Atau kalau pembaca sedang berada di Jepang, dan nggak mau repot2 keluar biaya untuk masuk taman yang berbayar sekadar melihat Ume, coba jalan2 di daerah sekitar tempat menginap. Karena tanaman Ume juga bisa ditemui di beberapa halaman rumah, taman terbuka yang gratis (baik kecil maupun besar) atau bahkan di pinggir jalan (sama seperti pohon Sakura).
Ume di Ikegami Honmonji
Bagaimana membedakan antara Ume, Momo dan Sakura
Cara paling mudah untuk membedakannya adalah bentuk bunganya. Ume mempunyai bentuk bunga yang bulat, Momo agak runcing sedangkan Sakura mempunyai bunga yang berbentuk hati (ada belahan di tengahnya). Berbeda dengan Sakura, bunga Ume (dan Momo) tumbuh langsung dibatang pohon dan tidak mempunyai tangkai bunga.
Perbedaan Momo dengan Ume adalah, Ume hanya mempunyai bunga tunggal, namum Momo umumnya mempunyai 2 bunga yang bertumpuk. Sehingga Momo tampak lebih mempunyai bunga dibandingkan dengan Ume. Sedangkan Sakura, bunganya tidak langsung di batang namun mempunyai tangkai bunga yang panjang dan bunganya juga bergerombol.
Untuk lebih mudahnya, sila bandingkan gambar di bawah ini untuk membedakan bunga Ume, Momo dan Sakura.
Diolah dari sumber : kiyotakakubo.hatenablog.com
Ume mempunyai sejarah lebih panjang dari Sakura dan merupakan bunga yang sudah dekat dengan masyarakat Jepang sejak dahulu. Sila menikmati Ume jika pembaca mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke Jepang. Dan semoga dengan tulisan ini pembaca bisa lebih menikmati Ume, dan yang terpenting juga bisa membedakan mana bunga Ume, Momo dan Sakura. Karena 3 bunga itu memang serupa, tapi tak sama.
Taman Ume di Shibakouen, dekat Tokyo Tower

2018年2月12日月曜日

Oleh-oleh dari Japan Camping Car Show 2018

Stan mobil rumah dari Jayco

Pernahkah pembaca membayangkan berendam air panas di dekat gunung tanpa susah pesan hotel atau akomodasi? Atau mengadakan upacara minum teh di pinggiran pantai tanpa perlu membangun dulu rumah dengan beralaskan tatami (lantai dari anyaman rumput kering igusa)? 
Ternyata semua bisa itu diwujudkan lho. Caranya adalah dengan RV (Recreational Van).
Tanggal 2-4 Februari yang lalu, di Makuhari Messe dilangsungkan pameran otomotif yang bernama "Japan Camping Car Show 2018." Camping Car ini adalah nama yang lebih umum dikenal di Jepang untuk RV. Saya berkesempatan untuk mengunjunginya di hari kedua pameran (tanggal 3 Februari). Pameran ini dikatakan merupakan pameran mobil RV terbesar di Asia.
Pasar RV di Jepang
Jepang memang tidak bisa dilupakan kalau kita berbicara mengenai industri otomotif. Nama-nama seperti Toyota, Honda, Suzuki, Nissan, Daihatsu, dan lainnya tentuya sudah kita kenal dengan baik. Merek-merek ini sekarang bisa ditemui di seluruh pelosok dunia. Pabriknya pun sudah banyak dibangun di luar Jepang, antara lain untuk efisiensi dan menghemat berbagai macam biaya produksi serta pemasarannya.
RV dengan interior yang apik
Walaupun industri otomotif Jepang telah berkembang cukup lama dan dikenal dunia, namun jumlah mobil tipe RV belum banyak jumlahnya di sini. Kelihatannya, orang Jepang belum begitu tertarik untuk memiliki mobil RV.
Menurut survei yang diadakan oleh asosiasi mobil RV Jepang, sampai dengan tahun lalu, jumlah RV "hanya" ada sekitar 100.400 mobil. Penduduk Jepang ada sekitar 126 juta jiwa. Jadi kalau jumlah RV itu kemudian kita bagi dengan populasi Jepang, maka kita bisa dapat angka sekitar 0.08 persen untuk kepemilikan RV di Jepang.
Angka persentase ini masih kecil bila kita bandingkan dengan Amerika. Di mana menurut survei yang dilakukan oleh Asosiasi Industri RV Amerika, tahun 2011 saja persentase kepemilikan RV adalah 8.5 persen.
Jepang juga belum jadi pasar yang menjanjikan bagi para pembuat RV di luar Jepang, seperti bisa kita lihat dari data yang dikeluarkan oleh International Trade Administration. Dari data tersebut, negara Asia yang masuk dalam target pemasaran RV adalah China, lalu Korea dan disusul oleh Thailand.
Jacuzzi berjalan bisa dipakai dimana saja
Ada beberapa alasan mengapa RV belum begitu populer di Jepang. Alasan utamanya adalah, karena fasilitas yang tersedia belum mencukupi misalnya jumlah tempat parkir khusus bagi RV (walaupun saat ini sudah bertambah banyak). Juga, walaupun ada parkir khusus, namun banyak yang belum menyediakan fasilitas penunjang yang lain, misalnya di tiap tempat parkir belum ada fasilitas untuk membuang air limbah, atau belum ada pasokan listrik maupun air/gas nya.
Jepang yang selain merupakan negara kepulauan, tidak sedikit juga daerah yang mempunyai gunung dan bukit. Akibatnya, ini menjadi kendala bagi pemilik RV, misalnya repot untuk memilih transportasi angkutan antar pulau, serta kenyamanan berkendara di jalan di pedesaan dengan banyaknya  topografi yang naik turun serta banyak jalan yang masih sempit/kecil.  Walaupun, ada banyak RV yang mungil dan dibuat sedemikian rupa untuk menciptakan kenyamanan bagi pengendara/penggunanya.
Toyota Prius yang dirombak untuk RV
Pameran Japan RV 2018
Ada sekitar 360 mobil yang dipamerkan dalam acara tahun ini. Sekitar 67 ribu total pengunjung tercatat hadir selama 3 hari pameran berlangsung. Tema yang diusung kali ini masih sama dengan tema tahun lalu, yaitu memberi "cerita" tambah kepada mobil, yang umumnya cuma sekedar alat transportasi. Harapannya agar mobil RV dapat menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari, terutama karena RV bisa mengantar kita ke tempat yang kita sukai, pada waktu dan dengan partner yang tentunya kita sukai juga. Hal ini kemudian juga bisa menjadi kenangan dan menambah koleksi "cerita" kita selama kita hidup.
RV dengan interior kayu
Pameran dibagi menjadi 4 zona, yaitu pertama zona pets yang memamerkan RV yang dilengkapi dengan fasilitas untuk membawa hewan kesayangan kita. Lalu ada zona penanggulangan bencana, di mana dipamerkan RV yang bisa digunakan pada saat terjadinya bencana alam. Bahkan ada juga RV yang dipergunakan sebagai bunker berjalan. Berikutnya ada zona rental, yaitu para penyedia jasa rental RV memamerkan produk yang bisa disewa. Terakhir zona modifikasi, yaitu kita bisa memesan (sekaligus membuat designnya) mulai dari memilih basis (mobil) yang diinginkan, kemudian bentuk luar sekaligus pemilihan interiornya sesuai dengan bujet yang kita punya.
RV yang bisa untuk bermain hewan peliharaan
Pada pameran kali ini, peserta pameran dibatasi hanya untuk anggota asosiasi RV Jepang (JRVA) saja. Hal ini menurut ketua JRVA, Furihata Takashi, adalah sebagai jaminan kepada konsumen (termasuk calon pembeli) RV Jepang bahwa kendaraan yang dipamerkan disitu sudah memenuhi standar keselamatan yang ketat sehingga layak pakai serta menjamin keselamatan dan kenyamanan penggunanya.
Peserta pameran antara lain pembuat RV ternama di Jepang seperti Nuts, Vantech, Koizumi, RV land. Ada pula RV buatan luar yang dipasarkan oleh agennya di Jepang, misalnya Airstream dan Jayco.
RV dengan atap yang bisa dipanjangkan

Ada dua hal yang menarik untuk diamati dalam pameran RV tahun ini. Pertama, ada produsen RV yang membuat interiornya seperti rumah Jepang tradisional, dengan tatami, kotatsu (meja) dan juga perlengkapan lain. Bahkan juga lengkap dengan perabotan seperti tana (lemari) dan shouji (jendela dari kayu dengan dilapis kertas). Perkiraan saya, karena selain pengguna RV muda yang meningkat, produsen RV juga mengincar pasar untuk pengguna yang akan dan sudah memasuki masa pensiun. 
Biasanya, pensiunan akan menerima sejumlah uang yang cukup besar (tentunya besarannya juga tergantung pada jangka waktu seseorang bekerja di tempat yang sama tanpa berpindah). Produsen RV mengharapkan dengan desain interior Jepang, maka setelah pensiun, dana yang diperoleh pensiunan itu bisa dialokasikan untuk membeli RV juga. Karena memang setelah pensiun, orang Jepang lebih suka menghabiskan waktu untuk jalan-jalan (karena selama bekerja mereka tidak bisa/tidak mungkin untuk cuti panjang) dan terutama juga kaum pensiunan (baca : orang berusia 65 ke atas) lebih suka akan suasana rumah Jepang.
Mobil RV dengan interior Jepang plus tatami
Yang kedua adalah, maraknya industri Rental RV di Jepang. Pada bulan2 sibuk (peak season), jumlah akomodasi yang tersedia di suatu tempat wisata tidak bisa mencukupi permintaan. Apalagi akhir-akhir ini jumlah turis yang berkunjung ke Jepang mengalami peningkatan. Saya pun, jika hari libur pergi ke tempat2 yang ramai, pasti ketemu rombongan yang berbahasa Indonesia dengan membawa barang2 besar dan banyak.
Bunker Berjalan
Para pelancong dari mancanegara ini terutama menyukai akomodasi yang mudah dan juga murah. Nah, dengan alasan ini maka para penyedia jasa rental mobil, saat ini juga mengembangkan usahanya untuk membuka juga rental RV. Dengan RV maka para pelancong bisa pergi ke tempat wisata tanpa harus repot memesan hotel/losmen. Mereka juga bisa menikmati pemandangan alam selama perjalanan dan tidak terikat oleh jadwal bus atau kereta api.
Masa depan RV
Zaman dahulu, orang berpindah-pindah untuk menyambung hidup. Misalnya mencari tempat baru untuk bercocok tanam, atau mengikuti pergerakan hewan buruan untuk memudahkan mereka berburu.
RV desain dari Airstream 
Penggunaan RV di zaman sekarang mungkin mirip dengan kehidupan nomad yang sudah dilakukan nenek moyang kita beribu tahun yang lampau. Di Jepang, pengguna RV makin meningkat dari tahun ke tahun. Tahun lalu saja, nilai penjualan RV di Jepang mencapai 36.5 milyar yen. Ini merupakan angka penjualan yang terbesar yang belum pernah terjadi di tahun sebelumnya.
Generasi muda Jepang juga banyak yang menyukai RV, karena selain harga sewa apartemen (apalagi untuk membeli rumah petak) yang lumayan mahal, dengan RV mereka juga bisa berpindah ke tempat yang mereka sukai. Apalagi pekerjaan sekarang banyak yang tidak menuntut kehadiran pegawai di kantor, terutama pekerjaan yang hanya membutuhkan komputer dan jaringan internet. Sebagai sambilan, mereka juga bisa upload kegiatan mereka sehari2 di blog, atau sharing foto2 di medsos yang diambil dari tempat2 yang mereka kunjungi dengan RV nya.
Kecil tapi terlihat luas
Bagaimana dengan Indonesia? Apakah dengan makin susahnya mendapatkan tanah kosong untuk membuat rumah atau dengan melejitnya harga tanah di kota besar, maka banyak juga masyarakat yang berminat untuk mempunyai RV dan memanfaatkannya sebagai "ganti" dari rumah? 
Agaknya masih sulit karena selain fasilitas penunjang (infrastruktur) yang belum tersedia, harga RV sekarang masih terbilang "mahal" bila dibandingkan dengan harga mobil biasa. Apalagi, sifat "pamer" yang masih dimiliki (mungkin sebagian kecil) orang, sehingga kalau membeli RV kayaknya kurang bergengsi dibanding dengan membeli mobil biasa. 
Kecuali mungkin kalau ada pengusaha yang berani menjual RV dengan DP 0%, plus instagrammable, maka bisa jadi dagangannya akan laris manis.  
Kita tunggu saja.


Venue pameran

2018年1月6日土曜日

Are You Happy ?

Terbang mencari kebahagiaan (Foto Migrasi Burung di Nagano)
"Selamat Tahun Baru. Saya bergembira karena bisa merayakan Tahun Baru bersamaanda sekalian. Harapan saya, semoga di tahun ini, ada lebih banyak orang bisahidup tenang dengan hati yang tentram. Memasuki awal tahun ini, saya berdoa untuk kebahagiaan kita dan bangsa2 di dunia."
Itulah kata2 dari Kaisar Jepang dalam acara tahunan setiap awal tahun (tanggal 2 Januari) dari balkoni di chouwaden, di dalam komplek kediaman Kaisar di Tokyo, menyambut masyarakat yang datang ke sana.
Seorang Kaisar sampai berdoa demi kebahagiaan rakyat dan bangsa2. Lalu, kita pun tentunya mempunyai pertanyaan, "Apakah bahagia itu ? Bagaimana kita bisa (merasa) bahagia ?" 
Tiap orang tentu mempunyai ukuran dan parameter sendiri tentang apa yang bisa membuat dirinya menjadi (atau setidaknya merasa) bahagia. Tentunya, ukuran bahagia dari seseorang juga relatif, tidak dapat langsung diterapkan pada orang lain. Artinya, kalau satu orang itu misalnya merasa bahagia ketika dia makan enak (enak menurut definisinya sendiri), belum tentu orang lain bisa merasa bahagia jika dia makan makanan yang sama (disamping rasa "enak" sendiri juga relatif).
Bahagianya anak-anak
Menurut hasil survei yang dirilis tahun 2015 oleh OECD sebagai hasil pengumpulan data dari anak2 usia 15 tahun dalam program yang bernama PISA, dari 47 negara yang menjadi objek pengumpulan data, Republik Dominika dan Meksiko berada urutan paling atas untuk tingkat rasa kebahagiaan yang dirasakan. Hasil ini mengungguli negara2 maju seperti Finlandia, Perancis, Amerika dan lainnya. Jepang sendiri ada pada urutan terburuk 5 besar, sedikit lebih baik bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Korea, Taiwan maupun Hongkong, yang berada di urutan di bawahnya.
Apa yang menjadi alasan anak2 itu merasa bahagia di negara2 yang kita tahu angka kemiskinan dan juga kejahatannya masih tinggi tersebut?
Ternyata, alasannya sederhana saja, seperti juga kita tahu, kebanyakan dari anak2 masih mempunyai pola pikiran yang sederhana. Mereka merasa bahagia karena bisa bersama orang2 yang mereka sayangi dan orang yang bisa mereka percaya, yaitu orang tua maupun juga teman2 di sekelilingnya. 
Hal lain yang menunjang rasa bahagia anak2 itu adalah, tingkah laku dari para orang tua mereka yang selalu menanamkan sikap kepada anak2nya, bahwa kalau ada kesulitan dalam hidup, hadapilah dengan senyum. Kita juga tahu bahwa masyarakat di dua negara tersebut selalu ceria dan sering tertawa lebar (dan sering pula menari dalam tiap kesempatan).
Kebahagiaan memang tidak dapat diukur dengan berapa banyak barang/benda yang kita miliki (yang sifatnya jasmani atau materi), namun ukurannya adalah bagaimana kita bisa merasa puas dan gembira serta bahagia secara psikis (spiritual).
Orang memang selalu mencari dan mendefinisikan apa itu rasa bahagia, terutama ketika kemudian orang tahu bahwa materi melulu tidak membuat orang bisa bahagia. Pencarian definisi dan tentunya menemukan rasa bahagia itu kian giat dilakukan beberapa tahun terakhir, yang paling segar dalam ingatan kita terutama setelah ketika krisis moneter yang melanda dunia akibat bangkrutnya Lehman Brothers Holdings, yang peristiwanya kita kenal dengan istilah Lehman Shock di tahun 2008 yang lalu. Kita bisa belajar dari peristiwa ini bahwa "materi" itu bisa hilang atau lenyap sewaktu-waktu, dan terutama segala kepuasan yang berasal dari "materi" tidaklah kekal.
Pencarian terkadang adalah proses panjang yang berliku (Foto Oze National Park di Musim gugur)
GDP bukan segala-galanya
Sebuah survei tentang perasaan "bahagia" juga dilakukan oleh perusahaan research WIN Gallup di tahun 2016, dimana hasilnya menempatkan negara Fiji sebagai negara yang penduduknya mepunyai tingkat perasaan bahagia terbanyak di dunia. Ssttt, di hasil survei yang sama, ternyata Indonesia menempati urutan 5 besar lho. 
Sayangnya, saya tidak berhasil menemukan di laman mereka, bagaimana cara mereka atau apa yang ditanyakan (kriteria "bahagia" nya apa) dalam survei.
Namun yang pasti, GDP sebagai ukuran kemakmuran suatu negara, tidak berbanding lurus dengan rasa "bahagia" yang bisa dirasakan oleh penduduk negara tersebut, setidaknya dari data hasil survei diatas. Negara2 seperti Amerika, dan negara maju yang lain di Eropa termasuk Jepang yang mempunyai GDP tinggi, hanya bertengger di tengah2 dalam hasil survei dari WIN Gallup, "dikalahkan" oleh negara2 berkembang.
Tapi, ada berita menarik dari Nikkei di akhir tahun lalu yang menyebutkan bahwa di tahun 2050 nanti, GDP Indonesia akan naik pesat dan menduduki peringkat 4 dunia melebihi Jepang ! 
Kalau itu terjadi, lalu bagaimana hasil dari WIN Gallup di tahun tersebut (jika survei diadakan lagi) nantinya ? Akankah rasa "kebahagiaan" orang akan berkurang dan peringkat Indonesia akan turun di hasil survei itu nantinya ? Kita tunggu saja.
Perubahan pola hidup masyarakat
Perasaan bahagia (shiawase) di Jepang, juga mengalami perubahan secara signifikan. Di akhir era Showa dan awal era Heisei, biasanya orang Jepang senang untuk berkumpul dan bergembira dengan kelompok orang dalam jumlah besar.
Seperti misalnya pergi ke karaoke bersama, atau makan bersama dengan lebih dari 10 orang. Di akhir era Heisei (catatan : April 2019 Kaisar Jepang yang sekarang akan lengser dan nama Heisei juga akan berganti), orang lebih senang dan merasa bahagia kalau sendirian, misalnya bertamasya sendirian, karaoke sendirian dan makan sendirian. 
Hal ini tentunya juga diantisipasi oleh pelaku bisnis, sehingga saat ini di situs2 pemesanan tamasya (akomodasi), penyedia jasa meng-iklankan besar2-an dan terkadang memberikan korting untuk orang yang akan berpergian sendiri. Juga di tempat2 karaoke, bahkan di tempat2 makan yang biasanya orang makan beramai2 seperti menikmati shabu2 atau yakiniku, sekarang tidak jarang restoran menyediakan kursi untuk orang yang datang sendirian.
"Ohitorisama" adalah istilah bahasa Jepang bagi orang yang melakukan segala sesuatunya sendiri (an), misalnya pergi ke restoran, tempat hiburan, dll. Istilah ini pernah dipilih sebagai salah satu kandidat istilah yang populer di Jepang beberapa tahun yang lalu. Pilihan kenyamanan atau merasa lebih "bahagia" jika sendiri, juga bisa dilihat dari angka tanshinsetai (orang yang memilih untuk hidup sendirian, tidak kawin selamanya) yang meningkat dari tahun ke tahun.
Teknologi yang berkembang pesat saat ini juga menjadi salah satu penyebab (atau berpengaruh pada) berubahnya pola hidup masyarakat. Misalnya, dengan tersedianya jaringan komunikasi (data) yang cepat dan merata, maka orang sudah tidak perlu lagi pergi jauh2 untuk misalnya belanja bersama teman. Cukup dengan beberapa klik dengan komputer atau gawai, mereka sekarang sudah bisa berbelanja dengan mudah dan praktis, sendiri (an).
Para penyedia jasa hiburan seperti karaoke dan film sekarang juga bisa menyediakan jasa hiburan melalui jaringan, sehingga orang tidak perlu lagi susah2 keluar rumah (plus keluar biaya untuk transportasi) untuk menikmatinya. Para penyedia jasa ini sekarang menyediakan layanannya melalui internet dengan biaya (bulanan) yang murah, sehingga lagi2 orang lebih cenderung untuk menikmatinya sendiri (an).
Smartphone yang merupakan salah satu produk teknologi, juga menjadi salah satu sebab orang lebih sering merasa nyaman dan "bahagia" sendirian. Bahkan saat bertemu dengan teman atau kerabat, orang lebih keranjingan (asyik) memainkan smartphone, daripada mencoba berkomunikasi dengan orang2 yang secara fisik nyata dan berada di sekitarnya. Lalu, orang juga lebih condong untuk menonjolkan dirinya sendiri, misalnya dengan swafoto (selfie). 
Atau, bisa kita lihat di sekeliling sewaktu kita pergi ke warung makan (restoran) bahwa mereka lebih sibuk dan konsentrasi untuk memfoto makanan supaya bisa di posting di sosial media dan mendapat "like" yang banyak untuk kepuasan dirinya sendiri, ketimbang menikmati makanannya sambil ngobrol dengan teman makan.
Sendirian kadang mengasyikkan (Foto orang bermain kayak di Danau Okutama)
Temukan kebahagiaan anda sendiri
Jaman sekarang, dengan semakin majunya teknologi, maka orang akan lebih sulit untuk menjadi "dirinya" sendiri. Jika sedang ramai2 nya orang mendengarkan suatu jenis lagu atau musik, maka jika tidak ikut2 an maka dia akan merasa terkucil. Jika tidak memakai baju yang sedang tren atau tidak menggunakan gawai terbaru, maka dia akan merasa minder. Jika postingan di instagram atau facebook sedikit yang melihat atau memberi "jempol", maka rasa gelisah dan rasa kesepian akan melanda.
Tidak semua yang berbau "sendiri", itu jelek atau negatif. Salah satu yang positif adalah, menjadi "diri sendiri", walaupun untuk bisa begitu diperlukan keberanian (yang tidak mudah bagi sebagian orang). 
Bahkan, terkadang memang diperlukan suatu waktu bagi kita untuk menyendiri dan berdialog dengan diri sendiri. Rasa kesepian yang melanda seseorang, salahsatu sebabnya adalah orang tidak bisa berdialog dengan diri sendiri, menurut Hannah Arendt, seorang filsuf Jerman. Olehkarena itu kita kadang merasa kesepian walaupun berada di keramaian. Rasa sepi ini, menurut Hannah, adalah karena kita tidak bisa (tidak biasa) berdialog dengan diri sendiri, bukan karena kita secara fisik sendiri (an).
Rasa bahagia juga jangan dibandingkan atau meniru dengan apa yang menjadi ukuran kebahagiaan orang lain. Sebab seperti yang saya sudah tulis diawal, standar orang pasti berbeda-beda untuk ukuran apa yang dia rasakan sebagai suatu kebahagiaan.
Maka, temukanlah dan carilah sesuatu yang menjadi sumber rasa bahagia pembaca sendiri, bukan hasil contekan maupun hasil ikutan tren. Yang terpenting, kalau kita bahagia maka kemungkinan kebahagiaan kita bisa menular kepada orang lain. Namun ada catatan kecil, kita harus menjadi (atau merasakan jadi) orang yang bahagia dahulu, sebelum kita bisa  membuat bahagia orang lain.
Mulailah pencarian itu sekarang, karena belum terlambat. Sebab, kita baru saja membuka lembaran baru tahun 2018. 
Selamat Tahun Baru 2018 dan selamat mencari.....

2017年11月27日月曜日

Keindahan Momiji di Musim Gugur dan "Rasa" Orang Jepang

Musim Gugur di Kuil Kuhonbutsu Joushinji
Momiji adalah kata yang sering terucap di musim gugur. Kata ini adalah untuk menggambarkan daun-daun yang berwarna-warni terutama warna merah dan kuning. Kata momiji ini sebenarnya berasal dari kata momiizu (memeras,melumat), yang merupakan bagian dari salah satu proses untuk membuat warna dengan cara memeras bunga Benibana (Carthamus tinctorius). Benibana yang diperas/dilumat di air dingin dengan pH normal menghasilkan warna kuning, dan jika diperas di air dengan pH tinggi maka akan menghasilkan warna merah.
Kata momiizu ini, seiring dengan berjalannya waktu, berubah menjadi momiji. Seperti kita tahu, warna momiji memang sebagian besar adalah merah dan kuning. Lalu ada istilah momijigari, yang berarti pergi ke suatu tempat (misalnya ke gunung atau taman) untuk melihat dan menikmati momiji.
Kuil Shoutengu Saikouji di Mino, Oosaka
Negara dengan 4 musim
Jepang adalah negara yang mempunyai 4 musim. Masing-masing musim sangat unik dan punya ciri khas tersendiri.
Musim semi (haru) adalah musim dimulainya kehidupan baru setelah musim dingin yang panjang. Mulai tumbuhnya dedaunan yang berwarna hijau, dan bermekarannya bunga-bunga melambangkan dimulainya kehidupan itu sendiri. Kegembiraan adalah lambang dari musim semi, dimana masyarakat berbondong-bondong pergi untuk melihat keindahan bunga, bergembira dan bersuka-ria sambil makan dan minum. Kebiasaan ini disebut ohanami, yang umumnya digunakan sebagai istilah untuk melihat dan menikmati bunga Sakura, yang merupakan simbol musim semi.
Musim panas (natsu) dengan suhu udara yang tiggi dan lembab serta banyaknya aktivitas yang terjadi di masyarakat misalnya dengan banyaknya festival atau perayaan yang dilaksanakan di kuil ataupun di tempat umum, melambangkan kekuatan serta energi yang dimensinya agak lain dari musim semi.
Musim dingin (fuyu) dengan hamparan salju putihnya yang luas membentang sejauh mata memandang, melambangkan kesunyian dan kesendirian.
Lalu, bagaimana dengan musim gugur (aki) ?
Pohon Ichou di Joushinji Kouin
Musim gugur dan perasaan orang Jepang
Berbeda dengan musim yang lain, keindahan musim gugur mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan yang utama adalah ditandai dengan bermunculannya momiji, yang dimulai dari utara di Pulau Hokkaido, karena pergerakan suhu udara yang dingin dimulai dari daerah ini. Kemudian momiji sedikit demi sedikit bergeser ke arah selatan, dimulai dari Tohoku, lalu ke Kanto, Chubu dan seterusnya ke arah Kyushuu.
Disatu sisi, momiji sangat indah dan keindahannya bisa membuat kita berdecak kagum. Namun di lain sisi, sewaktu kita melihat momiji, kita sekaligus diingatkan bahwa musim dingin yang sepi dan panjang akan segera tiba.
Keindahan musim gugur memang sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata. Warna-warni momiji memang terlihat sangat memikat. Warna dari momiji bisa seperti itu karena semua faktor pendukungnya (misalnya kontras suhu udara di siang dan malam hari) terpenuhi.
Momiji berguguran di Kolam ikan di Tonogayato Park
Daun-daun pepohonan yang berwarna merah, kuning, dan warna lainnya bergetar diterpa tiupan angin. Daun yang berwarna-warni ini bak origami, dimana ada daun yang kuat bertahan di rantingnya, namun ada juga daun yang tidak kuat lalu jatuh perlahan ke pelukan bumi bersama angin. Dimusim ini, seperti kain nishiki tanmono yang indah, dunia seperti dilukis dengan alam sebagai kuas dan sekaligus kanvas nya.
Namun, bagi orang Jepang, bukan warna-warni itu yang penting. 
Ungkapan perasaan orang Jepang dengan kebiasaan dan budaya mereka untuk menikmati musim gugur dengan mata-lah yang terpenting. Kebiasaan melihat dan menikmati momiji mungkin menjadi salah satu sifat khas dari orang Jepang.
Orang Jepang memang dari jaman dahulu kala suka akan musim gugur, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Misalnya saja, suara angin yang menerpa dedaunan, atau sinar matahari yang bersinar dengan sudut yang lebih kecil/rendah (dibandingkan dengan musim panas) yang menyebabkan bayangan benda menjadi lebih panjang sekaligus sinar mataharinya terasa hangat namun tidak begitu menyengat kulit.
Masyarakat berbondong-bondong melihat momiji di Toufukuji, Kyoto 
Kesukaan orang Jepang akan musim gugur, salah satunya sebabnya adalah rasa tenang/aman yang dapat mereka rasakan karena musim panas yang "menyiksa" dengan suhu dan kelembapan tingginya sudah lewat. Namun, ada juga sedikit perasaan "nostalgia" yang mereka rasakan. Karena mereka juga tahu, musim dingin yang sepi dan panjang akan segera tiba. Perasaan itu sudah bisa dirasakan di dalam memori mereka setiap tahun.
Itulah sebabnya sebelum memasuki musim dingin, mereka menenangkan perasaanya dengan menikmati keindahan momiji, yang hanya bisa mereka lalukan di musim gugur.
Musim gugur di kuil Takahata Fudou
Musim gugur dan seni serta budaya
Musim gugur di Jepang disebut juga sebagai musim seni serta budaya.
Kita bisa dengan mudah menemukan pertunjukan berbagai macam kesenian, mulai dari yang tradisional seperti pertunjukan Noh, Kabuki, musik gagaku , maupun seni modern seperti konser musik, mulai dari musik klasik, pop dan berbagai genre yang lain.
Berbagai museum seni maupun galeri, baik yang besar maupun kecil, juga berlomba-lomba untuk membuka pameran dengan menampilkan berbagai macam karya seni dari berbagai medium, mulai dari lukisan, foto dan bentuk seni lain yang merupakan hasil karya dari seniman lokal maupun internasional.
Musim gugur di Kuil Eigenji
Kita juga bisa menemukan berbagai ungkapan dalam bahasa Jepang untuk menggambarkan musim gugur.
Misalnya ungkapan akakuchiba, yang melambangkan warna orange namun dengan nuansa merah tua yang pekat. Ungkapan ini sudah digunakan sejak jaman Heian (sekitar tahun 700 sampai 1000 masehi).
Lalu ada ungkapan ukon-iro, yang melambangkan warna kuning keemasan. Warna ini sangat disukai di jaman Edo (sekitar tahun 1600 sampai 1800). Warna ini juga melambangkan keberuntungan,sehingga banyak digunakan sebagai warna untuk dompet dan furoshiki (kain panjang untuk membungkus barang).
Daun berguguran di dekat rumah
Upacara minum teh di luar (disebut nodate) juga bisa ditemui di taman-taman dalam kota Tokyo seperti di Hamarikyuu atau di Koishikawa Kourakuen (juga di berbagai tempat di seluruh Jepang). Menikmati teh diluar menyatu dengan alam memang mempunyai sensasi tersendiri. Saya pernah ikut serta beberapa kali dalam acara ini. Kehangatan dan bau harum dari daun teh selain membuat tubuh terasa hangat, kita juga bisa merasa agak rileks. Hal ini sangat membantu karena suhu udara di musim gugur terasa dingin dibadan (khususnya untuk orang kelahiran daerah tropis seperti saya). Disamping itu, sambil menikmati teh, mata kita juga terhibur karena bisa menikmati keindahan dari momiji. 
Siapa saja bisa ikut serta acara ini dengan membayar sekitar 100 sampai 300 yen. Mungkin pembaca juga bisa mencobanya kalau kebetulan sedang berada di Jepang waktu musim gugur.
Musim gugur di Oume Keikoku
Musim gugur juga digunakan sebagai komponen dalam penyusunan kata-kata di waka(puisi klasik Jepang). Di dalam waka, mereka menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan musim gugur, beberapa diantaranya seperti kata momiji, tsuki(bulan), urokogumo(awan berbentuk sisik), shika (kijang, yang musim kawinnya adalah di musim gugur).
Pohon Ichou di Kuil Sanmiya
Musim gugur juga menjadi inspirasi bagi penyair seperti  Yosano Akiko, Masaoka Shiki, Higuchi Ichiyou, Ishikawa Takuboku dan lainnya.  Mereka menulis puisi yang isinya atau inspirasinya datang/berhubungan dengan musim gugur. Salah satu bait puisi yang saya suka dan berhubungan dengan musim gugur adalah puisi karangan Yosano Akiko, yang berbunyi "wakaki mi no koi suru yauni aki no kumo ugokimo tomazu honoka naredomo". Yang intinya melukiskan orang muda yang jatuh cinta, adalah seperti awan di musim gugur. 
Ada juga ungkapan bahasa Jepang  "onna gokoro to, aki no sora" yang mempunyai arti, hati wanita itu seperti langit musim gugur. Sebagai catatan, pemahaman orang Jepang adalah, langit musim gugur itu tidak bisa diduga karena gampang berubah. Bagaimana pembaca ? Benar apa tidak nih ?
Musim gugur di Kayano Kougen (Foto medium format /velvia)
Penutup
Di Jepang, ada lagu yang populer dengan judul "lagu 4 musim", yang isinya menceritakan bagaimana sifat-sifat orang yang suka masing-masing musim ditambah dengan perasaan atau relasi hubungannya dengan orang lain. 
Di musim semi dikatakan seperti teman, musim panas seperti ayah, musim dingin seperti ibu. 
Nah, uniknya, musim gugur dikatakan seperti "pacar !"
Berbeda dengan musim lain yang sebagian besar kita paham (teman, ayah, ibu), pacar, adalah sesuatu yang mungkin sulit untuk kita pahami (entah kalau pacarannya sudah lama..hehehe).
Di lagu itu dikatakan, orang yang suka akan musim gugur mempunyai perasaan yang dalam (suka memikirkan secara detail segala sesuatu). Dan orang yang suka musim gugur kata-katanya puitis, sarat dengan kata cinta seperti puisi karangan Heine (penyair kelahiran Jerman).
Bagaimana dengan pembaca ? Musim apa yang pembaca suka ?
Daun berguguran di taman dekat rumah